Keseriusan BJ Habibie Tangani Kasus Pelanggaran HAM di Aceh

Kompas.com - 14/09/2019, 12:28 WIB
FOTO DOKUMENTASI. Presiden ketiga RI BJ Habibie melambaikan tangan saat akan menghadiri Sidang Tahunan MPR Tahun 2015 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2015). Sidang Tahunan MPR diselenggarakan dengan agenda penyampaian pidato Presiden Joko Widodo mengenai laporan kinerja lembaga-lembaga negara. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/ama. ANTARA FOTO/Sigid KurniawanFOTO DOKUMENTASI. Presiden ketiga RI BJ Habibie melambaikan tangan saat akan menghadiri Sidang Tahunan MPR Tahun 2015 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2015). Sidang Tahunan MPR diselenggarakan dengan agenda penyampaian pidato Presiden Joko Widodo mengenai laporan kinerja lembaga-lembaga negara. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/ama.

ACEH UTARA, KOMPAS.com – Almarhum Presiden ketiga BJ Habibie memiliki perhatian khusus untuk masyarakat Aceh.

Mantan Wakil Ketua TPF Aceh Utara, Yusuf Ismail Pase mengatakan, Habibie serius menangani kasus pelanggaran hak asasi manusia selama operasi daerah militer (DOM) di Aceh.

“Habibie itu bapak hak azasi manusia di Aceh. Beliau membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) pusat dan daerah untuk kasus pelanggaran hak asasi manusia selama DOM di Aceh,” kata Yusuf Pase, Sabtu (14/9/2019).

Baca juga: Kenang BJ Habibie dengan Foto Selfie di Belakang Patung

Saat itu, sebagai presiden, Habibie sangat konsern menangani masalah HAM. Habibie pula yang mengangkat ribuan korban DOM Aceh menjadi pegawai negeri.

“Selain itu, Habibie memerintahkan Kemenkum HAM untuk membongkar kuburan massal korban DOM di Desa Buket Sentang, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Beliau sangat serius soal pelanggaran HAM. Maka terungkaplah pelanggaran HAM selama operasi DOM di Aceh,” katanya.

Sekolahkan Yusuf

M Yusuf Pase mengatakan, Habibie juga pernah menyekolahkan seorang anak korban DOM, M Yusuf, asal Desa Trieng Pantang, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.

M Yusuf sebelumnya sempat menceritakan pembunuhan terhadap ayahnya.

Cerita itu disampaikan Yusuf di depan TPF di gedung DPRD Aceh Utara medio 1998.

“Lalu TPF pusat melaporkan kisah pilu itu pada Pak Habibie. Beliau langsung memerintahkan jemput M Yusuf untuk disekolahkan. Beliau tanggung biaya sekolahnya dari umur 12 tahun sampai selesai S1,” ujar Yusuf Pase.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X