Fakta Keracunan Massal di Sukabumi, 2 Meninggal hingga Dinyatakan KLB

Kompas.com - 13/09/2019, 09:28 WIB
Seorang korban keracunan makanan massal di Sukabumi dievakuasi ke mobil ambulans untuk dirujuk ke RSUD Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (11/9/2019) KOMPAS.com/BUDIYANTOSeorang korban keracunan makanan massal di Sukabumi dievakuasi ke mobil ambulans untuk dirujuk ke RSUD Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (11/9/2019)

KOMPAS.com - Dua orang warga Kampung Pangkalan, Desa Bojonggaling, Kecamatan Bantargadung, diduga meninggal dunia karena keracunan makanan di acara selamatan salah satu warga. 

Kedua korban adalah seorang anak laki-laki berinisia R (9) dan seorang ibu berusia 37 tahun. Menurut data Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi, hingga Rabu (11/9/2019) pukul 21.00 WIB, jumlah pasien yang diduga keracunan berjumlah 136 orang.

Di antaranya 22 pasien dirujuk ke RSUD Palabuhanratu dan 1 pasien ke RSUD Sekarwangi Cibadak.

Sebelumnya, warga mengeluhkan gejala yang sama, seperti mual, muntah, pusing hingga buang air besar usai mengonsumsi makanan selamatan 100 hari meninggalnya salah satu warga.

Baca fakta lengkapnya berikut ini:

1. Jumlah korban 136 orang, dua meninggal dunia

Dua korban keracunan massal di dalam mobil ambulans akan dirujuk ke RSUD Sekarwangi Cibadak dari Puskesmas Bantargadung, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (12/9/2019).KOMPAS.com/BUDIYANTO Dua korban keracunan massal di dalam mobil ambulans akan dirujuk ke RSUD Sekarwangi Cibadak dari Puskesmas Bantargadung, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (12/9/2019).
Hingga Rabu (11/9/2019) malam, korban keracunan makanan massal sudah mencapai 136 orang.

"Seluruh pasien sudah ditangani di Puskesmas Bantargadung. Untuk yang bisa ditangani di Puskesmas ditangani secara intensif di sini, bagi yang tidak bisa ditangani dirujuk ke rumah sakit," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Damayanti Pramasari.

Lalu, pada hari Kamis (12/9/2019), dua orang dinyatakan meninggal dunia.

"Iya, benar satu lagi meninggal seorang ibu berusia 37 tahun di RSUD Sekarwangi," kata Camat Bantargadung, Munawar, kepada wartawan di Puskesmas Bantargadung, Kamis siang.

Sebelumnya, pada Kamis dini hari, satu anak laki-laki R (9) meninggal dunia di RSUD Palabuhanratu.

Baca juga: Korban Meninggal Keracunan Makanan di Sukabumi Bertambah Jadi 2 Orang

2. Sebanyak 23 orang kritis

Perawat sedang menangani pasien di Puskesmas Bantargadung, Sukabumi,Jawa Barat, Rabu (11/9/2019).KOMPAS.COM/BUDIYANTO Perawat sedang menangani pasien di Puskesmas Bantargadung, Sukabumi,Jawa Barat, Rabu (11/9/2019).

Menurut Damayanti, ada sebanyak 23 pasien terpaksa dirujuk ke rumah sakit lantaran kondisinya kritis.

"Pasien yang dirujuk ini kondisinya sudah lemah, karena mengalami mual, muntah, pusing hingga diare dan mengalami dehidrasi," katanya.

Lalu untuk pasien lainnya masih menjalani observasi di Puskesmas Bantargadung ada 17 pasien.

"Sedangkan pasien-pasien yang lainnya sudah pulih dan diperbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing," sambung dokter alumni Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta angkatan 1991.

Baca juga: Jumlah Korban Keracunan Makanan Massal di Sukabumi Menjadi 136 Orang, 23 Kritis

3. Diduga keracunan makanan selamatan salah satu warga

Ilustrasi keracunan.Shutterstock Ilustrasi keracunan.

Damayanti menjelaskan, dalam kasus dugaan keracunan makanan ini pihaknya sudah melakukan investigasi di lokasi.

Pihaknya mengambil sampel berbagai jenis makanan, seperti nasi uduk, rendang telur dan air di lokasi. Sampel tersebut sudah dikirim ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Barat di Bandung.

"Hasil uji laboratorium kami ingin secepatnya bisa selesai. Bisa dua hingga tiga hari," kata Damayanti.

Seperti diketahui, puluhan warga yang diduga mengalami keracunan ini mengeluhkan gejala sama, seperti mual, muntah, pusing hingga buang air besar. Menurutnya, pasien mulai berdatangan sejak Selasa (10/9/2019) pukul 23:30 WIB.

Baca juga: Satu Anak Korban Keracunan Makanan di Sukabumi Meninggal Dunia

4. Polisi tunggu hasil labobarotium untuk ungkap kasus keracunan

Ilustrasi PolisiThinkstock/Antoni Halim Ilustrasi Polisi

Pihak kepolisian masih menunggu hasil laboratorium kesehatan Kabupaten Dharmasraya guna mengungkap penyebab meninggalnya dua warga dan 39 orang lainnya akibat keracunan.

"Saat ini kami masih menunggu hasil Labkesda Dharmasraya untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya 2 warga dan 39 orang lainnya dirawat," kata Kapolres Dharmasraya AKBP Imran Amir yang dihubungi Kompas.com, Minggu (11/8/2019).

Seperti diketahui, keracunan massal terjadi usai warga menyantap lontong sayur di acara wirid yasinan di Nagari Siguntur, Dharmasraya, Sumatera Barat, Sabtu (10/8/2019).

Baca juga: Polisi Tunggu Hasil Lab untuk Ungkap Kasus Keracunan Massal akibat Lontong Sayur di Padang

5. Pemda tetapkan KLB da tanggung biaya perawatan

Ilustrasi rumah sakitSHUTTERSTOCK Ilustrasi rumah sakit

Kasus keracunan makanan secara massal membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 tahun 2013 tentang KLB Keracunan Pangan.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi Harun Al Rasyid menegaskan, penetapan KLB tersebut kepada wartawan di Puskesmas Bantargadung, Kamis malam.

"Dalam peraturan KLB keracunan makanan atau pangan, korban berjumlah dua sudah dinyatakan KLB," ungkap Harun.

Sementara itu, biaya perawatan para pasien korban keracunan akan ditanggung oleh pemerintah daerah.

Baca juga: Keracunan Makanan Massal di Sukabumi Ditetapkan KLB, Biaya Ditanggung Pemda

Sumber: KOMPAS.com (Perdana Putra, Budiyanto)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X