Tradisi Nganggung Sambut Tahun Baru Islam, Makan Bersama Pakai Dulang

Kompas.com - 01/09/2019, 10:03 WIB
Masyarakat menggelar tradisi Nganggung 1 Muharam di Pangkalarang, Pangkal Pinang, Minggu (1/9/2019). KOMPAS.com/HERU DAHNURMasyarakat menggelar tradisi Nganggung 1 Muharam di Pangkalarang, Pangkal Pinang, Minggu (1/9/2019).

PANGKAL PINANG, KOMPAS.com - Nganggung atau makan bersama menggunakan dulang menjadi tradisi yang digelar di berbagai tempat di Kepulauan Bangka Belitung dalam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam.

Salah satunya Nganggung digelar di Masjid Baitul Amin Pangkalarang, Pangkal Pinang, Minggu (1/9/2019).

Baca juga: Mulai Pukul Bedug hingga Pawai Lampion, Tandai Peringatan Tahun Baru Islam di Lamongan

Sekretaris Daerah Kota Pangkal Pinang Ratmida Dawam mengatakan, kegiatan Nganggung di daerah Pangkalarang rutin dilaksanakan setiap tahunnya.

Kegiatan tersebut telah menjadi agenda resmi Pemkot Pangkalpinang dengan melibatkan swadaya masyarakat.

"Masyarakat bersama-sama membawa dulang dan berkumpul di masjid ini. Semuanya duduk menikmati hidangan bersama-sama," kata Ratmida saat menghadiri acara Nganggung, Minggu pagi.

Baca juga: Sambut Tahun Baru Islam, Ribuan Warga Sumedang Pawai Taaruf dan Santap Nasi Kuning

Lebih dari seribu warga ambil bagian dalam Nganggung di Masjid Baitul Amin. Masing-masing keluarga membawa satu dulang yang di dalamnya berisi bermacam makanan yang bisa dikonsumsi untuk 5 sampai 6 orang.

Menu yang disajikan pun bervariasi, mulai dari nasi, lontong, ketupat, telur, gulai, perkedel hingga rendang. Ada pula sayuran dan buah-buahan di dalam tudung saji.

Kebersamaan terlihat ketika setiap dulang dibariskan berjejer di sekeliling halaman masjid yang telah dipasangi tenda.

Masyarakat duduk bersila di sepanjang dulang mengikuti rangkaian acara yang diawali dengan pembacaan Al-Quran, kata sambutan, tausyiah dan diakhiri dengan makan bersama.

Sekilas tradisi Nganggung di Kepulauan Bangka Belitung mirip dengan tradisi makan bajamba di Sumatera Barat.

Hanya saja Nganggung diikuti lebih banyak percampuran etnis. Seperti di Pangkalarang dominan dihuni masyarakat suku Bugis, Sulawesi, Melayu Bangka, Tionghoa, Jawa dan Minang.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X