Tanggapan Keluarga Korban Setelah Pemerkosa 9 Anak Dihukum Kebiri

Kompas.com - 30/08/2019, 05:46 WIB
Hukuman Kebiri Kimia KOMPAS.com/Akbar Bhayu TamtomoHukuman Kebiri Kimia

MOJOKERTO, KOMPAS.com - Lega, tetapi belum puas. Begitu lah perasaan keluarga salah satu korban perkosaan anak yang dilakukan Muh Aris (20), terpidana yang dijatuhi hukuman kebiri kimia oleh Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, Jawa Timur.

Menurut SH (36), ayah dari BQ, salah satu korban kejahatan seksual yang dilakukan Aris, perbuatan terpidana merupakan tindakan kejam dan tidak manusiawi.

SH menilai, Aris pantas diberi ganjaran hukuman maksimal.

Saat ditemui Kompas.com di kediamannya, Kamis (29/8/2019) malam, SH mengaku masih merasa kesal dengan ulah terpidana kepada anaknya.

"Namanya anak diperlakukan begitu, ya ndak terima," kata SH.

Meski demikian, SH mengaku lega karena orang yang melakukan kejahatan seksual terhadap anaknya berhasil ditangkap dan selesai disidangkan.

Pelaku dinyatakan bersalah dan sudah dijatuhi hukuman oleh pengadilan.

Pengadilan memutus Muh Aris (20), pemuda asal Dusun Mengelo, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, bersalah melanggar Pasal 76 D jo Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pemuda yang bekerja sebagai tukang las itu dihukum penjara selama 12 tahun dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Selain itu, dia dikenai hukuman tambahan berupa kebiri kimia.

Baca juga: Pasca Putusan Hukuman Kebiri, Pemerintah Fokus Dampingi Korban dan Keluarganya

Menurut SH, hukuman yang dijatuhkan kepada terpidana masih belum setimpal.

Apalagi, menurut dia, perbuatan Aris ternyata tidak hanya kepada anaknya.

"Puas sih belum ya, tapi kan sudah diputus hakim. Ya kita ikuti. Tapi kami lega karena pelakunya tertangkap dan sekarang sudah dihukum," ujar dia.

Berdasarkan fakta persidangan di Pengadilan Negeri Mojokerto, korban kejahatan seksual yang dilakukan Aris sebanyak 9 anak dengan usia korban rata-rata 6 - 7 tahun.

Persidangan atas perkara itu diajukan oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto.

Di pengadilan yang sama, Aris juga divonis bersalah melakukan pencabulan dan kekerasan seksual terhadap 1 korban yang masih anak-anak di wilayah Kota Mojokerto.

Dari perkara yang diajukan oleh Kejaksaan Negeri Kota Mojokerto tersebut, Aris dijatuhi hukuman penjara 8 tahun dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Berharap kebiri permanen

BQ merupakan salah satu korban pencabulan dan kekerasan seksual yang dilakukan Aris.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Mojokerto beberapa waktu lalu, dia dihadirkan sebagai saksi korban didampingi Ayah dan Ibunya.

SW (33), Ibu dari BQ mengungkapkan, peristiwa yang dialami anaknya membuat dirinya trauma.

Demikian pula dengan anaknya yang terkadang masih takut jika bertemu orang baru atau tidak dikenal.

"Kalau anaknya sekarang sudah biasa, sudah main sama teman-temannya, main ke sekitar. Tapi kalau ada orang tidak dikenal masih takut," kata SW kepada Kompas.com.

Terkait hukuman yang sudah dijatuhkan pengadilan kepada orang yang melakukan kejahatan seksual kepada anaknya, SW menyatakan bahwa dia keluarganya hanya bisa mengikuti apa yang sudah diputuskan para hakim.

"Kan sudah diputus, ya kita ikuti. Tapi harapan kami kebirinya jangan yang cuma suntik, kalau bisa kebiri yang permanen," ujar SW saat ditemui di kediamannya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Edarkan 'Pil Setan' ke Pelajar, Pria Asal Cianjur Diringkus Polisi

Edarkan "Pil Setan" ke Pelajar, Pria Asal Cianjur Diringkus Polisi

Regional
Diminta Klarifikasi Kampanye Bagi-bagi Kartu, Calon Bupati Ogan Ilir Mangkir Dipanggil Bawaslu

Diminta Klarifikasi Kampanye Bagi-bagi Kartu, Calon Bupati Ogan Ilir Mangkir Dipanggil Bawaslu

Regional
Modus Nikah Siri, Pelajar Dibawa Kabur dan Dicabuli Berkali-kali

Modus Nikah Siri, Pelajar Dibawa Kabur dan Dicabuli Berkali-kali

Regional
Hati-hati, 80 Persen Pintu Perlintasan Kereta Api Tidak Dijaga

Hati-hati, 80 Persen Pintu Perlintasan Kereta Api Tidak Dijaga

Regional
Terjadi Penularan Antarkeluarga, Satu RT di Yogyakarta Diisolasi

Terjadi Penularan Antarkeluarga, Satu RT di Yogyakarta Diisolasi

Regional
3.447 Pengawas TPS di Semarang Jalani Tes Cepat, Reaktif Diminta Isolasi Mandiri

3.447 Pengawas TPS di Semarang Jalani Tes Cepat, Reaktif Diminta Isolasi Mandiri

Regional
Sederet Fakta Tabrakan Maut Tol Cipali, Tewaskan 10 Orang hingga Cerita Keluarga Korban

Sederet Fakta Tabrakan Maut Tol Cipali, Tewaskan 10 Orang hingga Cerita Keluarga Korban

Regional
Kesedihan Penggali Makam Jenazah Covid-19: Kadang Kami Menangis Mengubur Bayi

Kesedihan Penggali Makam Jenazah Covid-19: Kadang Kami Menangis Mengubur Bayi

Regional
[POPULER NUSANTARA] Tabrakan Maut di Tol Cipali | Jumlah Kasus Covid-19 di Jateng Tertinggi

[POPULER NUSANTARA] Tabrakan Maut di Tol Cipali | Jumlah Kasus Covid-19 di Jateng Tertinggi

Regional
Pengungsi Merapi Kebanyakan Lansia dan Anak, Bilik 'Ayah Bunda' di Pengungsian Dipertanyakan

Pengungsi Merapi Kebanyakan Lansia dan Anak, Bilik "Ayah Bunda" di Pengungsian Dipertanyakan

Regional
4 Fakta Istri Bupati Demak Meninggal karena Covid-19, Disebut Jarang ke Luar Kota, Diduga Tertular dari Saudara

4 Fakta Istri Bupati Demak Meninggal karena Covid-19, Disebut Jarang ke Luar Kota, Diduga Tertular dari Saudara

Regional
Sedang Video Call Istri Sambil Makan Bakso, Seorang Pria Tiba-tiba Ditikam hingga Tewas, Ini Ceritanya

Sedang Video Call Istri Sambil Makan Bakso, Seorang Pria Tiba-tiba Ditikam hingga Tewas, Ini Ceritanya

Regional
Kurang Alat Bukti, Bawaslu Bantul Hentikan Kasus Dugaan Politik Uang

Kurang Alat Bukti, Bawaslu Bantul Hentikan Kasus Dugaan Politik Uang

Regional
Film Jamal, Kisah Tentang 'Janda Malaysia' di Lombok

Film Jamal, Kisah Tentang "Janda Malaysia" di Lombok

Regional
5 Daerah Rawan Jelang HUT OPM 1 Desember

5 Daerah Rawan Jelang HUT OPM 1 Desember

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X