Kompas.com - 29/08/2019, 17:31 WIB
Budayawan Betawi Ridwan Saidi KOMPAS.com/ANDRI DONNAL PUTERABudayawan Betawi Ridwan Saidi

PALEMBANG, KOMPAS.com - Kontroversi pernyataan budayawan asal Betawi Ridwan Saidi soal kerajaan Sriwijaya ternyata bukan kali pertamanya ia lakukan.

Sekitar empat tahun yang lalu, pria yang akrab dipanggil Babe tersebut juga sempat membuat gaduh dengan mengeluarkan pernyataan yang sama.

Hal tersebut disampaikan arkelog dari Balai Arkegologi (Balar) Sumatera Selatan, Retno Purwati kepada Kompas.com, Kamis (29/8/2019).

Baca juga: Balai Arkeologi Sumsel: Ridwan Saidi yang Ngelantur

Retno menjelaskan, awalnya, Guru Besar Arkeologi UI, Prof Dr Agus Aris Munandar pada Sabtu, 13 Juli 2013 silam, menemukan sumur di Candi Kedaton, situs Muara Jambi. Dari temuan itu, Ridwan Saidi menduga kerajaan Sriwijaya sempat berpusat di Jambi.

“Kemudian Ridwan Saidi bilang, Sriwijaya tidak pernah ada di Palembang, tapi di Jambi. Terus pernyataan itu heboh di seluruh media. Tapi saat komentarnya gak jelas, tampaknya media tidak tertarik lagi. Nah, sekarang bikin onar lagi,” kata Retno.

Diungkapkan Retno, pusat kerajaan Sriwijaya berada di Palembang pada abad ke-7 sampai 10.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal itu dikuatkan dengan ditemukannya prasasti sisa-sisa bangunan candi, arca dan 21 situs masa Sriwijaya di Kota Palembang, Sumatera Selatan.

“Ada tidak kota lain selain Palembang yang punya situs sebanyak itu yang berasal dari kurun waktu antara abad ke-7 hingga 10. Situs-situs arkeologi di Palembang sampai abad ke-14, masa keruntuhan Sriwijaya juga ditemukan. Komplit,” ujarnya.

Retno mengungkapkan, sampai saat ini belum ada bukti kuat bahwa pusat kerajaan Sriwijaya berada di Jambi.

“Tidak ada bukti bahwa pusat Sriwijaya ada di Jambi. Masih bersifat hipotetis,. Penemuan arca emas, perunggu dari batu, temuan damar, anak timbangan dan manik-manik juga di Palembang,” jelas Retno.

Sebelumnya, pernyataan Ridwan Saidi yang menyebutkan kerajaan Sriwijaya adalah fiktif viral di media sosial. Video pernyataan itu viral setelah diunggah di kanal YouTube Macan Idealis.

Dalam video yang diunggah pada 23 Agustus 2019 tersebut, Ridwan Saidi secara tegas menyebutkan bahwa kerajaan Sriwijaya adalah fiktif.

Bahkan, Ridwan Saidi mengklaim telah 30 tahun mempelajari bahasa kuno guna menelisik jejak-jejak keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

Hasil penelusuran itu membawanya pada satu hipotesis bahwa kerajaan tersebut fiktif belaka.

Baca juga: Ridwan Saidi Sebut Kerajaan Sriwijaya Fiktif, Gubernur Sumsel Anggap Hanya Cari Sensasi

Hipotesis itu kemudian ia cetuskan dalam sebuah video wawancara YouTube dalam kanal Macan Idealis.

“Saya sudah 30 tahun mempelajari bahasa-bahasa kuno. Banyak kesalahan mereka (arkeolog), prasasti di Jawa dan Sumatera adalah bahasa Melayu, tapi sebenarnya bahasa Armenia," ujar Ridwan ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (28/8/2019).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kontingen Papua Sukses Raih Posisi 10 di Ajang STQHN XXVI

Kontingen Papua Sukses Raih Posisi 10 di Ajang STQHN XXVI

Regional
Apresiasi Film Dokumenter The Mentors, Ganjar: Film Ini Bagus

Apresiasi Film Dokumenter The Mentors, Ganjar: Film Ini Bagus

Regional
Dukung Pembangunan Infrastruktur di Jabar, PT Jasa Sarana Gandeng IIF dan MMI Jadi Mitra Strategis

Dukung Pembangunan Infrastruktur di Jabar, PT Jasa Sarana Gandeng IIF dan MMI Jadi Mitra Strategis

Regional
Jateng 4 Kali Berturut-turut Jadi Provinsi Terbaik Soal Keterbukaan Informasi, Begini Repons Ganjar

Jateng 4 Kali Berturut-turut Jadi Provinsi Terbaik Soal Keterbukaan Informasi, Begini Repons Ganjar

Regional
Dua Pesan Penting Ridwan Kamil untuk BUMD di Jabar

Dua Pesan Penting Ridwan Kamil untuk BUMD di Jabar

Regional
Teori Hati Bidan Eros Mengabdi di Baduy

Teori Hati Bidan Eros Mengabdi di Baduy

Regional
Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Regional
Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Regional
Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Regional
Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Regional
Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Regional
Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Regional
Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Regional
Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Regional
Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.