Curhat Warga Pedalaman Flores : 74 Tahun Indonesia Merdeka, Tetapi Kami Belum Menikmati Kemerdekaan Itu

Kompas.com - 29/08/2019, 10:16 WIB
Foto : Yakobus Jowe warga kampung Warut dan Ambrosius Ambo, warga kampung Leng Desa Watu Diran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT saat diwawancara Kompas.com, Rabu (28/8/2019). KOMPAS.com/NANSIANUS TARISFoto : Yakobus Jowe warga kampung Warut dan Ambrosius Ambo, warga kampung Leng Desa Watu Diran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT saat diwawancara Kompas.com, Rabu (28/8/2019).

MAUMERE, KOMPAS.com - Warga Kampung Leng, Napungdagar, dan Warut Desa Watu Diran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Flores, NTT, merasa belum merdeka meski bangsa Indonesia sudah bebas dari penjajahan asing.

Pengakuan warga 3 kampung tersebut bukanlah tanpa sebab dan dasar yang jelas.

Betapa tidak, warga di bagian pedalaman Kabupaten Sikka itu, selama 74 tahun Indonesia merdeka, belum menikmati infrastruktur dasar seperti jalan aspal, listrik, air minum bersih, dan sinyal telepon.

Hingga di usia ke-74 RI, jalan menuju 3 kampung ini belum dirabat apalagi diaspal. Tidak ada perhatian pemerintah.

Baca juga: HUT ke-74 RI, Upacara Bendera Digelar di Bawah Laut Teluk Maumere

 

Begitu pula dengan air minum, mereka masih mengandalkan air sungai.

Untuk penerangan malam, warga di 3 kampung tersebut mengandalkan lampu pelita.

Sementara untuk sinyal, mereka mesti berjalan kaki sejauh 3 kilometer untuk bisa menelepon.

"Negara ini sudah 74 tahun merdeka. Tetapi kami belum menikmati kemerdekaan itu. Kami di sini sama sekali belum merdeka," ungkap Yakobus Jowe, warga Kampung Warut, kepada Kompas.com, Rabu (28/8/2019).

"Jalan raya sama sekali belum diperhatikan. Kondisinya sangat buruk. Kami di sini juga belum masuk listrik, air minum bersih, dan sinyal telepon. Inilah mengapa kami merasa belum merdeka. Kami juga tidak tahu. Apa alasan kami di sini dianaktirikan pemerintah," sambung Yakobus.

Ia mengungkapkan, puluhan tahun warga ketiga kampung itu sangat merindukan perhatian pemerintah terhadap infrastruktur dasar masyarakat. Tetapi, hingga kini, kerinduan itu tidak pernah direspons.

"Selama ini juga kami pasrah saja dengan keadaan ini. Sulit sebenarnya, hanya mau bagaimana. Mau teriak, teriak kepada siapa dan melalui siapa," ungkap Yakobus.

"Kami minta tolong, sampaikan kondisi dan keluh kesah warga di sini kepada pemerintah. Kalau bisa, kepada bapak Presiden Jokowi, tolong perhatikan kami di sini. Kami juga warga Indonesia. Di sini kami diabaikan oleh pemerintah," lanjut dia.

Sementara itu, Ambrosius Ambo warga Kampung Leng menuturkan, saat kampanye pada tahun 2018 lalu, Bupati dan Wakil Bupati Sikka menjanjikan sinyal, jalan, air minum bersih, dan listrik atau disingkat Sijalin.

"Itu janji mereka saat kampanye di sini. Sekarang kami tuntut itu semua. Tolong perhatikan sinyal, jalan raya, air minum bersih, dan listrik. Tolong tulis ini teman-teman dari media. Sampai di mana saja. Biar pemerintah buka mata melihat penderitaan kami di sini," tutur Ambrosius.

Baca juga: Cerita Penjual Bendera, dari Garut ke Maumere hingga Meraup Rp 6 Juta Sehari

Ia mengungkapkan, akibat tidak diperhatikan infrastruktur jalan, warga 3 kampung di Desa Watu Diran susah untuk menjual hasil komoditi ke Kota Maumere.

Ia menyebut, 3 kampung itu memiliki banyak hasil pertanian seperti, kopi, cengkeh, jambu mete, dan kakao.

"Lumayan hasil tani kami di sini. Hanya kendala dijualnya. Kami mau jual pakai pikul ke kota ini susah sekali. Sengsara sekali," ungkap dia.

Ia mengatakan, akibat tidak ada listrik belum masuk di 3 kampung itu, anak-anak mereka harus belajar dengan penerangan pelita.

"Mau nyala terus kan pikir dengan minyak tanah juga mahal. Terpaksa, anak-anak sekolah tidak bisa belajar di malam hari. Habis makan mereka tidur saja," kata dia.

Selain itu, ia menyebut, 3 kampung itu sangat terisolasi lantaran tidak ada sinyal telepon.

Di sekitar kampung memang ada tempat yang ada sinyal, tetapi mesti berjalan kaki sejauh 3 kilometer.

"Itu pun sampai di atas bukit ada sinyal. Kalau tidak kita pergi dan pulang kosong. Padahal zaman sekarang jaringan butuh sekali. Apalagi, di sini ada sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Siswa-siswi dan guru mau cari informasi di internet tidak bisa. Jadinya serba ketinggalan," ujar Ambrosius.

Sementara untuk air bersih, ia mengaku saat ada upacara besar warga sangat susah memperoleh air minum bersih.

"Itu kami harus pikul dari mata air lalu tampung di bak. Di sini mata air banyak, tetapi kendalanya belum dimanfaatkan. Sehingga, kami masih terus minum langsung dari sumbernya tanah dan di kali," ungkap Ambrosius.

Baca juga: Pertandingan Tinju Internasional di Maumere Ricuh, Promotor Bantah Kabur

"Harapan kami ke depan, bisa bebas dari keterisolasian ini. Itu saja. Kami minta pemerintah perhatikan infrastruktur dasar ke wilayah ini," sambung dia.

Pantauan Kompas.com, sekitar 7 kilometer jalan dari Kota Maumere menuju kampung Warut, Leng, dan Nampungdagar, sangat memprihatinkan. Jalannya belum dirabat dan diaspal.

Tampak lubang menganga hampir di setiap titik. Kendaraan roda 2 yang lewat sering kali jatuh menyentuh tanah.

Tak sedikit pengendara yang terluka saat melintas jalan itu. Apalagi, jika baru pertama kali menyusuri ruas jalan tersebut.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gempa Pangandaran Magnitudo 5,9 Terasa hingga Sukabumi, Belum Ada Laporan Kerusakan

Gempa Pangandaran Magnitudo 5,9 Terasa hingga Sukabumi, Belum Ada Laporan Kerusakan

Regional
Oknum Perwira Polisi Jadi Kurir Sabu 16 Kg, Kapolda Riau: Dia Penghianat Bangsa

Oknum Perwira Polisi Jadi Kurir Sabu 16 Kg, Kapolda Riau: Dia Penghianat Bangsa

Regional
Hidup dengan Ibu ODGJ, 4 Anak Gizi Buruk Tak Kenal Lauk, Hanya Makan Nasi dengan Sayur Rebus

Hidup dengan Ibu ODGJ, 4 Anak Gizi Buruk Tak Kenal Lauk, Hanya Makan Nasi dengan Sayur Rebus

Regional
Dramatis, Penangkapan Perwira Polisi Kurir Sabu 16 Kilogram, Alami Luka Tembak hingga Langsung Dipecat

Dramatis, Penangkapan Perwira Polisi Kurir Sabu 16 Kilogram, Alami Luka Tembak hingga Langsung Dipecat

Regional
Fakta Lengkap Soal Fatwa Hukum Cambuk Bagi Pemain PUBG di Aceh...

Fakta Lengkap Soal Fatwa Hukum Cambuk Bagi Pemain PUBG di Aceh...

Regional
Gempa Terkini di Pangandaran Sempat Membuat Panik Wisatawan

Gempa Terkini di Pangandaran Sempat Membuat Panik Wisatawan

Regional
Polisi Masih Dalami Motif Warga yang Bacok Anggota DPRD Jeneponto

Polisi Masih Dalami Motif Warga yang Bacok Anggota DPRD Jeneponto

Regional
Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Pangandaran, Warga Diimbau Waspada Gempa Susulan

Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Pangandaran, Warga Diimbau Waspada Gempa Susulan

Regional
Korupsi Dana Desa Rp 387 Juta, Eks Kades Bontobaji Bulukumba Ditahan

Korupsi Dana Desa Rp 387 Juta, Eks Kades Bontobaji Bulukumba Ditahan

Regional
Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Pangandaran, Tidak Berpotensi Tsunami

Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Pangandaran, Tidak Berpotensi Tsunami

Regional
11 Nakes Positif Covid-19, Layanan Puskesmas di Kota Palopo Dialihkan

11 Nakes Positif Covid-19, Layanan Puskesmas di Kota Palopo Dialihkan

Regional
Kandang Ayam Terbakar di Grobogan, 40.000 Ekor Mati dan Kerugian Capai Rp 2,5 Miliar

Kandang Ayam Terbakar di Grobogan, 40.000 Ekor Mati dan Kerugian Capai Rp 2,5 Miliar

Regional
Ayah di Jember Tega Setubuhi Anak Tirinya hingga Hamil 6 Bulan

Ayah di Jember Tega Setubuhi Anak Tirinya hingga Hamil 6 Bulan

Regional
Kronologi Anggota DPRD Dibacok Saat Melerai Keributan soal Knalpot Bising

Kronologi Anggota DPRD Dibacok Saat Melerai Keributan soal Knalpot Bising

Regional
Sebelum Diperkosa 2 Pemuda, Remaja Putri di Kalbar Dicekoki Miras

Sebelum Diperkosa 2 Pemuda, Remaja Putri di Kalbar Dicekoki Miras

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X