Kasus Dugaan Pungli Kompol Tuti, Hakim Tipikor Periksa Rutan Polda NTB

Kompas.com - 28/08/2019, 12:23 WIB
Terdakwa Kompol Tuti Maryati, menjalani sidang pertamanya, Selasa (9/7/2019) di Pengadilan Tipikor Mataram. Tti diduga kuat menerima suap dari sejumlah tahanan temasuk Dorfin Felix, gembong Narkoba asal Francis. FITRI RACHMAWATI Terdakwa Kompol Tuti Maryati, menjalani sidang pertamanya, Selasa (9/7/2019) di Pengadilan Tipikor Mataram. Tti diduga kuat menerima suap dari sejumlah tahanan temasuk Dorfin Felix, gembong Narkoba asal Francis.

MATARAM, KOMPAS.com - Sidang kasus dugaan gratifikasi dan pungutan liar yang dilakukan terdakwa Kompol Tuti Maryati, mantan Kasubdit Pengamanan Tahanan (Pamtah) Dittahti Polda NTB, dilanjutkan dengan pemeriksaan tempat kasus terjadi, Rabu (28/8/2019).

Ketua majelis hakim, Sri Sulastri dan hakim anggota Fathur Rauzi dan Abadi, langsung menuju Rumah Tahanan (Rutan) Polda NTB.

Hakim memeriksa Rutan Polda NTB, lokasi di mana terdakwa diduga melakukan tindak kejahatan melakukan pungutan liar dan membatu kaburnya tahanan narkoba asal Prancis, Dorfin Felix.


Proses pemeriksaan Rutan Polda NTB berlangsung mulai pukul 09.00 Wita, hingga pukul 10.30 Wita.

Baca juga: Fakta Baru di Sidang Dorfin Felix: Titipan Pesan Kompol Tuti ke Napi Lain

Wartawan dilarang masuk ke Rutan Polda NTB, mengikuti proses pemeriksaan majelis hakim untuk memastikan kebenaran keterangan saksi dan bantahan terdakwa selama persidangan.

"Maaf, wartawan tunggu di bawah saja," kata Cahyo, salah seorang anggota polisi yang bertugas depan Rutan Polda NTB.

Meskipun, anggota majelis hakim, Fathur Rauzi, memperbolehkan wartawan bisa masuk ke Rutan Polda saat pemeriksaan.

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) turut melakukan pemeriksaan Rutan Polda NTB.

Juru bicara Pengadilan Tipikor Mataram, Fathur Rauzi mengatakan, terkait dengan hasil pemeriksaan, nanti bisa diikuti di persidangan.

Persidangan dilanjutkan kembali setelah hakim kembali ke Pengadilan Tipikor Mataram dan melanjutkan dengan pemeriksaan Saksi, Tuti Maryati.

Rutan polda ketat

Dalam persidangan pemeriksaan terdakwa, Ketua Majelis Hakim, Sri Sulastri mencecar terdakwa dengan sejumlah pertanyaan pasca-memeriksa Rutan Polda NTB.

Sri mengatakan, bahwa di Rutan Polda NTB penjagaan sangat ketat, siapapun tahanan yang masuk akan digeledah dan dilarang membawa barang barang kecuali pakaian dan pakaian ganti, termasuk ponsel.

"Bawa handphone saja aturannya langsung dibanting dan dihancurkan, kenapa bisa handphone masuk ke rutan, karena bayar pada saudara (terdakwa) dan kenapa handphone tidak dihancurkan seperti aturan yang ada?" tanya Sri, kepada Tuti.

Baca juga: Penyidik Polda NTB Sebut Dorfin Kabur Tanpa Bantuan Kompol Tuti

"Saya tidak tahu, saya tidak pernah menerima uang dari tahanan, saya tidak hancurkan HP-nya karena akan saya kembalikan ke keluarga tahanan," bantah Tuti.

Hakim mengatakan, dalam rutan sulit ada interaksi antara tahanan dan pembesuk atau keluarga, karena dibatasi kaca.

"Itu kan ketat, kenapa kemudian semua itu berbeda saat Ibu sebagai Kasubdit Pamtahti Rutan Polda NTB," tekan ketua majelis hakim.

Sidang masih berlangsung dengan agenda pemeriksaan terdakwa oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Mataram.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Final Persija Vs Persebaya, Polisi Siapkan 7.000 Personel hingga Gelar Nonbar

Final Persija Vs Persebaya, Polisi Siapkan 7.000 Personel hingga Gelar Nonbar

Regional
Kisah Pelajar Pedalaman Flores, Bertaruh Nyawa Menyeberangi Sungai

Kisah Pelajar Pedalaman Flores, Bertaruh Nyawa Menyeberangi Sungai

Regional
Dituduh Menculik Anak, Nenek Pemulung: Untuk Apa, Hidup Saya Sendiri Sudah Susah

Dituduh Menculik Anak, Nenek Pemulung: Untuk Apa, Hidup Saya Sendiri Sudah Susah

Regional
Seorang Ibu Pergoki Anaknya yang Berusia 8 Tahun Dicabuli Tetangga

Seorang Ibu Pergoki Anaknya yang Berusia 8 Tahun Dicabuli Tetangga

Regional
Ini Upaya Pemerintah Kota Semarang Perangi Narkoba

Ini Upaya Pemerintah Kota Semarang Perangi Narkoba

Regional
Pilkada Sulut 2020, Pengamat: PDI-P Paling Siap, Nasdem Dilema

Pilkada Sulut 2020, Pengamat: PDI-P Paling Siap, Nasdem Dilema

Regional
Remas Payudara Remaja Putri Lagi Joging, Mahasiswa Ini Diburu Polisi

Remas Payudara Remaja Putri Lagi Joging, Mahasiswa Ini Diburu Polisi

Regional
Calon Kepala Daerah dari PDI-P di 6 Daerah di Jateng Berpotensi Lawan Kotak Kosong

Calon Kepala Daerah dari PDI-P di 6 Daerah di Jateng Berpotensi Lawan Kotak Kosong

Regional
Stok Air di Batam Hanya Cukup Sampai Mei, Warga Batam Diimbau Berdoa

Stok Air di Batam Hanya Cukup Sampai Mei, Warga Batam Diimbau Berdoa

Regional
Oknum Polisi Jadi Kurir 35 Kg Sabu di Riau, BNN Minta Pelaku Digantung

Oknum Polisi Jadi Kurir 35 Kg Sabu di Riau, BNN Minta Pelaku Digantung

Regional
Jalan Pangkal Flyover di Muara Enim Ambles, 4.700 Warga Terancam Terisolasi

Jalan Pangkal Flyover di Muara Enim Ambles, 4.700 Warga Terancam Terisolasi

Regional
Diperiksa, Penganiaya Bocah 7 Tahun hingga Tewas Malah Tidur Pulas sampai Ngorok

Diperiksa, Penganiaya Bocah 7 Tahun hingga Tewas Malah Tidur Pulas sampai Ngorok

Regional
Wapres Ma'ruf Amin Olahraga Pagi di Pantai Kuta Mandalika

Wapres Ma'ruf Amin Olahraga Pagi di Pantai Kuta Mandalika

Regional
Kronologi Siswa MTs Ditampar dan Dipukul Guru Olahraga karena Belum Cukur Rambut

Kronologi Siswa MTs Ditampar dan Dipukul Guru Olahraga karena Belum Cukur Rambut

Regional
Rumahnya Digusur, Janda Miskin 11 Anak Kini Tinggal di Tenda Darurat

Rumahnya Digusur, Janda Miskin 11 Anak Kini Tinggal di Tenda Darurat

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X