Curhat Petani Kelapa Flores yang Merasa Baru Merdeka pada HUT RI ke-74

Kompas.com - 19/08/2019, 08:06 WIB
Perwakilan para petani kelapa saat diwawancara sejumlah awak media, Sabtu (17/8/2019). Mereka mengatakan baru merasakan kemerdekaan dari para tengkulah setelah puluhan tahun tak pernah merasakan harga layak utuk komoditas kelapa. KOMPAS.com/NANSIANUS TARISPerwakilan para petani kelapa saat diwawancara sejumlah awak media, Sabtu (17/8/2019). Mereka mengatakan baru merasakan kemerdekaan dari para tengkulah setelah puluhan tahun tak pernah merasakan harga layak utuk komoditas kelapa.

MAUMERE, KOMPAS.com - Petani kelapa di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku lega setelah ada wadah khusus yang dibentuk untuk memproduksi minyak kelapa mentah di wilayah tersebut. 

Sebelumnya, selama puluhan tahun petani kelapa di Maumere terbelenggu harga rendah yang diberikan oleh tengkulah untuk komoditas kelapa mentahnya. 

Hal itu disampaikan oleh Mikael John Abo, salah seorang petani kelapa Maumere. Dia mengatakan sangat senang dengan dibentuknya Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air Maumere, tepat pada 17 Agustus 2019 atau pada HUT RI ke-74

Menurut dia, dia dan semua petani kelapa merasa bersyukur dan merdeka ketika komoditi kelapa dibeli dengan harga layak. 

Baca juga: Berkat Hutan Mangrove, Nelayan dan Petani Kelapa di Maluku Utara Punya Penghasilan Tambahan

"Selama ini harga kelapa selalu rendah. Bahkan hari ini harganya Rp 4.000 per kilogram. Ini yang membuat kami para petani terbelenggu," katanya ke sejumlah awak media, Sabtu (17/8/2019).

"Selama ini, sesungguhnya kami belum merdeka. Kami dijajah para tengkulak. Tetapi, itu terpaksa kami lakukan demi menyambung hidup keluarga. Kami bersyukur, mulai hari ini petani kelapa sudah merdeka." 

Mikael merasa merdeka sebab komoditi kelapanya jika diolah jadi minyak kelapa mentah dihargai Rp 12.000 per kilogram di Kopdit Pintu Air. "Kami merasa jerih payah petani dihargai," ungkapnya. 

Sementara itu, Ketua Kopdit Primer Nasional Pintu Air Maumere Yakobus Jano mengungkapkan, HUT ke-74 RI merupakan momen memerdekaan petani dari belenggu keterjajahan harga beli komoditi kelapa yang rendah selama puluhan tahun sebelumnya. 

Baca juga: Kekurangan Dana, Anak Berkebutuhan Khusus dari Flores Terancam Gagal Ikut Lomba Tingkat Nasional

"Peristiwa hari ini adalah mengenang kembali mengenang HUT ke-74 RI. Hari ini adalah momen pertama kita merdeka. Merdeka dalam arti memerdekan nelayan, tani, ternak, dan buruh," ungkap Yakobus Jano saat menggelar konferensi pers usai upacara bendera HUT RI, Sabtu (17/8/2019).

Dorong produk unggulan minyak goreng kelapa Flores

Ia mengatakan, khusus di HUT RI ke-74 tahun 2019, Kopdit Pintu Air membeli minyak kelapa langsung dari para petani yang ada di Maumere.

Hal itu dilakukan, karena selama ini para petani kelapa terbelenggu dengan harga-harga yang tidak memihak mereka.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X