Kanjat, Kantin Buruan Mahasiswa Unpad yang Ramah di Kantong

Kompas.com - 15/08/2019, 07:43 WIB
Kantin Jatinangor (Kanjat) di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. KOMPAS.com/RENI SUSANTIKantin Jatinangor (Kanjat) di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.

SUMEDANG, KOMPAS.com – Terletak di Jalan Jatinangor Nomor 194 Sumedang, membuat kantin tempat jajan sekaligus tongkrongan ini tidak sulit dicari.

Namanya Kantin Jatinangor. Mahasiswa Universitas Padjajaran kerap memanggilnya Kanjat. Selain supaya ringkas, Kanjat lebih enak didengar dan keren saat diucapkan.

Menuju kantin ini tidak sulit. Dari Kampus Unpad Jatinangor, mahasiswa tinggal turun ke gerbang lama Unpad, lalu menyusuri Jalan Jatinangor.

Kanjat berada tepat di antara deretan toko, tempat makanan, hingga bank.

Kanjat tak cuma diburu mahasiswa Unpad. Mahasiswa ITB, Ikopin, dan IPDN pun sering mangkal di sini.

Kalau datang saat jam makan siang, bersiaplah dengan antreannya yang mengular.

Itu sebabnya, banyak mahasiswa Unpad yang datang lebih awal, agar bebas memilih tempat duduk. Itupun jika beruntung waktu perkuliahan sudah selesai sebelum jam makan siang.

“Tempat favorit saya di lantai 2. Lebih enak saja tempatnya, enggak terlalu crowded,” ujar Riska F, mahasiswi Peternakan Unpad saat berbincang dengan Kompas.com di Kanjat pada Agustus 2019.

Bagi Riska, Kanjat menjadi salah satu kantin andalannya. Apalagi saat kangen masakan rumah atau kiriman uang dari orangtuanya di Lampung terlambat.

Sebab, harga makanan di Kanjat terbilang ramah dengan kantong mahasiswa.

Mahasiswi lainnya, Cyntia dan Desi mengatakan hal serupa.

Kedua mahasiswi Akuntansi Perpajakan tersebut memilih Kanjat, karena dekat dengan kampus, harganya juga relatif murah, dan menu makanannya lengkap.

“Makanan favorit saya ayam kecap. Perkedelnya juga enak,” tutur Cyntia.

Kanjat menggunakan konsep parasmanan. Jadi setiap yang datang langsung mengambil piring, kemudian mengambil sendiri nasi, lauk pauk, hingga sayur sesuai selera.

Puluhan jenis makanan yang dijajakan kadang membuat pengunjung bingung.

Namun, pengunjung diharapkan tidak galau terlalu lama memilih makanan, karena antrean akan semakin mengular.

Dari Bandung ke Jatinangor

Mohamad Fajar Hariadi, anak sang pemilik kantin mengatakan, Kanjat berdiri sejak tahun 90an.

Awalnya, kantin ini dibangun dengan nama Ampera. Lokasinya bukan seperti saat ini, tetapi terletak di sekitaran Kampus Unpad Dipatiukur, Bandung.

“Tapi bukan cabang Rumah Makan Ampera, namanya saja yang sama,” tuturnya.

Saat itu, satu per satu fakultas di Unpad Dipatiukur dipindah ke Jatinangor. Alhasil, mahasiswa yang kuliah di Dipatiukur sedikit dan berimbas pada kantinnya.

Hingga pada 2004, Ayah Fajar, M Yahya, memutuskan untuk membuka kantin di Jatinangor sekaligus rebranding.

Yahya mengganti nama kantinnya menjadi Kantin Jatinangor.

Berbagai menu ditawarkan di Kantin Jatinangor.KOMPAS.com/RENI SUSANTI Berbagai menu ditawarkan di Kantin Jatinangor.
Menu andalan hingga harga super murah

Menu yang ditawarkan terbilang banyak dan murah.

Nasi porsi besar Rp 3.500, nasi porsi sedang Rp 3.000. Sepotong daging ayam seharga Rp 6.000.

Khusus ayam bakar harganya Rp 9.000, karena potongannya lebih besar.

“Andalan di sini jamur crispy Rp 6.000 dan rolade Rp 5.000,” ujar Fajar.

Cita rasa makanan di Kanjat condong ke Jawa-Sunda.

Walaupun, untuk beberapa menu kerap mengecoh pengunjung, karena memiliki tampilan pedas seperti masakan Padang, namun begitu dicicipi tidak begitu pedas.

Dalam sehari, Kanjat bisa melayani 150 pengunjung yang didominasi mahasiswa Unpad.

Selain kantin, Kanjat juga menerima pesanan katering dari mahasiswa atau seputaran Jatinangor.

Harga yang dipatok untuk katering sama dengan harga kantin. Sebab, Kanjat mengambil selisih keuntungan yang tipis sehingga tidak bisa lagi memberikan diskon.

Namun, harga yang bersahabat dan kualitas makanan yang terjaga adalah resep yang membuat Kanjat bertahan hingga sekarang.

Apalagi, saat ini Kanjat harus bersaing di tengah bermunculannya kafe dan tempat makan berkonsep kekinian di Jatinangor.

“Target awal kita mahasiswa. Karakter mahasiswa di sini, selisih Rp 1.000 bisa pindah tempat,” ucap Fajar.

Menurut Fajar, meski desain kantinnya masih semi klasik, Kanjat masih jadi buruan mahasiswa.

Bahkan, kini kantin tersebut menjadi buruan ibu rumah tangga, termasuk para pekerja di seputaran Jatinangor.

“Pembangunan di Jatinangor pun makin padat. Untuk makan, para pegawai bangunannya ada yang beli ke sini juga, biar gampang,” tuturnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X