9 Penelitian oleh Anak Muda di Indonesia, Robot Pendeteksi Gempa hingga Kotak Bekal Tenaga Surya (1)

Kompas.com - 14/08/2019, 06:51 WIB
Tiga mahasiswa Universitas Atma Jaya Yosua Kurniawan, Ferdinand Edlim, dan Febrian Andika telah mengembangkan robot pendeteksi gempa sejak awal tahun 2018. DOK. ATMA JAYATiga mahasiswa Universitas Atma Jaya Yosua Kurniawan, Ferdinand Edlim, dan Febrian Andika telah mengembangkan robot pendeteksi gempa sejak awal tahun 2018.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Tiga siswa SMAN 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah, meraih juara dunia atas temuan obat penyembuh kanker dengan bahan baku alami berupa batang pohon tunggal atau dalam bahasa dayak disebut dengan bajakah.

Tanaman ini diperoleh di hutan Kalimantan Tengah. Ketiga siswa itu bernama Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani. Prestasi mereka pun menjadi pembicaraan publik.

Selain mereka bertiga, beberapa anak muda di Indonesia juga mencatatkan prestasi. Mereka menghasilkan penelitian yang  bermanfaat untuk masyarakat

Berikut 9 hasil penelitian yang lahir dari tangan anak-anak muda di Tanah Air:

 

1. Mi instan atasi PMS dan pendorong ASI

Mi instan Torbos.Institut Pertanian Bogor Mi instan Torbos.
Lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor ( IPB) menemukan cara mengatasi rasa sakit saat sedang menstruasi dan mengatasi masalah ibu menyusui yangkekurangnya produksi air susu ibu (ASI).

Mereka menciptakan terobosan berupa mi instan yang terbuat dari torbangun (Coleus amboinicus L).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kelima mahasiswa itu terdiri dari Ipik Julpikar, Rahmatun Nisful Maghfiroh, Alifian Gigih Pangestu, Hendriani Wijayanti, dan Iffah Nabilah.

"Kandungan lactagogum pada tanaman torbangun dapat meringankan nyeri haid dan meningkatkan produksi susu pada wanita. Namun, torbangun itu rasanya pahit jika dimakan langsung atau setelah direbus. Jadi, kami memproses torbangun menjadi mi instan karena akan lebih mudah dibuat," ucap Rahma, seperti dipublikasikan di laman resmi IPB, Rabu (7/8/2019).

Ada beberapa variasi rasa yang tersedia, yakni rasa soto, ayam bawang putih, dan kari. Produk itu dijual dengan harga Rp 7.000 untuk satu kemasan, dan bisa dibeli melalui akun Instagram @torbos_noodle.

Baca juga: Unik, Mi Instan Inovasi Mahasiswa IPB: Atasi Masalah PMS dan ASI

 

2. Sunny Side Box, kotak bekal tenaga surya

Sunny side box yang diciptakan oleh tujuh mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) angkatan 2014.Dok. Universitas Indonesia Sunny side box yang diciptakan oleh tujuh mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) angkatan 2014.
Tujuh mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) angkatan 2014 menciptakan terobosan baru berupa kotak bekal yang mampu menghangatkan makanan dengan memanfaatkan tenaga surya.

Inovasi kotak yang diberi nama Sunny Side Box ini muncul karena banyak orang mengeluh makanan yang dijadikan bekal untuk bepergian mengalami perubahan rasa, aroma, dan kualitas.

Pemanfaatan tenaga surya itu dapat dilakukan karena terdapat peltier pemanas yang menggunakan sumber energi alternatif berupa panel surya.

Sunny side box menggunakan baterai yang mempunyai dua cara dalam memanen energi listrik, yaitu menggunakan pengisi baterai berkabel dan panel surya yang mampu menghangatkan makanan sampai enam jam selama dinyalakan.

Inovasi tersebut berhasil membuat tim UI mendapatkan penghargaan medali perak kategori Lingkungan Hidup dalam ajang International Science and Invention Fair 2019 pada 21-25 Juni 2019 di Denpasar, Bali.

Baca juga: Hangatnya Makanan di Kotak Bekal Tenaga Surya Inovasi Mahasiswa UI

 

3. Ubah kebisingan jadi energi listrik

Tiga mahasiswa Universitas Diponegoro yang menciptakan alat bernama Sound Energy Harvesting (Sinting) yang bisa mengonversi kebisingan di bandara menjadi energi listrik.Dok. Universitas Diponegoro Tiga mahasiswa Universitas Diponegoro yang menciptakan alat bernama Sound Energy Harvesting (Sinting) yang bisa mengonversi kebisingan di bandara menjadi energi listrik.
Tiga mahasiswa Universitas Diponegoro ( Undip) menciptakan alat yang dapat mengubah kebisingan itu menjadi sesuatu bermanfaat.

Ketiga mahasiswa itu Rifki Rokhanudin, Ragil Adi Nugroho, dan Yudha Cindy Pratama membuat penemuan alat mengonversi kebisingan di bandara menjadi energi listrik dan diberi nama Sound Energy Harvesting (Sinting).

Seperti dipublikasikan laman resmi Undip, Kamis (17/7/2019), alat tersebut dirancang menggunakan prinsip kerja induksi elektromagnetik, seperti yang diterapkan dalam mikrofon.

Namun, mikrofon hanya mampu menghasilkan arus sangat kecil. Sementara Sinting dirancang dengan mengikutsertakan teknologi tambahan sehingga arus listrik dihasilkan bisa lebih kuat.

Ketiga mahasiswa tersebut membutuhkan waktu lebih kurang tiga bulan merancang Sinting.

Baca juga: Inovasi “Sinting” Mahasiswa Undip Ubah Kebisingan Jadi Energi Listrik

 

4. Robot pendeteksi gempa

Tiga mahasiswa Universitas Atma Jaya Yosua Kurniawan, Ferdinand Edlim, dan Febrian Andika telah mengembangkan robot pendeteksi gempa sejak awal tahun 2018.DOK. ATMA JAYA Tiga mahasiswa Universitas Atma Jaya Yosua Kurniawan, Ferdinand Edlim, dan Febrian Andika telah mengembangkan robot pendeteksi gempa sejak awal tahun 2018.
Tiga mahasiswa Program Studi Tekhnik Mesin Unika Atma Jaya, Yosua Kurniawan, Ferdinand Edlim, dan Febrian Andika mengembangkan robot pendeteksi gempa sejak awal tahun 2018.

Robot pendeteksi gempa tersebut dilengkapi teknologi hybrid sehingga mampu bergerak dengan roda dan berjalan dengan kaki.

Hal ini juga membuat robot pendeteksi gempa dapat digunakan dalam lingkungan industri maupun lingkungan alam seperti goa, tanah, dan jalan berbatu.

“Produk ini merupakan prototype yang masih akan kami kembangkan. Masih banyak hal yang harus dicoba seperti pengaplikasian feedback control, image recognition, GPS, serta proses pembuatan produk yang lebih dapat diandalkan,” jelas Christiand pembimbing Prodi Teknik Mesin Unika Atma Jaya.

Penelitian ini telah menghabiskan biaya Rp 15 juta belum termasuk penggunaan listrik, air, dan bensin. Harapannya, robot ini akan berguna untuk memberikan peringatan dini gempa bumi di Indonesia.

Baca juga: Bak Spiderman, Inovasi Robot Pendeteksi Gempa Mahasiswa Atma Jaya

 

5. Kembangkan "Nanobubble" untuk reaktor nuklir

Tiga mahasiswa Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjadjaran (Unpad) mengembangkan sistem pendingin aktif pada reaktor nuklir.DOK. UNPAD Tiga mahasiswa Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjadjaran (Unpad) mengembangkan sistem pendingin aktif pada reaktor nuklir.
Tiga mahasiswa Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjadjaran ( Unpad) mengembangkan sistem pendingin pasif pada reaktor nuklir.

Intan Farwati, Try Hutomo, dan Rosaldi Pratama melakukan penelitian tersebut bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional ( Batan) melalui pengembangan sistem pendingin dengan memanfaatkan material gelembung berisi gas dengan berukuran nano.

Material ini disebut sebagai nanobubble.

Try Hutomo mengatakan penelitian ini berawal saat dia magang di Batan selama satu bulan. Setelah mengenal alat pendingin itu, dia berpikir untuk menggabungkan riset bersama dosennya dan peneliti dari Batan.

“Akhirnya saya bersama dosen saya Prof Made dan Dr Cukup berdiskusi bersama peneliti Batan Dr Mulya Juarsa untuk meneliti lebih lanjut karena melihat kemampuan nanobubble dapat menahan panas dan membuat massa jenis ringan,” kata Try saat dihubungi Kompas.com, Senin (15/7/2019).

Dia menuturkan, tujuan dari penelitian ini untuk melihat karakteristik panas dari nanobubble di dalam alat sistem pendingin pasif. Karakteristik itu mulai dari kapasitas menahan panas, massa jenis, dan kecepatan alirannya.

Baca juga: Prestasi Mahasiswa Unpad, Kembangkan Nanobubble untuk Reaktor Nuklir

 

6. Ciptakan pasta gigi dari bekicot

Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas, Jawa Tengah berhasil temukan gel pasta gigi pencegah karies dari lendir bekicot, Selasa (9/7/2019).Dok. Humas UMP Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas, Jawa Tengah berhasil temukan gel pasta gigi pencegah karies dari lendir bekicot, Selasa (9/7/2019).
Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah berhasil menemukan pasta gigi dari hewan bekicot (Achatina fulica).

Pasta gigi yang diberi nama 'Gelecot Toothpaste' ini dikatakan mampu mencegah karies gigi pada anak-anak maupun orang dewasa.

Ketiga mahasiswa penemu pasta gigi bekicot tersebut yakni Nofita Fitri Kurniasih, Rahma Fauzia Madaningrum dan Nurvidian Khasanah.

Ketua Kelompok Peneliti Bekicot Tim PKM-PE Nofita Fitri Kurniasih, Selasa (9/7/2019) mengatakan, bagian dari bekicot yang mereka jadikan bahan observasi adalah lendir.

Menurut dia, di dalam lendir hewan bertubuh lunak atau molusca itu terkandung protein bernama achasin yang dapat menjadi reseptor pengikat protein (enzim) bakteri.

“Kandungan protein achasin dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi,” katanya.

Baca juga: Mahasiswa UMP Ciptakan Pasta Gigi dari Lendir Bekicot, Bagaimana Rasanya?

 

7. Alat penepis embun upas

Mahasiswa UGM yang membuat alat irigasi otomatis untuk mengurangi embun upas.Kholis M Mahasiswa UGM yang membuat alat irigasi otomatis untuk mengurangi embun upas.
Empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada ( UGM) Yogyakarta menciptakan sebuah alat irigasi penepis embun upas yang biasanya muncul di dataran tinggi.

Mahasiswa angkatan 2017 itu terdiri dari Kholishotul Ma'rifah, Setyawati, Denis Tio Yudhistira (Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem) dan Muhammad Fiqi Rohman (Elektronika dan instrumentasi).

Kholis dan ketiga temannya melakukan penelitian di daerah Tamansari, Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Kholis menceritakan, timnya sepakat membuat alat yang dapat membantu petani di dataran tinggi untuk mengurangi risiko kerugian, karena embun upas yang mengenai tanaman dapat menyebabkan gagal panen.

Menurut Kholis, petani biasanya menggunakan cara penyiraman manual untuk menghilangkan embun upas yang dapat menyebabkan kelebihan air pada tanah (drainage stress), serta meningkatkan potensi serangan hama dan penyakit tanaman lain, karena jumlah air yang disiramkan melebihi kebutuhan air tanaman.

"Alat ini kami setting secara otomatis menggunakan sensor untuk mendeteksi suhu dan kelembaban di lahan petani," kata Kholis.

Kholis mengatakan, pengaturan suhu yang digunakan berdasarkan pada suhu saat terjadi embun upas di lahan petani.

"Ketika suhu di daerah Dieng sudah berada di bawah 10 derajat celcius, maka otomatis alat akan menyemprotkan air ke tanaman (melalui selang)," ujar dia.

Baca juga: 4 Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Penepis Embun Upas untuk Minimalisasi Kerugian Petani

 

8. Beras analog lawan malanutrisi

Lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya yang meraih emas di Korea berkat beras analog yang mampu melawan malnutrisiDok. Humas Universitas Brawijaya Lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya yang meraih emas di Korea berkat beras analog yang mampu melawan malnutrisi
Inovasi berjudul Greenola (Green Rice Analog), karya mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) sukses meraih medali emas dalam even Korean International Woman Infention and Exposition (KIWIE) 2019.

Even tersebut berlangsung selama empat hari Kamis-Minggu, 20-23 Juni 2019 di Hall 9B, Exhibition Center 2, Korea International Exhibition Center (KINTEX), Seoul, Korea Selatan.

Mahasiswa yang terlibat langsung dalam inovasi tersebut yakni Zelviana Putri, Faudina Nurin Nisa, Nanda Triachdiani, Maharani Dewi Utami, dan Nur Aisya Indiani dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB.

Aisya mengatakan, inovasi tersebut berawal dari tingginya konsumsi beras di sejumlah negara, termasuk di Indonesia.

Beras analog itu terdiri dari tepung tapioka, sorghum serta ekstrak daun kelor. Tapioka mengandung 94,74 persen karbohidrat, 1,63 persen lemak, 1,71 persen protein dan 17,338 persen air.

Sedangkan tepung sorghum mengandung 79,08 persen karbohidrat, 5,27 persen lemak, 13,51 persen protein serta 9,94 persen air. Sementara ekstrak daun kelor mengandung 27,1 gram protein, 1324 miligram potassium, 2003 miligram kalsium dan 28,2 gram zat besi serta ampuh melawan malnutrisi.

Kombinasi tapioka, sorghum, dan ekstrak daun kelor yang kaya zat gizi tersebut mampu menghasilkan beras dengan kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibanding beras konvensional sehingga ampuh melawan malnutrisi.

Baca juga: Raih Emas di Korea, Beras Analog Inovasi Mahasiswa UB Mampu Lawan Malnutrisi

 

9. Ubah limbah jelantah jadi krayon warna

Mahasiswa Undip Semarang, Inas (kiri) dan Putri (kanan) menunjukkan krayon warna hasil olahan limbah minyak jelantah, saat ditemui di rumahnya di Jalan Bukit Flamboyan 1 F, Sendangmulyo, Tembalang. Krayon tersebut diberi merek Oicora yang dipasarkan melalui Instagram @oicoracrayon.Tribunjateng.com/Like Adelia Mahasiswa Undip Semarang, Inas (kiri) dan Putri (kanan) menunjukkan krayon warna hasil olahan limbah minyak jelantah, saat ditemui di rumahnya di Jalan Bukit Flamboyan 1 F, Sendangmulyo, Tembalang. Krayon tersebut diberi merek Oicora yang dipasarkan melalui Instagram @oicoracrayon.
Empat mahasiswa Universitas Diponegoro ( Undip) Semarang berhasil melakukan inovasi mengubah limbah jelantah menjadi pensil krayon dengan nilai jual tinggi.

Keempatnya adalah Inas Zahra (21) dan Khoirunnisa Nur Aini Putri (21) yang merupakan mahasiswa Akutansi Undip. Kemudian Lutfia Cahyaningrum (20) mahasiswi jurusan Kimia murni dan Azizah Fatma (21) mahasiswi Ekonomi Syariah.

"Saya dan Fatma satu organisasi PKM, kita sering ngasih seminar tentang PKM tapi kita belum nyoba, akhirnya kita nyoba ikut PKM sendiri dan kebetulan proposal kita lolos," ucap Inas, Kamis (27/6/2019).

Untuk ide crayon jelantah sendiri merupakan ide dari Inas. Awalnya, dia bingung saat diminta ibunya membuang minyak sisa jelantah.

Inas bersama ketiga temannya kemudian mencoba memproduksi krayon dari jelantah yang diberi nama Oicora di rumahnya.

Bahan minyak jelantah didapat dari teman-teman kuliahnya, yang mereka tukar dengan permen atau coklat.

Baca juga: Inovasi Mahasiswa Undip, Ubah Limbah Jelantah Jadi Krayon Warna

 

SUMBER: KOMPAS.com (Kurnia Tarigan, Erwin Hutapea, Yohanes Enggar Harususilo, M Iqbal Fahmi, Mela Arnani, Andi Hartik, Aprillia Ika)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Regional
Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Regional
Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Regional
Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Regional
AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

Regional
Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Regional
9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

Regional
Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Regional
Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Regional
Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Regional
Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Regional
Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Regional
Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Regional
Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Regional
PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.