Akhir September, Pertamina Janji Selesaikan Tumpahan Minyak di Laut Karawang

Kompas.com - 12/08/2019, 11:09 WIB
Tim medis Pertamina Peduli memeriksa kesehatan warga di Posko layanan kesehatan, Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/8/2019) dok BBC IndonesiaTim medis Pertamina Peduli memeriksa kesehatan warga di Posko layanan kesehatan, Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/8/2019)
Editor Rachmawati

Baca juga: Ridwan Kamil: Pertamina Sewa Engineer dari Amerika Atasi Tumpahan Minyak Karawang

Keterbukaan informasi itu, menurut Merah, dimulai dari membuka kamera pengawas di anjungan, data pengeboran saat beberapa hari sebelum kejadian, beberapa jam sebelum kejadian, dan setelah. Dari situ, kata dia, bisa diketahui apakah ada kelalaian atau pelanggaran prosedur operasi standar (SOP) yang dilakukan Pertamina.

"Jadi kalau di pengeboran itu ada image log atau data rekaman. Bisa diketahui pengambilan keputusannya seperti apa?"

Semua informasi itu, kata Merah, telah diajukan ke Pertamina agar dibuka.

"Kita minta data dan informasi itu diungkap ke publik. Karena Pertamina itu BUMN, dia tunduk pada UU KIP. Bahkan kami sudah kirim surat membuat poin-poin yang intinya menanyakan hal-hal yang berkaitan peristiwa di anjungan."

Baca juga: Ridwan Kamil Minta Pertamina Tangani Tumpahan Minyak dalam Waktu 10-14 Hari

Kalaupun kini Pertamina tengah melakukan investigasi internal, Jatam berharap ada tim independen yang melakukannya.

"Ini kan kegagalan pengeboran, ada indikasi kelalaian. Kita heran, penegak hukum kok diam saja. Tidak melakukan penyelidikan. Polisi kemana? Harusnya ada penyelidikan, kita minta ada tim independen."

Namun demikian, VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, mengatakan tidak bisa membuka semua informasi itu. Selain karena masih diselidiki, juga tak bisa diakses lantaran area itu terisolir.

"Kita belum bisa sampaikan karena masih di bawah investigasi. Belum tentu juga terjadi pelanggaran SOP. Yang bisa saya sampaikan bahwa Pertamina punya banyak working area dan baru kali ini terjadi begini. Kita tidak tahu ini adalah reaksi natural atau ada sesuatu di situ," jelasnya.

Di sisi lain, pengamat perminyakan, Kurtubi, menilai kebocoran sumur minyak dan gas di sumur tua seperti yang terjadi di lepas pantai Karawang, memiliki risiko lebih tinggi dibanding sumur baru. Itu sebabnya, Pertamina, harus memperhatikan dan memperhitungkan betul SOP yang ada. Apalagi jika sumur minyak itu berada di bawah laut.

"Di hulu tinggi sekali risikonya. Itu sebab sejauh ini kita undang investor untuk mau eksplorasi di sektor hulu mencari cadangan baru. Karena (sumur tua) risikonya tinggi sekali," ujar Kurtubi kepada BBC Indonesia.

Dari pengamatannya, sumur YYA-1 Blok Offshore North West Java (ONWJ) sudah berusia sekitar 30 sampai 40 tahun yang mula-mula dikerjakan oleh pihak swasta. Sumur tua itu lantas diambil Pertamina dengan harapan, bisa meningkatkan produksi minyak --yang dalam catatan Kurtubi, terus turun setiap tahun.

Baca juga: Ridwan Kamil Imbau Nelayan Tak Jual Ikan yang Terpapar Limbah Minyak

"Jadi membutuhkan pengeboran baru dan butuh waktu untuk tingkatkan produksi. Karena sudah belasan tahun produksinya terus turun dan hampir tidak ada cadangan baru. Jadi yang sudah ada diupayakan untuk tingkatkan produksi dengan pengeboran baru di lapangan," jelasnya.

Kurtubi juga mengatakan, cadangan minyak di sumur tersebut masih terbilang besar. Kendati diperlukan "pengeboran tambahan" agar minyak "bisa naik ke atas atau berproduksi".

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X