Polemik Suku Komodo di Pulau Komodo, Dianggap Penduduk Liar hingga Wacana Relokasi

Kompas.com - 12/08/2019, 10:27 WIB
Nasib suku Komodo di Pulau Komodo (ANTARA Foto/dok) AntaranewsNasib suku Komodo di Pulau Komodo (ANTARA Foto/dok)
Editor Rachmawati

KUPANG, KOMPAS.com - Ishata (65), salah seorang warga tetua di kampung Pasir Panjang di Pulau Rinca bercerita tentang asal komodo (varanus komodoensis).

Pulau Rinca adalah salah satu pulau dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur

Ia tampak tidak segan-segan bercerita tentang masa lalu penduduk di Pulau Rinca.

"Kalau yang pertama kali menghuni Pulau Rinca adalah suku Komodo, kemudian disusul suku Bajo," kisahnya.

Baca juga: 7 Ekor Rusa Mati Selundupan dari Pulau Komodo Dimusnahkan

Menurut legenda, komodo sebenarnya merupakan kembaran dari suku Komodo yang dilahirkan oleh seorang wanita bernama Putri Naga yang kemudian menikah dengan seorang pria setempat.

Putri Naga kemudian melahirkan seorang laki-laki dan sebuah telur yang kemudian menetaskan hewan komodo betina.

Kaitan suku Komodo dengan hewan komodo itu diketahui saat anak dari Putri Naga sedang berburu.

Kala itu ia menemui seekor komodo yang hendak memakan rusa buruannya. Saat akan membunuhnya, muncul sang Putri Naga Komodo yang memberitahu bahwa komodo tersebut adalah saudara kembarnya.

"Kalau tidak ada peristiwa perburuan maka saudaranya ini tidak tahu bahwa kembarannya ini Komodo. Dia mau angkat panahnya, kata mamanya jangan lah engkau bunuh, itulah saudaramu," ujar Ishata.

Dari cerita warga, komodo biasanya turun ke perkampungan mereka karena mencium bau anyir atau amis.

Baca juga: 8 Ekor Rusa Diselundupkan dari Pulau Komodo, 7 Dalam Kondisi Mati

Komodo biasanya mengejar kambing warga atau kucing yang mendekati habitat mereka. Namun, kata Ishata, di zaman dahulu komodo bisa mengerti bahasa suku Komodo.

Seperti moke mai (jangan datang), moke waki ahu (jangan gigit saya). Jika diucapkan maka komodo itu pergi dengan sendirinya.

Tapi, sayangnya kebiasaan itu kini telah pudar seiring dengan pejalanan waktu dan perkembangan peradaban manusia.

Penduduk Desa Pasir Panjang berjumlah sekitar 1.330 jiwa atau sekitar 450 kepala keluarga (KK) dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan. Namun, penduduk asli Pulau Komodo, praktis tidak diketahui persis berapa jumlahnya.

Atas dasar itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat kemudian menilai bahwa para penghuni Pulau Komodo tidak memiliki hak atas kepemilikan lahan yang mereka tempati selama ini.

"Mereka tidak memiliki hak kepemilikan lahan seperti hak warga negara lain. Mereka tidak memiliki sertifikat hak kepemilikan atas lahan di Pulau Komodo," kata Viktor Bungtilu Laiskodat ketika ditanya soal upaya pemerintah NTT terhadap warga setempat saat Pulau Komodo dikonservasi pada 2020.

Baca juga: Warga Labuan Bajo Demo Tolak Rencana Penutupan Pulau Komodo

Hambat populasi

Abdurahman (52, kiri), bersama rekannya menyelesaikan pembuatan patung Komodo di Desa Komodo, Kecamatan Komdo, Manggarai Barat, NTT, Selasa ( 15/12). Mata pencaharian penduduk Desa Komodo adalah nelayan dan pembuat kerajinan patung Komodo, yang pemasarannya bergantung pada pengunjung Pulau Komodo baik warga asing maupun domestik.Antaranews Abdurahman (52, kiri), bersama rekannya menyelesaikan pembuatan patung Komodo di Desa Komodo, Kecamatan Komdo, Manggarai Barat, NTT, Selasa ( 15/12). Mata pencaharian penduduk Desa Komodo adalah nelayan dan pembuat kerajinan patung Komodo, yang pemasarannya bergantung pada pengunjung Pulau Komodo baik warga asing maupun domestik.
Didik Pradjoko M.Hum, dosen pada Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dalam penelitiannya mengatakan penduduk Pulau Komodo dikenal dengan sebutan Ata Modo dan pulaunya disebut Tana Modo,

Selama ini masyarakat yang mendiami Pulau Komodo tidak terlayani secara baik khususnya dalam aspek pelayanan kesehatan maupun sektor pendidikan. Lalu Presiden Joko Widodo menghendaki agar warga di Pulau Komodo direlokasi ke tempat yang layak dan diberikan lahan yang memadai disertai sertifikat hak kepemilikan lahannya.

Menurut Gubernur Laiskodat, apabila masih ada warga yang menempati Pulau Komodo maka pertumbuhan manusia yang tinggal di kawasan itu lebih cepat dari pada populasi komodo sehingga dikhawatirkan habitat komodo akan terus berkurang.

Baca juga: Bedanya Komodo Pulau Flores dan yang Ada di Taman Nasional

Gubernur Laiskodat mengatakan, banyak pihak di NTT mendukung terhadap kebijakan pemerintah daerah untuk menutup Pulau Komodo selama satu tahun mulai 2020 sebagai upaya melakukan penataan kawasan konservasi Komodo.

"Kami inginkan kawasan wisata di Pulau Komodo menjadi indah, bersih dan ekosistemnya kembali seperti yang aslinya sehingga Komodo terus bertambah dengan populasi yang banyak. Atas dasar alasan itu maka mulai 2020, Pulau Komodo harus dikonservasi," kata Laiskodat.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan konservasi yang menyasar Pulau Komodo akan dilakukan secara bertahap. Salah satu yang akan dilakukan adalah memindahkan warga lokal ke pulau lain di dekat Pulau Komodo.

Baca juga: 6 Komodo yang Dilepasliarkan di Pulau Ontoloe NTT Berjenis Betina

Menurut Marius, saat ini pemerintah provinsi sedang intensif menggelar rapat dengan sejumlah pihak terkait rencana konservasi di Pulau Komodo. Rapat ini membahas persiapan rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang terkait pulau yang menjadi habitat komodo itu.

Tahapan tersebut, akan dijalankan selama setahun. Penerapan rencana itu, nantinya bisa menyasar infrastruktur ke Pulau Komodo, menumbuhkan pohon endemik setempat, memindahkan warga lokal dan pedagang kaki lima (PKL) ke pulau di sekitar Pulau Komodo.

Setelah konservasi dilakukan dan pulau tersebut kembali tertata dengan baik, pulau tersebut akan kembali dibuka untuk tujuan wisata. Namun, dia menggarisbawahi bahwa sistem wisata dan manajemen tata kelola di Pulau Komodo ke depannya akan berubah.

Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Labuan Bajo mengatakan, jika ingin melihat komodo, wisatawan bisa berwisata ke Pulau Rinca yang banyak komodonya. Presiden juga mengisyaratkan Pulau Komodo akan dibuat lebih eksklusif, namun Pulau Rinca tidak.

Baca juga: Ketika Warga Ngada NTT Menari Sambut Kedatangan 6 Komodo...

Rancangan besar

Seekor komodo (Veranus komodoensis) penghuni Pulau Komodo, Provinsi Nusa Tenggara TimurAntaranews Seekor komodo (Veranus komodoensis) penghuni Pulau Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur
"Rinca tetap punya hitungan daya dukung, berapa turis yang datang. Enggak mungkin kita buka silakan, silakan, enggak ada seperti itu," ujar Presiden Jokowi.
Kepala Negara menargetkan semua pembenahan di Pulau Komodo akan selesai maksimal dua-tiga tahun. "Jadi saat bandaranya jadi, runway-nya jadi, hotel-hotel mulai jadi, di sini juga siap," ungkapnya.

Rancangan besar itu akan dibahas dalam suatu rapat terbatas. Orang nomor satu di pemerintahan Indonesia itu mengatakan, bahwa semua harus didesain dengan baik dan dikerjakan tidak parsial.

"Kita ini senangnya mengerjakan parsial, anggaran setahun Rp200 juta, Rp500 juta, jadi mau buat apa gitu. Jadi betul-betul dirancang, uang sekali keluar tapi dirancang, direncanakan, dan betul-betul dari turun di bandara sampai ke tempat-tempat tujuan ini betul-betul kelihatan sambung semuanya kira-kira itu," kata Presiden Jokowi.

Baca juga: Ada Ribuan Komodo Tersebar di Taman Nasional Komodo dan Pulau Flores

Namun, wacana relokasi terhadap masyarakat yang mendiami Pulau Komodo dinilai tidak beralasan, karena tindakan relokasi dinilai sebagai sesuatu kekeliruan besar yang dilakukan oleh Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) NTT, Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi mengatakan berdasarkan Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 07 Tahun 2016 menegaskan bahwa unit pengelolaan penyelenggaraan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya berada di bawah tanggung jawab Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem.

“Penutupan Pulau Komodo dilakukan untuk menata ketersediaan pangan bagi Komodo agar performa Komodo tidak lemas. Selain itu, penutupan tersebut juga bertujuan untuk menata taman bunga agar terlihat lebih indah," katanya.

Baca juga: 6 Fakta Komodo yang Gagal Diselundupkan, Disambut Upacara Adat hingga Dilepasliarkan di Pulau Ontoloe

Umbu Wulang menegaskan bahwa pernyataan Gubernur Laiskodat tentang penduduk liar adalah pernyataan yang tidak dapat dibenarkan, sebab masyarakat yang hidup dan menetap di Pulau Komodo tentu tidak memiliki hak atas kepemilikan lahan, karena Pulau Komodo telah ditetapkan sebagai Taman Nasional.

Tetapi, jika diurutkan ke belakang maka jelas bahwa sebelum penetapan Taman Nasional Komodo (TNK), Pulau Komodo merupakan hak ulayat masyarakat setempat. Namun, setelah ditetapkan sebagai TNK, masyarakat yang menetap di Pulau Komodo dianggap sebagai penduduk liar.

Umbu Wulang mengingatkan pemerintah agar upaya pelestarian Komodo tidak perlu dilakukan dengan cara merelokasi penduduk yang hidup secara turun-temurun di Pulau Komodo, tetapi sebaliknya menjadikan mereka sebagai benteng terdepan dalam upaya pelestarian komodo.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Ambon, Rumah Anggota Polisi Roboh

Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Ambon, Rumah Anggota Polisi Roboh

Regional
Pemadaman Bergilir Selama Sepekan Resahkan Warga NTB, Ini Alasan PLN

Pemadaman Bergilir Selama Sepekan Resahkan Warga NTB, Ini Alasan PLN

Regional
Empat Gempa Beruntun Guncang Ambon Sabtu Pagi, Warga Panik Berhamburan

Empat Gempa Beruntun Guncang Ambon Sabtu Pagi, Warga Panik Berhamburan

Regional
Cerita Ketua RW di Kembangan Lari Kejar Pelaku Penyiraman Air Keras ke 6 Siswi SMP

Cerita Ketua RW di Kembangan Lari Kejar Pelaku Penyiraman Air Keras ke 6 Siswi SMP

Regional
Fakta 3 Saudara Sekandung di Belawan Terduga Teroris Bom Medan: Nyuruh Ngaji Bagus-bagus, Kok Kayak Gini...

Fakta 3 Saudara Sekandung di Belawan Terduga Teroris Bom Medan: Nyuruh Ngaji Bagus-bagus, Kok Kayak Gini...

Regional
Duduk Perkara Keraton Pecat Abdi Dalem Berusia 68 Tahun karena Diduga Lecehkan Mahasiswi

Duduk Perkara Keraton Pecat Abdi Dalem Berusia 68 Tahun karena Diduga Lecehkan Mahasiswi

Regional
Aksi Pencurian Motor NMax di Jalan Rajawali Pondok Aren Terekam CCTV

Aksi Pencurian Motor NMax di Jalan Rajawali Pondok Aren Terekam CCTV

Regional
Kontroversi Kolam Renang Rp 1,5 M di Rumah Dinas,  Terapi Renang Kaki Ridwan Kamil yang Cidera dan Ruang Publik

Kontroversi Kolam Renang Rp 1,5 M di Rumah Dinas, Terapi Renang Kaki Ridwan Kamil yang Cidera dan Ruang Publik

Regional
Sengatan Tawon Vespa Affinis Kembali Renggut Korban Jiwa di Klaten

Sengatan Tawon Vespa Affinis Kembali Renggut Korban Jiwa di Klaten

Regional
Hormati Djaduk Ferianto, Mahfud MD Akan Hadiri Ngayogjazz 2019

Hormati Djaduk Ferianto, Mahfud MD Akan Hadiri Ngayogjazz 2019

Regional
[POPULAR NUSANTARA] Umat Hindu di Bantul Butuh Rumah Ibadah | Ridwal Kamil Bicara soal Kolam Renang Rp 1,5 M

[POPULAR NUSANTARA] Umat Hindu di Bantul Butuh Rumah Ibadah | Ridwal Kamil Bicara soal Kolam Renang Rp 1,5 M

Regional
Jusuf Kalla Ucapkan Selamat atas Lahirnya Cucu Ketiga Jokowi, La Lembah Manah

Jusuf Kalla Ucapkan Selamat atas Lahirnya Cucu Ketiga Jokowi, La Lembah Manah

Regional
Bagaimana Penenggelaman Kapal 5 Tahun ke Depan?

Bagaimana Penenggelaman Kapal 5 Tahun ke Depan?

Regional
Selvi Lahirkan Bayi Perempuan, Gibran Beri Nama La Lembah Manah

Selvi Lahirkan Bayi Perempuan, Gibran Beri Nama La Lembah Manah

Regional
Selidiki Kasus Bom Medan, Polisi 5 Jam Geledah 3 Rumah di Belawan, Ini Hasilnya

Selidiki Kasus Bom Medan, Polisi 5 Jam Geledah 3 Rumah di Belawan, Ini Hasilnya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X