Kisah Pengungsi Nduga Papua, Tak Punya apa-apa dan Ingin TNI Ditarik Agar Bisa Kembali ke Desa

Kompas.com - 02/08/2019, 05:50 WIB
Editor Rachmawati

Menurut peneliti Marthinus Academy, Hipolitus Wangge, sebagian besar dari pengungsi menumpang di rumah kerabat karena mereka tidak memiliki tempat penampungan.

Baca juga: Ganja dan 80 Butir Amunisi yang Disita Diduga untuk Kelompok Separatis di Nduga

"Dari awal pemerintah Kabupaten Nduga dan Kabupaten Jayawijaya tidak menyiapkan tempat khusus untuk para pengungsi yang berjumlah sekitar 5.200-an ini," ujarnya.

"Pengungsi internal ini tidak direlokasi di tempat yang khusus sehingga mereka harus tinggal di rumah warga. Beberapa di antara mereka membangun rumah semi permanen karena mereka tidak bisa tinggal di rumah yang sama dan dalam satu rumah itu tinggal beberapa kepala keluarga," kata dia.

Theo Hasegem, selaku Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) yang mendampingi para pengungsi, mengungkapkan saat ini masih banyak pengungsi yang bertahan di hutan guna menghindari konflik yang terjadi di daerah asal.

Baca juga: Kodam Cenderawasih Sebut Mayoritas Warga Nduga Bermigrasi, Bukan Mengungsi

 

"Kurang makan, pakaian tidak layak"

Sejak awal pekan ini, Kementerian Sosial mulai mendistribusikan bantuan untuk para pengungsi Nduga di Wamena, Papua. Namun, ketika mereka mulai mendistribusikan bantuan di Gereja Weneroma, pada Senin (29/07), bantuan itu malah ditolak oleh para pangungsi.

Sandra Kogoya adalah salah satu pengungsi yang menolak bantuan. Dia menuding adanya keterlibatan militer dalam pendistribusian bantuan.

"Kalau pemerintah yang langsung bawa ke sini, kami bisa dapat. Tapi karena melalui Kodim, sementara Kodim menghabiskan rumah dan segala macam di sana, jadi kami tidak setuju, suka, menerima makanan dari mereka".

Theo Hasegem mengungkapkan, para pengungsi menuntut agar operasi militer di Nduga dihentikan sehingga mereka bisa kembali ke daerah asalnya.

"Kami minta pasukannya ditarik dari Nduga sehingga kalau itu ditarik, berarti kami kembali ke sana kemudian bisa lakukan pemulihan total," tegas Theo.

"Masyarakat pengungsi yang ada di mana-mana kita kembalikan. Kondisi rumah yang rusak segala macam bisa dibangun kembali," sambungnya.

Bantuan untuk pengungsi berupa makanan anak. dok BBC Indonesia Bantuan untuk pengungsi berupa makanan anak.

Pejabat Kementerian Sosial yang mendistribusikan bantuan di Wamena, Victor Siahaan, menyayangkan aksi penolakan ini. Dia memandang penolakan akan semakin membebani pengungsi Nduga yang menjadi korban konflik bersenjata antara militer dan kelompok pro-kemerdekaan.

"Kami tidak menghiraukan masalah-masalah politik. Kami Kementerian Sosial, hanya terkonsentrasi pada masalah-masalah kemanusiaan. Pengungsi Nduga yang ada di Wamena, Lanijaya, dan Asmat itu terlantar, artinya kurang makan, pakaiannya tidak layak, dan lain sebagainya, yang terkait dengan kurang terpenuhinya kebutuhan dasar mereka."

"Kami bawa barang tersebut ke lokasi yang mereka berada, itu kok ada pihak yang membatasi, menghalangi, bahkan menghambat? Ini kan kita menjadi kasihan kepada masyarakat yang sebenarnya memang terpapar," jelas Victor.

Baca juga: Kemensos Sebut 53 Pengungsi Nduga Meninggal Dunia


'Adat perang'

Pengungsi Nduga menumpang di kerabat di Wamena. dok BBC Indonesia Pengungsi Nduga menumpang di kerabat di Wamena.
Theo Hasegem, selaku Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP), menerangkan mengapa para pengungsi tidak menerima bantuan apabila aparat TNI/Polri dilibatkan dalam proses penyaluran bantuan sosial.

Hal ini, menurutnya, tak lepas dari trauma pengungsi atas keberadaan militer yang melakukan pengejaran terhadap kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogoya.

Selain itu, kepercayaan adat mereka bahwa mereka tidak bisa menerima bantuan dari 'pihak musuh'.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Harga Sawit Terus Turun, Gubernur Se-Sumatera Bertemu Carikan Solusi

Harga Sawit Terus Turun, Gubernur Se-Sumatera Bertemu Carikan Solusi

Regional
Antisipasi Dampak Psikososial Pascabencana, Pemprov Papua Siagakan 360 Relawan

Antisipasi Dampak Psikososial Pascabencana, Pemprov Papua Siagakan 360 Relawan

Regional
Pemprov Papua Cek Kondisi Sapi Kurban dari Presiden Jokowi

Pemprov Papua Cek Kondisi Sapi Kurban dari Presiden Jokowi

Regional
Bantu Penyintas APG Gunung Semeru, Dompet Dhuafa Dirikan 50 Huntara

Bantu Penyintas APG Gunung Semeru, Dompet Dhuafa Dirikan 50 Huntara

Regional
Bekerja Sama dengan Komunitas Muslim Selandia Baru, Dompet Dhuafa Hadirkan Pos Gizi di Garut

Bekerja Sama dengan Komunitas Muslim Selandia Baru, Dompet Dhuafa Hadirkan Pos Gizi di Garut

Regional
Gubernur Khofifah Sebut Kompetensi ASN Jadi Kunci Perbaikan Kualitas Birokrasi

Gubernur Khofifah Sebut Kompetensi ASN Jadi Kunci Perbaikan Kualitas Birokrasi

Regional
Pemprov Papua Berharap Pemda Hidupkan PMI yang Konsisten Jalankan Misi Kemanusiaan

Pemprov Papua Berharap Pemda Hidupkan PMI yang Konsisten Jalankan Misi Kemanusiaan

Regional
Pemprov Papua Kerahkan 96 Nakes untuk Cek Kondisi Hewan Kurban Jelang Idul Adha

Pemprov Papua Kerahkan 96 Nakes untuk Cek Kondisi Hewan Kurban Jelang Idul Adha

Regional
Wujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Akuntabel, Pemprov Papua Maksimalkan Sistem E-Government

Wujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Akuntabel, Pemprov Papua Maksimalkan Sistem E-Government

Regional
Optimalkan Pendidikan Anak, Pemkot Madiun Cegah Pernikahan Dini hingga Perangi Stunting

Optimalkan Pendidikan Anak, Pemkot Madiun Cegah Pernikahan Dini hingga Perangi Stunting

Regional
Dompet Dhuafa Kirimkan Tim QC ke NTT untuk Cek Kesehatan Hewan Kurban

Dompet Dhuafa Kirimkan Tim QC ke NTT untuk Cek Kesehatan Hewan Kurban

Regional
Bupati Jekek: Saya Yakin PPPK Guru di Wonogiri Mampu Jawab Tuntutan Zaman

Bupati Jekek: Saya Yakin PPPK Guru di Wonogiri Mampu Jawab Tuntutan Zaman

Regional
Dorong Pertumbuhan Industri, Pemprov Papua Akan Bangun PLTA Berkapasitas 100 MW di Jayawijaya

Dorong Pertumbuhan Industri, Pemprov Papua Akan Bangun PLTA Berkapasitas 100 MW di Jayawijaya

Regional
Kejar Target Perekaman E-KTP Wilayah Meepago, Pemprov Papua Buka Layanan di Paniai

Kejar Target Perekaman E-KTP Wilayah Meepago, Pemprov Papua Buka Layanan di Paniai

Regional
Gubenrur Jatim Berikan Bantuan Sambungan Listrik PLN untuk 1.951 Penyintas APG Semeru

Gubenrur Jatim Berikan Bantuan Sambungan Listrik PLN untuk 1.951 Penyintas APG Semeru

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.