Ke Samosir, Jokowi Kunjungi Kampung Hukum Siallagan di Kawasan Danau Toba

Kompas.com - 31/07/2019, 16:47 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kedua kanan) mengenakan kain ulos saat mengunjungi kawasan kerajinan tenun ulos di Presiden tinjau kawasan kerajinan ulos di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara, Selasa (30/7/2019). AntaranewsPresiden Joko Widodo (tengah) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kedua kanan) mengenakan kain ulos saat mengunjungi kawasan kerajinan tenun ulos di Presiden tinjau kawasan kerajinan ulos di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara, Selasa (30/7/2019).
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Pada hari ketiga kunjungan kerjanya di Provinsi Sumatera Utara, Presiden Joko Widodo meninjau Kampung Huta Siallagan, Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Kampung Huta Siallagan adalah kampung adat yang menjadi titik awal sejarah peradaban penegakan hukum di Samosir pada dahulu kala.

Kampung tersebut merupakan salah satu daya tarik wisata di sekitar kawasan Danau Toba yang terkenal sebagai kawasan penegan hukum.

Baca juga: Kunjungi Danau Toba, Jokowi Ingin Tahun Depan Promo Besar-besaran

Presiden bersama Ibu Negara Iriana Widodo berkunjung ke kawasan itu pada Rabu (31/7/2019) pagi untuk meninjau pengembangan destinasi wisata dan pembangunan infrastruktur pendukungnya.

Di kampung berhawa sejuk yang berada tak jauh dari kawasan Danau Toba itu, Presiden mendapat sambutan dari Bupati Samosir Rapidin Simbolon dan sejumlah tokoh adat, termasuk raja ke-17 Siallagan bernama Gading Jansen Siallagan yang menceritakan asal mula "kampung hukum" kepada Presiden.

Gading tetua kampung tersebut menuturkan bahwa di Huta Siallagan ada area yang disebut dengan batu persidangan, yakni tempat raja mengadili para pelanggar hukum adat.

Batu persidangan terdiri atas satu meja dengan kursi-kursi yang disusun melingkar.

"Jadi kalau Raja Siallagan bersidang, memberikan hukuman kepada setiap penjahat, di sinilah dia disidang," kata Gading.

Baca juga: Jokowi: Kalau Investor Danau Toba Enggak Mulai-mulai Juga, Ganti!

Gading menjelaskan pula bahwa batu persidangan di sebelah kanan raja dalam prosesi persidangan pada masa dahulu biasanya ditempati oleh adik-adik raja, sedangkan batu yang ada di sebelah kiri raja merupakan tempat para penasihat, termasuk dua penasihat terdakwa, dua penasihat korban, dan satu penasihat kerajaan.

"Kenapa mereka perlu penasihat kerajaan? Apabila tidak ada komitmen (kesepakatan) antara empat penasihat, maka keputusan ada di tangan penasihat kerajaan," jelas Gading.

"Jadi jangan aneh bapak, kalau orang Batak banyak jadi pengacara. Jadi kayaknya pak, mereka itu lulusan Siallagan semua," tambah Gading berkelakar.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X