Di Banyumas, Siswa MTs Ini Bisa Bayar Sekolah Pakai Ketela dan Pisang

Kompas.com - 24/07/2019, 06:55 WIB
Siswa MTs Pakis Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, membersihkan rumput liar di ladang, Senin (22/7/2019). Fadlan Mukhtar ZainSiswa MTs Pakis Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, membersihkan rumput liar di ladang, Senin (22/7/2019).

 

BANYUMAS, KOMPAS.com - Dari arah Telaga Kumpe, Gununglurah, Banyumas, di pinggir hutan kaki Gunung Slamet, David (15) berjalan di antara semak menuju kerumunan anak-anak. Di tangan kirinya tampak menenteng kantong plastik warna hitam.

"Ngarah welut nggo digoreng (mencari belut untuk digoreng)," kata David sambil menunjukkan isi kantong plastik kepada rekan-rekannya yang tengah berkumpul di area ladang.

David lantas membaur dengan rekan seusianya yang tengah sibuk membersihkan rumput dan tanaman liar di area ladang, dekat sekolahnya.

Baca juga: Sekolah Disegel, Ratusan Siswa SD di Bengkulu Belajar di Jalan

Tanpa seragam, tanpa sepatu, setiap hari siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pakis, Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah tersebut mengisi kegiatan belajar.

Selain menjalani aktivitas formal di dalam kelas, mereka juga akrab dengan kegiatan di alam sekitar. Area tepi hutan di kaki Gunung Slamet tersebut merupakan wahana belajar tanpa batas bagi anak-anak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Salah satu relawan MTs Pakis Ahmad Munaji (22) mengatakan, konsep pembelajaran yang diterapkan berbeda dengan sekolah formal pada umumnya. Anak-anak dibebaskan untuk memilih belajar di dalam kelas atau luar kelas.

"Anak-anak belajarnya beda dengan sekolah formal, tapi belajar dengan alam sekitar. Di awal pembelajaran disepakati dengan anak-anak, mau di kelas atau di luar," kata Aji, sapaannya, Senin (22/7/2019).

Mereka diajarkan bercocok tanam berbagai tanaman, termasuk sayur-mayur, juga beternak. Hasil panen atau hasil ternak dapat dimanfaatkan secara langsung oleh anak-anak.

Menurut Aji, sesuai tujuan awal pengelolanya, Isrodin, sekolah yang berdiri tahun 2014 ini untuk membantu masyarakat sekitar hutan. Kebanyakan, selepas lulus SD anak-anak jadi pengangguran, bahkan tidak jarang yang akhirnya menikah muda.

"Masyarakat sekitar kebanyakan petani, Kang Is (sapaan Isrodin) ingin anak-anak tetap sekolah, tanpa membebani orang tua. Kebanyakan terkendala ekonomi, padahal semangat belajar mereka sangat tinggi," ujar Aji.

Baca juga: Miris,19 Siswa SMK Ini Gagal Kuliah karena Ditelantarkan Sekolah

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk, Wali Kota Madiun Terima Penghargaan MKK 2021

Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk, Wali Kota Madiun Terima Penghargaan MKK 2021

Regional
Sapa Warga Subang dan Purwakarta, Ridwan Kamil Bagikan Sembako dan Tinjau Vaksinasi

Sapa Warga Subang dan Purwakarta, Ridwan Kamil Bagikan Sembako dan Tinjau Vaksinasi

Regional
Mahasiswa Bantu Penanganan Covid-19, Ganjar Pranowo Berikan Apresiasi

Mahasiswa Bantu Penanganan Covid-19, Ganjar Pranowo Berikan Apresiasi

Regional
Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi 'Getar Dilan' Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi "Getar Dilan" Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Regional
Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Regional
Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Regional
Kolaborasi Jadi Kunci Kudus Terlepas dari Status Zona Merah Covid-19

Kolaborasi Jadi Kunci Kudus Terlepas dari Status Zona Merah Covid-19

Regional
Ganjar Pranowo Disambangi Aktivis Mahasiswa Malam-malam, Ada Apa?

Ganjar Pranowo Disambangi Aktivis Mahasiswa Malam-malam, Ada Apa?

Regional
KRI Dr Soeharso-990 Bantu Pasokan Oksigen Jateng, Ganjar: Kami Prioritaskan untuk RS di Semarang Raya

KRI Dr Soeharso-990 Bantu Pasokan Oksigen Jateng, Ganjar: Kami Prioritaskan untuk RS di Semarang Raya

Regional
Kasus Covid-19 di Luwu Utara Tinggi, Bupati Indah Instruksikan Kepala Wilayah Jadi Pemimpin Lapangan

Kasus Covid-19 di Luwu Utara Tinggi, Bupati Indah Instruksikan Kepala Wilayah Jadi Pemimpin Lapangan

Regional
Walkot Benyamin Pastikan Tangsel Tangani Pandemi di Hulu dan Hilir Secara Serampak

Walkot Benyamin Pastikan Tangsel Tangani Pandemi di Hulu dan Hilir Secara Serampak

Regional
Tinjau Vaksinasi di Karawang dan Bekasi, Wagub Uu Optimistis Herd Immunity Akan Tercapai

Tinjau Vaksinasi di Karawang dan Bekasi, Wagub Uu Optimistis Herd Immunity Akan Tercapai

Regional
Melalui Fintech, Kang Emil Minta Bank BJB Adaptasi Sistem Keuangan Masa Depan

Melalui Fintech, Kang Emil Minta Bank BJB Adaptasi Sistem Keuangan Masa Depan

Regional
Dompet Dhuafa Salurkan 106 Ekor Hewan Kurban di Pedalaman Riau

Dompet Dhuafa Salurkan 106 Ekor Hewan Kurban di Pedalaman Riau

Regional
Terkait PPKM Level 4 di Semarang, Walkot Hendi Longgarkan 3 Aturan Ini

Terkait PPKM Level 4 di Semarang, Walkot Hendi Longgarkan 3 Aturan Ini

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X