Cerita Adilta, Merintis Usaha di Balik Musik Cadas Kota Medan

Kompas.com - 19/07/2019, 11:56 WIB
 Adilta Ginting di gerai Euphoria Rockshop-nya, Jumat (19/7/2019)

MEI LEANDHA ROSYANTI Adilta Ginting di gerai Euphoria Rockshop-nya, Jumat (19/7/2019)

MEDAN, KOMPAS.com - Keinginan berbisnis dan merintis usaha baru bukan satu-satunya alasan bagi Adilta Ginting, saat mendirikan Euphoria, pada 2011. Toko yang menjual berbagai atribut grup musik cadas di Kota Medan, Sumatera Utara, itu lahir karena semangat ingin

membantu teman-teman musisi bawah tanah yang mengusung semangat underground.
 
Menurut Adilta, saat itu para musisi khususnya komunitas musik keras di Kota Medan belum kompak dan tak punya wadah untuk bersatu sehingga lebih berkembang.
 
Di awal kehadirannya, Euphoria mulai merilis merchandise berupa kaos band-band lokal beraliran metal, hardcore dan punk seperti Cranium dan Fingerprint. Tujuannya, tidak lain untuk membantu pendanaan awal para musisi dari royalti rilisan yang dibuat.
 
 
Menurut Adilta, saat merilis album, biasanya band-band independent butuh dana tak sedikit. Euphoria tak cuma membuatkan merchandise. Namun, Euphoria membantu merilis album dengan membuatkan pagelaran musik bagi band yang baru mengeluarkan album.
 
"Sdah hampir semua band-band di Medan, kalau yang sudah kami rilis sekitar 50-an dari 2011 sampai sekarang," kata Adilta kepada Kompas.com, Jumat (19/7/2019).
 
Kaos band hingga panggung festival
 
Mulanya tak dikenal sampai akhirnya sangat dikenal, menjadi catatan panjang bagi pria kelahiran 1974 ini. Adilta menyadari, rilisan merchandise tak cukup mendongkrak laju popularitas dan perkembangan usaha clothing line.
 
Apalagi, Adilta bukan musisi, namun hanya penikmat musik-musik cadas dan double beat .
 
Menggelar gigs atau pagelaran musik menjadi pilihan. Euphoria Fest pecah telur pada 2011, dan hasilnya cukup menggembirakan.
 
Acara-acara musik dalam sekala kecil yang sesuai segmentasi semakin rutin dilakukan. Rencananya, pada September 2019 ini, Euphoria akan mengundang band dari luar negeri. 
 
"Kita buat acara untuk mereka, sekaligus promo. Sekarang kita yang dirangkul, seperti Magnumotion 2019 kemarin. Ini gede, penting sekali acara seperti ini, inilah goal kami...," ucap Adilta sambil tersenyum.
 
Untuk band-band lokal yang ingin bekerjasama, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara ini membuka pintu selebar-lebarnya.
 
Euphoria juga memiliki produk sendiri seperti kaos, ikat pinggang, topi, tas dan sepatu. Harganya mulai dari Rp 125.000, hingga yang paling mahal sepatu yang dibandrol sekitar Rp400.000.
 
Produk yang paling banyak dirilis adalah kaos. Setiap tema artikel bisa merilis 10 lusin kaos.
 
Selain mengikuti perkembangan pasar, Adil juga mengikuti perkembangan musim dan keramaian yang sedang terjadi. Misalnya, saat musim anak sekolah, maka tokonya lebih banyak merilis tas.
 
Soal desain produk, Euphoria punya ciri khas sendiri.
 
"Dari karakter gambarnya udah kelihatan itu kita. Dia dark, gambar tengkorak tapi lebih soft, gak seram-seram kali. Setiap bulan untuk kaos kita rilis 10 artikel," kata warga Kecamatan Medan Johor ini.  
 
Adilta mengatakan, lima tahun belakangan ini penjualannya jauh lebih ramai dengan segmen pasar yang berbeda-beda. Baginya ini bisnis yang menjanjikan meski harus siap jatuh bangun dan terus berinovasi.
 
Adil tak memiliki kekhawatiran bisnisnya akan ditiru orang lain, karena pasar yang dimilikinya harus membuat orang berpikir dua kali.
 
"Segmennya masih anak-anak yang suka musik metal, lebih dark," kata Adil.
 

 Adilta Ginting di gerai Euphoria Rockshop-nya, Jumat (19/7/2019)


MEI LEANDHA ROSYANTI Adilta Ginting di gerai Euphoria Rockshop-nya, Jumat (19/7/2019)
Melawan stigma

Bertahan di genre yang sebagian orang memandangnya negatif, Adilta malah mengaku apa yang dilakukannya bagian dari melawan stigma tentang musik cadas. Menurutnya, underground bukan hanya untuk jenis musik tertentu.
 
Menurut Adilta, musik jenis apapun bisa disebut underground asal bergeraknya dari bawah.
 
Tak hanya merilis merchandise, gerai Euphoria Rockshop yang berada di Jalan Dr Mansyur Nomor 116, Kota Medan, juga menjadi ruang diskusi dan klinik edukasi untuk para pelaku dan komunitas musik.
 
Pembahasan mengenai berbagai isu yang berkembang. Salah satunya tentang rancangan undang-undang permusikan yang menuai pro dan kontra. Adil mengatakan, orang-orang yang datang ke tempatnya sebagian besar menolak regulasi tersebut, karena isinya dinilai mengekang kebebasan berekspresi dan menyampaikan aspirasi.
 
"Solidaritasnya kuat sekali, kita sekarang lebih positif dan peduli. Sinabung dan Palu sudah kita sentuh dengan donasi kemanusiaan. Kami bisa melawan stigma tentang para penyuka musik keras, kita tidak mengganggu," ujar Adil.

 
 
 



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X