Kontroversi Acara Floating Party, Joget dan Minum Bir di Atas Danau Toba...

Kompas.com - 19/07/2019, 09:10 WIB
Keindahan Lembah Bakkara, Sumatera Utara yang mengelilingi Danau Toba. KOMPAS.com/ Aji YK PutraKeindahan Lembah Bakkara, Sumatera Utara yang mengelilingi Danau Toba.
Editor Rachmawati

Ia kemudian mencontohkan masyarakat Bali yang tetap menjaga adat istiadatnya walaupun banyak wisatawan asing yang datang.

"Bayangkan lah, ketika mereka bersembahyang di pantai, di saat yang sama seseorang dengan bikini lewat, mereka tidak terpengaruh. Hal seperti itu yang saya harapkan di masyarakat di Danau Toba ini," katanya.

"Ini mengajarkan ke dunia bahwa Danau Toba bukan hanya tempat relaksasi saja. Tapi bisa party juga dan banyak spot yang sangat indah. Kalau nanti terlalu sakral lalu kita marahi orang, bagaimana. Kita bawa agama kita untuk kita saja. Jangan paksa orang menjadi kita. Orang itu kan beda."

Baca juga: Saat Luhut Ingatkan Para Bupati Sekitar Danau Toba Harus Mau Kerja Sama...


Tuai kontroversi

Sony mahasiswa perguruan tinggi swasta di Medan, menilai pesta pora di atas danau purba itu tidak etis karena danau tersebut memiliki nilai sakral. Apalagi pesta di atas kapal dilakukan dengan meminum minuman keras.

"Istilahnya, apakah pantas kegiatan seperti itu dilakukan di atas danau yang orang banyak juga tahu itu sakral. Mistisnya juga ada. Saya rasa itu tidak perlu ada," ujar pria yang mengaku lahir di Balige.

Warga lain, Patar Hutagalung mengatakan lebih baik memasarkan wisata Danau Toba dengan kegiatan positif. Dia mencontohkan lebih baik menampilkan kesenian daerah dibandingkan musik-musik DJ.

"Kan bule-bule pasti lebih suka musik tradisional daripada musik DJ ketika mereka di daerah yang kental dengan nuansa adat dan budayanya," katanya.

Baca juga: 2 Siswi Asal Jakarta Arungi Danau Toba Sejauh 135 Km dengan Kayak

Sementara Ojak Manalu, Direktur Rumah Karya Indonesia mengatakan, apa yang dilakukan di Volcano Floating Party tidak ada yang salah.

Dia bercerita jika temannya pernah ikut dalam event tersebut dan tidak menemukan hal berlebihan.

Menurutnya, justru yang dilakukan dapat menjadi daya tarik wisatawan asing berkunjung ke Danau Toba.

"Itu kan yang buat orang-orang situ. Orang-orang batak juga, jadi mereka sudah sangat tahu lah adat atau aturan. Tak mungkin mereka membuat sesuatu yang bisa merugikan mereka. Itu dapur dan periuk mereka," katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X