Orangtua Santri: Kami Trauma, Bantu Anak Kami Pindah dari Pesantren Ini…

Kompas.com - 12/07/2019, 15:45 WIB
Puluhan orang tua santri mendatangi kompleks Pesantren AN, di Kompleks Panggoi Indah, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Jumat (12/9/2019). KOMPAS.com/MASRIADI Puluhan orang tua santri mendatangi kompleks Pesantren AN, di Kompleks Panggoi Indah, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Jumat (12/9/2019).

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Puluhan orang tua santri mendatangi kompleks Pesantren AN, di Kompleks Panggoi Indah, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Jumat (12/9/2019).

Kedatangan mereka seiring ditangkapnya AI dan MY, pimpinan dan guru pesantren tersebut oleh penyidik Polres Lhokseumawe. Keduanya diduga mencabuli santri yang menimba ilmu di pesantren terpadu itu.

Lembaga itu menyewa delapan rumah dalam kompleks tersebut. Sebagian dijadikan asrama, sebagian lagi dijadikan ruang belajar dan mengajar. Di sana juga dididirkan madrasah tsanawiyah dan aliyah.

Mereka datang untuk mengambil barang anak-anaknya. Sebagian lagi meminta kejelasan uang yang telah disetorkan sebagai biaya pendidikan anak ke pesantren tersebut.

Baca juga: Satpol PP Jaga Pesantren yang Pimpinannya Cabuli 15 Santri

“Anak saya sudah kelas tiga aliyah. Delapan bulan lagi sudah selesai. Bantu kami pak, buat anak saya pindah dari pesantren ini ke sekolah lain. Tapi, saya tidak punya biaya. Kendalanya di biaya,” kata seorang ibu, yang tak mau menyebutkan namanya.

Ucapan itu disampaikan kepada Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) Pemerintah Kota Lhokseumawe, Muslem, yang datang mendengar keluhan orang tua wali.

Orang tua lainnya meminta agar uang yang telah diserahkan sebagai uang pangkal pendidikan bisa dikembalikan. Agar uang itu bisa digunakan untuk memasukan anaknya ke sekolah lain.

“Anak saya baru masuk tahun ini. Saya datang buat meminta uang kembali. Anak saya akan saya pindahkan ke sekolah lain,” sebut seorang bapak, tanpa mau menyebutkan namanya.

Baca juga: Pesantren yang Pimpinannya Cabuli 15 Santri Dibekukan

Dua hari terakhir, tercatat 70 orang tua datang mengunjungi pesantren. Di sana ada tim Pemerintah Kota Lhokseumawe yang mencatat keperluan orang tua santri.

Kepala Humas Pemerintah Kota Lhokseumawe, Muslem, menyebutkan saat ini masih mendata seluruh keperluan santri di pesantren tersebut.

“Misalnya, mereka mau pindah. Kita bantu administrasi pemindahan ke sekolah lain. Terpenting data dulu,” katanya.

Hingga siang ini, sambung Muslem, pihaknya belum menerima berapa jumlah santri di pesantren tersebut.

Baca juga: [POPULER NUSANTARA] Sepak Terjang Gubernur Kepri Nurdin Basirun | Diduga Cabuli 15 Santri, Pimpinan Pesantren dan 1 Guru Ditahan

Minta pindah

Muslem, meminta guru pesantren yang hadir di lokasi untuk menyerahkan data itu ke Pemerintah Kota Lhokseumawe sore nanti.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X