Pulang ke NTT, 28 Ekor Kura-Kura Leher Ular Akan Disambut Upacara Adat

Kompas.com - 11/07/2019, 22:34 WIB
Kura-kura Leher Ular (Chelodina mccordi) ditunjukkan saat rilis terkait kasus penyelundupan satwa di Gedung Balai Instalasi Karantina Hewan dan Tumbuhan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (14/9/2017). Sebanyak 65 ekor kura-kura, 9 ekor ular, 5 ekor biawak, 10 ekor buaya, 4 ekor musang, dan 8 ekor lintah diamankan pihak karantina hewan saat penyelundupan di dalam 4 koper berukuran besar melalui Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBEL Kura-kura Leher Ular (Chelodina mccordi) ditunjukkan saat rilis terkait kasus penyelundupan satwa di Gedung Balai Instalasi Karantina Hewan dan Tumbuhan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (14/9/2017). Sebanyak 65 ekor kura-kura, 9 ekor ular, 5 ekor biawak, 10 ekor buaya, 4 ekor musang, dan 8 ekor lintah diamankan pihak karantina hewan saat penyelundupan di dalam 4 koper berukuran besar melalui Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

KUPANG, KOMPAS.com - Sebanyak 28 ekor kura-kura leher ular, dalam waktu dekat akan segera dipulangkan ke habit aslinya di Danau Peto, Desa Maubesi, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) bakal menggelar upacara adat saat pemulangan 28 kura-kura leher ular (Chelodina mccordi) dari kebun binatang di Singapura.

Upacara adat adat tersebut menjadi pedoman dalam pengelolaan kura-kura bersama ekosistemnya untuk mendukung perlindungan satwa langka itu.

Baca juga: 6 Fakta Kura-kura Leher Ular Punah di Pulau Rote, Akibat Perburuan Liar hingga Dipulangkan dari Singapura

Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan BBKSDA NTT Imanuel Ndun mengatakan, pihaknya akan mengadopsi kearifan lokal yang berlaku di daerah setempat, seperti menyembelih kerbau yang dagingnya akan dimakan bersama oleh seluruh undangan.

"Misalnya daging kerbau dimakan bersama warga satu kampung, jika nanti ada yang melanggar akan dikenai denda adat satu ekor kerbau," ujar Imanuel Ndun kepada sejumlah wartawan di Kupang, Kamis (11/7/2019).

Menurut Ndun, upacara adat ditempuh lantaran puluhan kura-kura leher ular yang pernah dilepasliarkan pada 2009 di Danau Peto, saat ini tidak ditemukan lagi.

Beruntung, sekitar 1970-an saat kura-kura leher ular belum ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi, kura-kura tersebut dijual bebas ke beberapa daerah termasuk ke luar negeri.

Kondisi tersebut yang belakangan membuat populasi kura-kura di habitatnya punah.

"Orang-orang di luar negeri berhasil mengembangkannya, tetapi mereka punya komitmen mengembalikan sebagian atau 10 persen kembali ke habitatnya," ujar Ndun.

Ndun menyebut, kura-kura dikembalikan ke alamnya untuk mempertahankan eksistensi satwa tersebut.

Pada 2009 silam, kura-kura leher ular dilepasliarkan oleh El Nusa, juga merupakan bagian dari komitmen mengembalikan 10 persen kura-kura yang dikembangbiakan ke alam.

Dia menduga, kura-kura yang dilepasliarkan itu punah karena dimakan predator seperti ular, ikan gabus, dan dampak kekeringan.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X