Prostitusi "Online" Berkedok Penyanyi Dangdut, Libatkan Anak di Bawah Umur hingga Untung Rp 100.000

Kompas.com - 09/07/2019, 11:14 WIB
Yuyun Niasari (38), warga Punggur, Lampung Tengah, diamankan karena diduga menjadi muncikari prostitusi online di Metro. 

TribunnewsYuyun Niasari (38), warga Punggur, Lampung Tengah, diamankan karena diduga menjadi muncikari prostitusi online di Metro.
Editor Rachmawati

LAMPUNG, KOMPAS.com - Polisi mengamankan Yuyun (38), seorang mucikari saat transaksi di sebuah hotel di Kota Metro pada 17 Juni 2019 lalu.

Warga Punggur, Lampung Tengah tersebut menjalankan prostitusi online sekaligus perdagangan manusia berkedok p Lenyanyi dangdut.

"Jadi, modusnya itu muncikari ini menawari kliennya wanita untuk di-booking. Ada dua orang, AM (18) dan MB (16). Jadi satu di bawah umur. Nah, untuk eksekusinya itu di hotel," jelas Kapolres Kota Metro Ajun Komisaris Besar Ganda MH Saragih dalam ekspose di Mapolres Metro, Senin, (8/7/2019).

Baca juga: Prostitusi Anak di Sanur Bali, Korban Ditargetkan Layani 7 Tamu Setiap Hari

Dari hasil pemeriksaan ponsel tersangka, Yuyun sudah berkali-kali melakukan transaksi perdagangan orang, baik di wilayah Metro maupun Lampung Tengah.

"Itu lewat WhatsApp. Jadi bisa dikategorikan (prostitusi) online," imbuhnya.

Sementara itu,  tersangka Yuyun mengaku tidak menawarkan wanita ke klien, namun dia hanya membantu mengenalkan teman kencan.  Menurut pengakuannya, kliennya sendiri yang melakukan lobi termasuk menentukan tarif.

"Mulai dari bulan puasa, baru 4-5 orang pelanggan. Orang-orang biasa semua pelanggannya. Kalau tarif sekali kencan, tergantung mereka yang melobi. Saya enggak pernah nawarin, cuma memperkenalkan," tutur Yuyun.

Namun keterangan berbeda disampaikan Yuyun kepada awak media saat ditanya fee yang didapat oleh perempuan yang dia kenalkan.

Baca juga: Menyamar Sebagai Pengguna, Polisi Ungkap Prostitusi Online Bertarif Jutaan Rupiah

Yuyun dengan lugas membeberkan, tarif short time untuk perempuan yang dia perdagangankan sebesar Rp 300.000, sedangkan untuk long time mencapai Rp 800.000.

"Saya dapat cuma Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Saya hobi di hiburan organ tunggal. Nah, saya dari situ kenalinnya. Mereka yang datang ke saya itu kan minta bantu cari wanita. Cuma dua anak buah saya. Mereka nyanyi (biduan)," kata Yuyun.

Atas perbuatannya, tersangka Yuyun terancam pasal 2 UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Manusia, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Layani pejabat hingga pengusaha

Ilustrasi prostitusi online.THINKSTOCK Ilustrasi prostitusi online.
Polres Metro juga pernah membongkar kasus serupa. Pada 23 Desember 2019 lalu, petugas berhasil mengamankan dua mucikari, yakni H (38) dan LR (23). Keduanya merupakan warga Punggur, Lampung Tengah.

LR ditangkap saat akan menawarkan seorang wanita kepada pelanggan di salah satu hotel di wilayah Metro Barat, Kota Metro. Polisi kemudian melakukan pengembangan dan mengamankan H.

Kepada polisi mereka mengaku  sudah memperdagangkan sekitar 10 perempuan yang berasal dari Metro, Lampung Tengah, dan Pesawaran kepada laki-laki hidung belang

"Latar belakangnya (perempuan yang diperdagangkan) berbeda-beda. Ada yang mahasiswa, ada yang janda, dan memang tidak ada kerja. Untuk pelajar maupun seks menyimpang atau pasangan sejenis, itu tidak ada dari dua tersangka tadi," kata Kepala Satreskrim Polres Metro Ajun Komisaris Try Maradona, Minggu (13/1/2019).

Baca juga: Bupati Madiun Tutup 48 Warung Makan yang Diduga Sediakan Layanan Prostitusi

Sedangkan penggunanya juga berasal dari beragam latar belakang mulai dari pelajar, mahasiswa, pengusaha, pekerja swasta, hingga pejabat pemerintah daerah.

Try Maradona menjelaskan prostitusi via online sangat tertutup rapat  dan tidak tersebar serta tidak terbuka bagi umum. Untuk itu Try berharap semua pihak turut aktif mengawasi dan melaporkan.

"Kalau dulu kan iya lewat Facebook, langsung tawarkan harga segini, tapi sekarang sudah tertutup. Termasuk yang kita ungkap bulan kemarin itu. Meraka hanya via WhatsApp. Dan itu pun tertutup. Hanya dari user atau teman user begitu," terangnya.

Ia juga menjelaskan ada tim patroli cyber yang memantau FB, Twitter, atau WeChat

Baca juga: Fakta Polisi Bongkar Prostitusi Online di Kediri, Penangkapan di Kamar 306 hingga Amankan Sarung Bantal

Sementara itu H dalam wawancara dengan Tribun Lampung  bercerita jika telah menjalankan bisnis prostitusi sekitar dua tahun. Sekali transaksi dia mengaku mendapatkan keuntungan Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per orang.

Tarif satu perempuan yang ia tawarkan ke lelaki hidung belang sebesar Rp 500.000 sampai Rp 600.000.

Ia juga mengaku sudah memiliki enam anak buah yang sering ia tawarkan kepada para pelanggan.

"Kalau yang saya tawarkan ke pelanggan sudah pernah dipakai sama dia, ya saya cari lain dengan minta sama kawan. Nanti kawan kasih stoknya. Ya macam-macam. Ada yang minta pelajar ada juga mahasiswa," katanya.

H juga membeberkan jika pelanggan yang kerap menggunakan jasanya mulai dari remaja hingga pejabat pemerintah daerah.

Ketika ditanyakan siapa pejabat yang kerap meminta jasanya, ia hanya menyebut dua nama kabupaten di Lampung.

"Pejabat ada, tapi dari luar," terangnya.

Baca juga: Dari Tangan Muncikari Prostitusi Online di Kediri, Polisi Amankan Uang Rp 600.000

Pengakuan serupa juga disampaikan LR yang bertugas sebagai pencari  perempuan yang mau melayani pria hidung belang. Tak jarang,  dia juga kerap turun langsung untuk melayani pemesan.

"Kan mereka butuh, saya cuma bantu. Mereka butuh pemuas, saya butuh uang," kata dia.

Sementara itu Satreskrim Polres Kota Metro mengaku tidak bisa menjerat penikmat jasa maupun perempuan yang menjajakan tubuhnya  karena perangkat hukumnya tidak ada.

"Memang perangkat hukumnya belum ada. Jadi kita lepaskan. Cuma pembinaan saja. Kecuali, salah satu pihak dilaporkan keluarga. Itu bisa kena perzinaan. Termasuk PSK juga tidak bisa kita jerat. Nah, sekarang ini kan upaya hukum untuk itu kan sedang dibahas. Kita tunggu saja," jelasnya.

Sementara untuk mucikari, bisa dijerat dengan UU Perdagangan Manusia dan UU Pornografi. Sehingga selama ini, aparat hanya bisa memberi hukuman kepada muncikari.

Libatkan anak di bawah umur

Ilustrasi.Shutterstock Ilustrasi.
Selain di Metro, awal tahun 2019 lalu prostitusi online juga sempat terungkap di wilayah Lampung Timur.

Ironisnya, praktik prostitusi tersebut dijalankan ibu dan anak di Raman Utara, Lampung Timur, Provinsi Lampung dan melibatkan kalangan pelajar.

Kepada aparat, tersangka PI dan BA  mengaku telah menjalankan perdagangan anak di bawah umur selama kurang lebih tiga bulan dengan keuntungan 30 persen dari tarif yang disepakati.

Mereka  telah menjual  dua orang gadis Senja (16), Jingga (16), dan Rona (15), bukan nama sebenarnya, kepada  pria pemesan dengan tarif bervariasi antara Rp 500.000 hingga Rp 900.0000.

Baca juga: Kronologi Pengungkapan Prostitusi Online di Kediri

Kapolres Lampung Timur, Ajun Komisaris Besar Taufan Dirgantoro mengatakan, kedua tersangka mucikari diduga melakukan perdagangan dan mempekerjakan tiga perempuan di bawah umur mejadi PSK.

Tiga perempuan di bawah umur tersebut masih berstatus pelajar dan bisnis tersebut djalankan sejak Desember 2018.

Modus yang mereka lakukan adalah menawarkan para pelajar tersebut kepada pemesan. Setelah sepakat, mereka menyerahkan nomer telpon ABG kepada calon pemesannya.

"Mereka sendiri membuat grup pesan aplikasi WhatsApp dengan ABG. Baru diberi nomor kalau deal. Dari hasil penyelidikan kita, korban ada tiga. Masih pelajar semua. Kita juga amankan sejumlah barang bukti," ungkapnya.

Taufan menambahkan, tersangka ibu dan anak akan dijerat dengan UU Nomor 21/2017 terkait Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (Indra Simanjuntak)


Artikel ini telah tayang di tribunlampung.co.id dengan judul Prostitusi Online Berkedok Biduan di Metro Terbongkar, Muncikari Sebut Tarif Short Time Rp 300 Ribu,

 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

18 Agustus 2020, Uji Coba Belajar Tatap Muka SMK dan SMA di Jatim

18 Agustus 2020, Uji Coba Belajar Tatap Muka SMK dan SMA di Jatim

Regional
Pasca-jaringan Lumpuh, Telkomsel Jual Paket Data 5 GB Hanya Rp 1, Begini Caranya

Pasca-jaringan Lumpuh, Telkomsel Jual Paket Data 5 GB Hanya Rp 1, Begini Caranya

Regional
Pembantu Ternyata Residivis Kasus Narkoba, Bayi Majikan Malah Dicabuli dengan Botol Parfum dan Disaksikan Suaminya

Pembantu Ternyata Residivis Kasus Narkoba, Bayi Majikan Malah Dicabuli dengan Botol Parfum dan Disaksikan Suaminya

Regional
Pelanggar Protokol Covid–19 di Gorontalo Bakal Didenda Rp 500.000

Pelanggar Protokol Covid–19 di Gorontalo Bakal Didenda Rp 500.000

Regional
Cuma Satu Lomba 17 Agustus yang Diizinkan Pemkot Padang

Cuma Satu Lomba 17 Agustus yang Diizinkan Pemkot Padang

Regional
Delapan Guru di Kabupaten Melawi Positif Covid–19

Delapan Guru di Kabupaten Melawi Positif Covid–19

Regional
Di Balik Fakta Kasus Bupati Agam Jadi Tersangka Kasus Ujaran Kebencian...

Di Balik Fakta Kasus Bupati Agam Jadi Tersangka Kasus Ujaran Kebencian...

Regional
Uang Rp 44 Juta Milik Nasabah yang Raib dalam 11 Menit Tak Bisa Dikembalikan, Ini Alasannya

Uang Rp 44 Juta Milik Nasabah yang Raib dalam 11 Menit Tak Bisa Dikembalikan, Ini Alasannya

Regional
Istri Jerinx SID: Dia Bersuara untuk Hak-hak Masyarakat Kecil

Istri Jerinx SID: Dia Bersuara untuk Hak-hak Masyarakat Kecil

Regional
Diduga Cabuli 2 Anak SD, Buruh Bangunan di Bulukumba Ditangkap

Diduga Cabuli 2 Anak SD, Buruh Bangunan di Bulukumba Ditangkap

Regional
Berawal dari Telepon, Uang Rp 44 Juta di Rekening Raib dan Tersisa Rp 124.558

Berawal dari Telepon, Uang Rp 44 Juta di Rekening Raib dan Tersisa Rp 124.558

Regional
Pekan Depan, Seluruh Anggota DPRD Ketapang Bakal Dites Swab

Pekan Depan, Seluruh Anggota DPRD Ketapang Bakal Dites Swab

Regional
Kronologi Uang Rp 44 Juta Milik Nasabah Bank Raib Hanya dalam Waktu 11 Menit

Kronologi Uang Rp 44 Juta Milik Nasabah Bank Raib Hanya dalam Waktu 11 Menit

Regional
Nora Alexandra Besuk Jerinx SID, Bawa Makanan hingga Buku

Nora Alexandra Besuk Jerinx SID, Bawa Makanan hingga Buku

Regional
Duel karena Utang Narkoba, Seorang Juru Parkir di Palembang Tewas

Duel karena Utang Narkoba, Seorang Juru Parkir di Palembang Tewas

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X