Sumpah Tanah, Sumpah Bahagia

Kompas.com - 08/07/2019, 20:47 WIB
Sejumlah penari dari sanggar Batara menampilkan tari Mahesasura di panggung terbuka arena Festival Lima Gunung (FLG) XVIII di kawasan lereng gunung Merapi Dusun Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (7/7/2019). Sebanyak 77 grup kesenian dan ratusan seniman lintas aliran dari berbagai daerah di Indonesia turut memeriahkan gelaran FLG XVIII yang diselenggarakan seniman petani komunitas lima gunung (Merapi, Merbabu, Andhong, Menoreh dan Sumbing) yang mengusung tema Gunung Lumbung Budaya.ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN Sejumlah penari dari sanggar Batara menampilkan tari Mahesasura di panggung terbuka arena Festival Lima Gunung (FLG) XVIII di kawasan lereng gunung Merapi Dusun Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (7/7/2019). Sebanyak 77 grup kesenian dan ratusan seniman lintas aliran dari berbagai daerah di Indonesia turut memeriahkan gelaran FLG XVIII yang diselenggarakan seniman petani komunitas lima gunung (Merapi, Merbabu, Andhong, Menoreh dan Sumbing) yang mengusung tema Gunung Lumbung Budaya.

BAHAGIA bukan sekadar letupan perasaan sesaat. Di Komunitas Lima Gunung, bahkan, rasa bahagia atau gembira menjadi daya hidup bagi orang-orang di dalamnya untuk terus menjaga semangat dan gairah berkesenian, seraya tetap setia menjaga alam lingkungan dan lumbung budaya mereka: tanah dan gunung, secara mandiri dan tanpa komersialisasi.

Selasa, 2 Juli 2019, sore di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Magelang. Irul Mutaqin dan Untung, dua seniman muda Komunitas Lima Gunung, dibantu para warga dusun baru saja selesai memasang beragam instalasi berupa umbul-umbul, gapura, dan ragam hiasan di sepanjang jalan dusun tersebut.

Hari itu adalah dua hari jelang penyelenggaraan Festival Lima Gunung yang akan diselenggarakan di dusun tersebut.

Tak ada spanduk, umbul-umbul, banner, maupun pamflet-pamflet sponsor di sepanjang jalan dusun sebagaimana layaknya sebuah festival seni akbar.

Hanya galah-galah bambu yang dihias dengan jerami dan dedaunan kering sebagai instalasi penanda festival.

Di panggung utama, sebuah instalasi berbentuk burung garuda setinggi delapan meter yang terbuat dari bambu, jerami, dan daun kelapa, baru selesai dipasang oleh seniman sekaligus pematung kenamaan Magelang, Ismanto, yang dibantu oleh para warga setempat.

"Garuda simbol gunung, tanah, ibu pertiwi, kesetiaan kepada kehidupan makhluk dan alam raya. Sayapnya menjadi lambang penjaga keseimbangan," kata Ismanto tentang instalasi yang dibuatnya.

Di rumah-rumah, warga sekitar lokasi festival sibuk menyiapkan tempat dan aneka jenis makanan desa untuk menyambut pengunjung festival dari desa lain, kota, maupun mancanegara yang menginap.

Ada 77 kelompok seni dan tak kurang dari 5.000  pementas yang tampil di festival bertema "Gunung Lumbung Budaya" itu.

Aneka macam sesajen diletakkan di sejumlah sudut sekitar arena festival sebagai penanda sakral sekaligus harapan akan kelancaran serta keselamatan jalannya kegiatan.

Ini merupakan festival ke-18 yang diselenggarakan oleh Komunitas Lima Gunung (KLG). Dan, seperti festival-festival tahun sebelumnya, kali ini pun tanpa sponsor.

Anggota komunitas bersama warga menyiapkan, menyelenggarakan, dan membiayai secara mandiri acara pagelaran seni yang tiap tahun mampu mendatangkan ribuan pengunjung dari dalam dan luar negeri itu.

Dana festival dihimpun dari patungan anggota komunitas. Sementara itu, warga berswadaya menyediakan apa pun yang dibutuhkan festival dari makanan, transportasi hingga akomodasi seperti penginapan dan lain-lain.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X