Pengamat: Kepala Daerah atau Mantan Bisa Dipertimbangkan Masuk Kabinet

Kompas.com - 08/07/2019, 11:20 WIB
Presiden Jokowi mengunjungi Jendela Indonesia, yang berlokasi di Jalan Piere Tendean, Sario Tumpaan, Sario, Kota Manado, Kamis (4/7/2019). Biro pers setpresPresiden Jokowi mengunjungi Jendela Indonesia, yang berlokasi di Jalan Piere Tendean, Sario Tumpaan, Sario, Kota Manado, Kamis (4/7/2019).

BANDUNG, KOMPAS.com - Pengamat politik, Ray Rangkuti menilai, Presiden RI terpilih, Joko Widodo, perlu lebih selektif untuk memilih tokoh-tokoh yang akan ditarik masuk ke kabinet.

Ray yang menjabat direktur eksekutif Lingkar Madani mengatakan, untuk calon anggota kabinet sudah sepatutnya terampil dan cekatan dalam manajemen. Selain itu, calon tersebut juga mampu melaksanakan program serta menerjemahkan visi dan misi presiden.

"Khususnya mereka yang sudah terbiasa bekerja membantu Pak Jokowi pada masa kerja sebelumnya. Baik yang di kabinet maupun mereka yang berada dalam posisi lain tetapi dalam bingkai membantu kinerja Pak Jokowi," kata Ray saat dihubungi, Senin (8/7/2019).

Ray menjelaskan, terampil dan cekatan dalam mengeksekusi program Jokowi berarti memiliki rekam jejak kerja baik. Menurut dia, hal tersebut dapat ditemukan dari kaum profesional yang secara langsung ataupun tidak dapat dicari rekam jejaknya.

Baca juga: Dedi Mulyadi: Jangan Dikte Presiden soal Penunjukan Menteri

 

Kriteria tersebut, lanjut Ray, bisa saja merujuk pada kader partai yang sukses di pemerintahan sebelumnya, khususnya mereka yang sudah terlibat dalam kabinet periode 2014-2019.

Selain itu, mantan kepala daerah atau kepala daerah yang masih aktif yang dinilai sukses dalam mengelola daerahnya masing-masing juga wajib dipertimbangkan untuk masuk ke kabinet. Sebab, sukses kepemimpinan kepala daerah tidak dapat dilepaskan dari fakta bahwa mereka memiliki perpaduan kemampuan manajerial dan eksekutorial.

"Dan, karena itu, sangat beralasan mereka (kepala daerah dan mantan kepala daerah ) didorong partai serta dipertimbangkan oleh Pak Jokowi untuk dilibatkan dalam kabinet berikut," ucapnya.

Lebih lanjut Ray menambahkan, agar program-program prioritas di periode kedua masa kepemimpinan Presiden Jokowi sukses lima tahun ke depan, tokoh yang mengisi kabinet wajib memiliki sensitivitas dalam hal membaca kemauan dan arahan Pak Jokowi.

Di hubungi terpisah, analis politik POINT Indonesia, Airf Nurul Iman mengatakan, kepala daerah aktif atau mantan kepala daerah yang sukses membangun daerahnya dinilai cukup potensial untuk masuk dalam kabinet Presiden Joko Widodo.

“Tapi perlu dilihat juga kapasitas dan kompetensinya. Pengalaman dan prestasi apa yang pernah dibuat,” kata Arif saat dihubungi Kompas.com.

Baca juga: Menjaring Menteri Menuju Capres 2024

Selain itu, dengan memilih kepala daerah aktif atau mantan kepala daerah yang sukses, hal tersebut akan memudahkan Jokowi untuk membentuk komposisi meritokrasi yang berarti pemerintahan yang diisi oleh para pemimpin yang dipilih berdasarkan prestasi atau kemampuan.

Selain itu, dengan memilih kepala daerah atau mantan kepala daerah, akan memudahkan Presiden Jokowi dalam hal mengakomodasi keinginan partai politik pengusungnya di Pilpres 2019. Sebab, hampir setiap kepala daerah merupakan kader partai politik.

“Partai politik juga memiliki kader yang mumpuni,” tuturnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penjelasan BMKG soal Penyebab Cuaca Ekstrem di Sulawesi Utara

Penjelasan BMKG soal Penyebab Cuaca Ekstrem di Sulawesi Utara

Regional
Sandiaga Uno: Batik Batam Layak Jadi Produk Unggulan

Sandiaga Uno: Batik Batam Layak Jadi Produk Unggulan

Regional
Sakit Hati Tak Dibayar, Pria Ini Tusuk Pasangan Sesama Jenis hingga Tewas

Sakit Hati Tak Dibayar, Pria Ini Tusuk Pasangan Sesama Jenis hingga Tewas

Regional
Dokter Ditemukan Tewas Sehari Setelah Disuntik Divaksin, Satgas Covid-19 Palembang: Dipastikan Bukan karena Divaksin, tapi...

Dokter Ditemukan Tewas Sehari Setelah Disuntik Divaksin, Satgas Covid-19 Palembang: Dipastikan Bukan karena Divaksin, tapi...

Regional
KPU Bukittinggi Tetapkan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Terpilih

KPU Bukittinggi Tetapkan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Terpilih

Regional
Data dan Identitas ABK yang Hilang Setelah Tabrakan Kapal di Perairan Surabaya

Data dan Identitas ABK yang Hilang Setelah Tabrakan Kapal di Perairan Surabaya

Regional
Bertambah 7 Orang yang Meninggal Dunia akibat Covid-19 di Riau

Bertambah 7 Orang yang Meninggal Dunia akibat Covid-19 di Riau

Regional
Seorang Remaja Tewas Setelah Jatuh dan Tertabrak Mobil Damkar di Pekanbaru

Seorang Remaja Tewas Setelah Jatuh dan Tertabrak Mobil Damkar di Pekanbaru

Regional
TPU di Manado Mengalami Longsor, Kerangka Muncul ke Permukaan

TPU di Manado Mengalami Longsor, Kerangka Muncul ke Permukaan

Regional
5 Terduga Teroris di Aceh Diduga Terlibat Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

5 Terduga Teroris di Aceh Diduga Terlibat Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

Regional
Diduga Sakit Jantung, Seorang Dokter Ditemukan Tewas Sehari Usai Disuntik Vaksin Covid-19

Diduga Sakit Jantung, Seorang Dokter Ditemukan Tewas Sehari Usai Disuntik Vaksin Covid-19

Regional
Persoalan Wajib Jilbab di SMKN 2 Padang Selesai, Siswi Kembali Sekolah

Persoalan Wajib Jilbab di SMKN 2 Padang Selesai, Siswi Kembali Sekolah

Regional
Kronologi KM Tanto Bersinar Tabrak Kapal Tug Boat di Perairan Gresik, Petugas Cari ABK yang Hilang

Kronologi KM Tanto Bersinar Tabrak Kapal Tug Boat di Perairan Gresik, Petugas Cari ABK yang Hilang

Regional
Pratu Dedi Hamdani Gugur di Papua, Ayah: Sedih Sekali...

Pratu Dedi Hamdani Gugur di Papua, Ayah: Sedih Sekali...

Regional
Setelah Diprotes Warganet, KKN Lapangan Unila Ditunda

Setelah Diprotes Warganet, KKN Lapangan Unila Ditunda

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X