Kisah Algojo Cambuk di Aceh, Tubuh Gemetar Saat Jadi Eksekutor hingga Identitas yang Dirahasiakan

Kompas.com - 05/07/2019, 07:15 WIB
Terpidana Cambuk mengangkat tangannya meminta agar algojo menghentikan cambukannya karena merasa kesakitan. TIm Medis menyatakan terpidana mengalami psikis shock, sehingga Jaksa harus menghentikan ekskusi cambuk ditengah jalan.  Terpidana divonis 26 kali cambukan karena melanggar qanun jinayah pasal 25 ayat 1 tentang ikhtilat. Daspriani Y ZamzamiTerpidana Cambuk mengangkat tangannya meminta agar algojo menghentikan cambukannya karena merasa kesakitan. TIm Medis menyatakan terpidana mengalami psikis shock, sehingga Jaksa harus menghentikan ekskusi cambuk ditengah jalan. Terpidana divonis 26 kali cambukan karena melanggar qanun jinayah pasal 25 ayat 1 tentang ikhtilat.

BANDA ACEH, KOMPAS.com — Algojo yang menjalankan eksekusi hukuman cambuk terhadap pelanggar qanun syariat Islam di Aceh merupakan orang yang dipilih dan sangat dirahasiakan.

Seseorang yang dipilih dan ditunjuk untuk menjadi algojo adalah orang yang dinilai taat ibadah, disiplin, dapat mengontrol emosi, serta miliki mental untuk menghukum terpidana di atas panggung secara terbuka dan disaksikan oleh banyak orang.

Itu mengapa tidak semua orang bisa menjadi seorang algojo hukuman cambuk di Aceh.

Salah satu algojo cambuk berinisial D bercerita, dirinya merasakan beban yang sangat berat ketika pertama kali ditunjuk menjadi algojo.

Namun, karena perintah, ia tidak dapat menolak dan terpaksa harus memberanikan diri. 

"Saat pertama kali dipilih untuk menjadi algojo sangat terbeban saya, tapi karena itu memang untuk menjalankan hukum, harus saya terima," katanya kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

D mengatakan, dia ditunjuk sebagai algojo pada 2008. Sebelum naik ke panggung untuk mengeksekusi pelanggar, D mendapat pelatihan singkat tentang tata cara mengeksekusi cambuk dari instruktur senior.

Tubuh gemetar

D ingat betul saat pertama kali mengeksekusi pelanggar. Tubuhnya bergetar dan pikirannya menjadi kacau.

"Saat pertama eksekusi sangat gemetar. Saya takut salah dan pikiran sangat kacau. Karena cambuk ada aturannya, tidak boleh melewati bahu, kemudian cara berdiri dan ayunan tangan juga harus sejajar bahu. Kalau sempat salah, langsung mendapat protes, baik dari jaksa maupun penonton," ujarnya.

Setelah berhasil menjalankan eksekusi cambuk untuk pertama kali, D kemudian sudah terbiasa saat ditunjuk untuk menjalankan eksekusi cambuk terhadap pelanggar lain.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X