BBKSDA NTT Bakal Punya Fasilitas bagi Kura-kura Leher Ular asal Rote yang Nyaris Punah

Kompas.com - 28/06/2019, 17:05 WIB
Kura-kura Leher Ular (Chelodina mccordi) ditunjukkan saat rilis terkait kasus penyelundupan satwa di Gedung Balai Instalasi Karantina Hewan dan Tumbuhan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (14/9/2017). Sebanyak 65 ekor kura-kura, 9 ekor ular, 5 ekor biawak, 10 ekor buaya, 4 ekor musang, dan 8 ekor lintah diamankan pihak karantina hewan saat penyelundupan di dalam 4 koper berukuran besar melalui Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELKura-kura Leher Ular (Chelodina mccordi) ditunjukkan saat rilis terkait kasus penyelundupan satwa di Gedung Balai Instalasi Karantina Hewan dan Tumbuhan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (14/9/2017). Sebanyak 65 ekor kura-kura, 9 ekor ular, 5 ekor biawak, 10 ekor buaya, 4 ekor musang, dan 8 ekor lintah diamankan pihak karantina hewan saat penyelundupan di dalam 4 koper berukuran besar melalui Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

KUPANG, KOMPAS. com — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam ( BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima fasilitas koloni asuransi kura-kura leher ular rote (Chelodina mccordi) dari Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP).

WCS-IP adalah sebuah lembaga yang berdedikasi menyelamatkan hidupan liar serta tempat-tempat liar dengan cara memahami masalah-masalah kritis, menemukan solusi berbasis ilmu pengetahuan, dan mengambil tindakan konservasi yang menguntungkan alam dan manusia.

Kepala Balai Besar KSDA NTT Timbul Batubara mengatakan, fasilitas koloni asuransi merupakan tempat transit koloni satwa kura-kura yang lebih lengkap.

Baca juga: Ini Pengakuan 2 Kepala Dinas yang Fotonya Berdiri di Atas Kura-kura Viral

"Ini menjadi tonggak bagian sejarah dalam rangka upaya penyelamatan kura-kura leher ular rote. Fasilitas ini ada tempat karantina, ada pengembangbiakan, ada tempat habituasi, sebelum dilepasliarkan," ungkap Timbul kepada Kompas.com, Jumat (28/6/2019).

Kura-kura leher ular rote, lanjut Timbul, merupakan satwa endemik di Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, NTT.

Satwa ini merupakan satu-satunya kura-kura leher ular genus Chelodina yang berada di luar dataran Papua-Australia dan masuk dalam daftar CITES.

"Kura-kura leher ular rote adalah satwa endemik ikonik Pulau Rote yang perlu untuk diperjuangkan kelestariannya dan dikembalikan kehabitat alaminya," ujar Timbul.

Timbul menuturkan, fasilitas sarana kandang konservasi ini adalah langkah pertama untuk mencegah kepunahan, mengembalikan, dan menjaga kelestarian kura-kura tersebut di habitat aslinya.

Tentu upaya ini membutuhkan dukungan dan partisipasi masyarakat.

Baca juga: Polda Papua Tangkap Penyelundup 5.050 Kura-kura Moncong Babi dari Asmat ke Mimika

Tanpa adanya dukungan masyarakat, khususnya masyarakat Rote Ndao, apa yang telah dikerjakan oleh BBKSDA NTT bersama WCS-IP tidak akan berhasil.

Timbul menuturkan, fasilitas ini berfungsi sebagai tempat asuransi (menjaga) untuk koloni kura-kura rote yang nantinya akan direintroduksi ke alam liar.

Selain sebagai supply untuk reintroduksi ke alam, kura-kura yang ada akan difasilitasi dan tetap dijaga untuk mempertahankan eksistensi populasinya.

"Fasilitas ini merupakan yang pertama di Indonesia sebagai fasilitas untuk koloni asuransi spesies reptil yang keberadaannya sudah punah di alam," kata dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X