Cerita Warga Bertahan Hadapi Kekeringan, Minum Air Keruh hingga Buat Kubangan di Dasar Sungai

Kompas.com - 27/06/2019, 05:00 WIB
Anak-anak Desa Keyongan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mengambil air keruh untuk kebutuhan sehari-hari dari dasar sungai setempat yang sudah mengering, Rabu (26/6/2019) pagi. Tanah tandus yang digali seukuran tong sampah itu biasa disebut dengan nama belik. KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTOAnak-anak Desa Keyongan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mengambil air keruh untuk kebutuhan sehari-hari dari dasar sungai setempat yang sudah mengering, Rabu (26/6/2019) pagi. Tanah tandus yang digali seukuran tong sampah itu biasa disebut dengan nama belik.



GROBOGAN, KOMPAS.com - Sudah dua bulan terakhir warga Desa Keyongan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mengalami krisis air akibat kemarau.

Sumur tadah hujan yang menjadi andalan warga sebagai kantung air sudah kering kerontang.

Pun demikian juga dengan sungai di perkampungan terpencil ini yang menyusut berujung gersang.

Desa Keyongan adalah salah satu permukiman terpencil di Kabupaten Grobogan yang sudah menjadi langganan kekeringan saat kemarau. Lokasinya berbatasan langsung dengan Kabupaten Sragen, Jateng.

Baca juga: Kemarau Datang Lebih Awal, 7.000 Warga Terdampak Kekeringan

 

Dalam keseharian, untuk mencukupi kebutuhan air bersih, desa yang dihuni oleh sekitar 5800 jiwa ini cukup bersandar pada sumur tadah hujan. Selain itu, mereka juga bertumpu pada pasokan air dari sungai setempat.

Selama ini, Desa Keyongan memang tidak terakses pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Terlebih lagi, Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) juga belum efektif untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga Desa Keyongan.

Merujuk data dari pemerintah desa setempat, sejak tahun 2009 hanya sekitar 100 warga yang bisa menikmati fasilitas Pamsimas.

Kondisi pun menjadi memprihatinkan saat hujan tak lagi mengguyur pedesaan ini. Mereka benar-benar berada dalam situasi terpuruk akibat darurat air bersih. 

Para warga harus bersusah payah berburu setetes air dari dasar sungai yang mengering. Tanah tandus itu pun mereka gali seukuran tong sampah dengan harapan akan muncul cadangan air. 

Baca juga: 3 Desa di Bima Kekeringan, Polisi Kirim Pasokan Air Bersih ke Wilayah Terdampak

Rabu (26/6/2019) pagi, sejumlah warga Desa Keyongan yang didominasi anak-anak mengantre air dari beberapa kubangan yang telah mereka ciptakan di dasar sungai kering itu.

Rongga-rongga di dasar sungai itu biasa disebutnya dengan nama "belik". Di alur sungai yang gersang itu, warga sudah membuat sejumlah belik yang menampung resapan air sungai itu.

Setiap belik dimanfaatkan oleh ribuan warga sekampung untuk bergiliran. Meski airnya keruh, tidak ada pilihan lain, warga tidak mempersoalkannya. 

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Seorang Dokter Senior di Probolinggo Meninggal karena Covid-19

Seorang Dokter Senior di Probolinggo Meninggal karena Covid-19

Regional
Mulai 3 Juli, Tiga Ruas Jalan Protokol di Surabaya Kembali Ditutup

Mulai 3 Juli, Tiga Ruas Jalan Protokol di Surabaya Kembali Ditutup

Regional
Cerita Abdi Dalam Keraton Solo yang Menganggur Akibat Wabah, Hidup Bergantung Bantuan

Cerita Abdi Dalam Keraton Solo yang Menganggur Akibat Wabah, Hidup Bergantung Bantuan

Regional
Warga Sleman Terinfeksi Virus Corona Setelah Temani Ibunya di Rumah Sakit

Warga Sleman Terinfeksi Virus Corona Setelah Temani Ibunya di Rumah Sakit

Regional
Remaja Nekat Membegal, yang Dibegal Kakak Sendiri, Korban Ditusuk lalu Dibawa ke RS

Remaja Nekat Membegal, yang Dibegal Kakak Sendiri, Korban Ditusuk lalu Dibawa ke RS

Regional
Kota Sukabumi Bikin Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi, Jadi 'Pilot Project' se-Jabar

Kota Sukabumi Bikin Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi, Jadi "Pilot Project" se-Jabar

Regional
Surabaya Bisa Jadi Wuhan, Begini Kata Risma

Surabaya Bisa Jadi Wuhan, Begini Kata Risma

Regional
4 Pasien Baru Positif Corona di Grobogan, 2 di Antaranya Lansia

4 Pasien Baru Positif Corona di Grobogan, 2 di Antaranya Lansia

Regional
Alasan Bersujud dan Menangis, Risma: Saya Enggak Terima Staf Saya Disalahkan

Alasan Bersujud dan Menangis, Risma: Saya Enggak Terima Staf Saya Disalahkan

Regional
Warga Korban Covid-19 Gugat Wali Kota Pematangsiantar

Warga Korban Covid-19 Gugat Wali Kota Pematangsiantar

Regional
2 Pasien Covid-19 di Palu Kabur dari Tempat Isolasi

2 Pasien Covid-19 di Palu Kabur dari Tempat Isolasi

Regional
2 Kepala Dinas di Surabaya Positif Covid-19, Seluruh Pegawai Jalani Tes Swab

2 Kepala Dinas di Surabaya Positif Covid-19, Seluruh Pegawai Jalani Tes Swab

Regional
Mantan Pjs Wali Kota Bandung Muhamad Solihin Meninggal Akibat Corona, 2 Keluarganya Positif

Mantan Pjs Wali Kota Bandung Muhamad Solihin Meninggal Akibat Corona, 2 Keluarganya Positif

Regional
Mempelai Pria Jadi Tersangka Kasus Pernikahan Sejenis di Soppeng

Mempelai Pria Jadi Tersangka Kasus Pernikahan Sejenis di Soppeng

Regional
Tangis dan Sujud Risma di Balai Kota Surabaya Jadi Sorotan, Ini Pengakuannya

Tangis dan Sujud Risma di Balai Kota Surabaya Jadi Sorotan, Ini Pengakuannya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X