Donatur Menghilang, Pembangunan Huntara Korban Bencana Tanah Bergerak Dihentikan dan Tinggalkan Hutang 133 Juta

Kompas.com - 25/06/2019, 08:59 WIB
Bangunan gudang dan pondasi musala yang belum selesai di lahan hunian sementara (huntara) bagi penyintas bencana tanah bergerak di Desa Kertaangsana, Nyalindjng, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (5/6/209). KOMPAS.com/BUDIYANTOBangunan gudang dan pondasi musala yang belum selesai di lahan hunian sementara (huntara) bagi penyintas bencana tanah bergerak di Desa Kertaangsana, Nyalindjng, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (5/6/209).

Pembangunan dihentikan pada Rabu (22/5/2019) dan sudah berdiri satu bangunan gudang ukuran 10 x 8 meter yang pengerjaannya baru mencapai 70 persen. Selain itu sudah ada pondasi untuk musala berukuran 10 x 10 meter.

Pembangunan dengan rangka baja tersebut sesuai yang disepakati donatur dengan warga.

Baca juga: Puluhan Anak PAUD Penyintas Bencana Tanah Bergerak di Sukabumi Belajar di Lokasi Pengungsian

Total biaya bangunan yang sudah ada sudah menghabiskan biaya sebesar Rp 122 juta dan biaya tenaga kerja serta bahan bakar solar sebesar Rp 31 juta. Kata Agus, semua biaya tersebut menjadi hutang yang perlu dibayar dan dilunasi ke toko bangunan.

"Saya sudah hubungi beberapa kali ke nomor telepon genggamnya, namun selalu tidak ada jawaban. Juga sudah menghubungi penghubungnya yang pertama kali juga tidak ada jawaban,' tutur dia.

"Kami tetap bersyukur dengan niatnya yang akan membantu warga kami. Dan bila mereka ini ada kendala semoga dimudahkan," kata Agus.

Huntara Anggaran Pemerintah

Menurut Agus karena tidak ada kejelasan lagi dari donatur  terkait huntara, maka pihaknya melaporkan kejadian tersebut ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi.

"Pemkab Sukabumi akan mengupayakan mempercepat pembangunan huntara ini dua bulan ke depan. Targetnya akhir Agustus bisa ditempati warga terdampak, namun pembangunan huntara sesuai dengan anggaran pemerintah," kata dia.

Para penyintas bencana tanah bergerak berharap dapat kembali menjalani kehidupannya bersama keluarga seperti sebelumnya. Saat ini, mayoritas penyintas bencana menempati pos dan tenda pengungsian.

Sebagian lainnya mengungsi ke rumah kerabat dan kontrak rumah.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Buntut Konflik Tanah di Flores Timur: Polisi dan Istri Disandera, Rumah Rohaniawan Dirusak, 7 Orang Ditangkap

Buntut Konflik Tanah di Flores Timur: Polisi dan Istri Disandera, Rumah Rohaniawan Dirusak, 7 Orang Ditangkap

Regional
Derita Nenek Theresia, Tinggal di Gubuk Bekas Toilet Warga Tanpa Listrik

Derita Nenek Theresia, Tinggal di Gubuk Bekas Toilet Warga Tanpa Listrik

Regional
Ketika Trayek Angkot di Tasikmalaya Jadi Istilah Transaksi Narkoba

Ketika Trayek Angkot di Tasikmalaya Jadi Istilah Transaksi Narkoba

Regional
Jenazah Tersangka Teroris Abu Alfat Dimakamkan di Medan, Sang Ibu Tak Sanggup Turun dari Mobil

Jenazah Tersangka Teroris Abu Alfat Dimakamkan di Medan, Sang Ibu Tak Sanggup Turun dari Mobil

Regional
Pabrik Sepatu Hengkang ke Jateng, Penganggurann Berpotensi Naik hingga Gubernur Banten Janjikan Investasi Baru

Pabrik Sepatu Hengkang ke Jateng, Penganggurann Berpotensi Naik hingga Gubernur Banten Janjikan Investasi Baru

Regional
Franz Magnis Suseno: Negara Harus Intoleran terhadap Intoleransi

Franz Magnis Suseno: Negara Harus Intoleran terhadap Intoleransi

Regional
Fakta Sidang Suap Bupati Muara Enim: Minta Mobil Lexus, Wakil Bupati dan 22 Anggota DPRD Ikut Terlibat

Fakta Sidang Suap Bupati Muara Enim: Minta Mobil Lexus, Wakil Bupati dan 22 Anggota DPRD Ikut Terlibat

Regional
[POPULER NUSANTARA] Cerita di Balik Perjuangan Hidup Dewi | 10 Pabrik Sepatu Pilih Hengkang ke Jateng

[POPULER NUSANTARA] Cerita di Balik Perjuangan Hidup Dewi | 10 Pabrik Sepatu Pilih Hengkang ke Jateng

Regional
Korban Robohnya Aula SMKN 1 Miri Dapat Bantuan Pengobatan dari Pemkab Sragen

Korban Robohnya Aula SMKN 1 Miri Dapat Bantuan Pengobatan dari Pemkab Sragen

Regional
Waspada, 'The Silent Killer' Penurunan Muka Tanah Ancam Wilayah Semarang

Waspada, "The Silent Killer" Penurunan Muka Tanah Ancam Wilayah Semarang

Regional
Fakta Pria 70 Tahun Ditemukan Tewas di Balikpapan, Diduga Korban Pembunuhan hingga Masih Diselidiki

Fakta Pria 70 Tahun Ditemukan Tewas di Balikpapan, Diduga Korban Pembunuhan hingga Masih Diselidiki

Regional
Batal Jadi Pembicara di Seminar Sesko TNI, Menhan Prabowo Rapat Terbatas dengan Presiden

Batal Jadi Pembicara di Seminar Sesko TNI, Menhan Prabowo Rapat Terbatas dengan Presiden

Regional
Dituding Rugikan Mitra Individu, Grab dan PT TPI Jalani Sidang di KPPU Medan

Dituding Rugikan Mitra Individu, Grab dan PT TPI Jalani Sidang di KPPU Medan

Regional
Ini Reaksi Umar Patek Saat Istrinya Resmi Jadi WNI, Tanda Cinta 'Saranghae' hingga 2,5 Tahun Menunggu

Ini Reaksi Umar Patek Saat Istrinya Resmi Jadi WNI, Tanda Cinta "Saranghae" hingga 2,5 Tahun Menunggu

Regional
Akhir Perjalanan SN, Pelaku Pelemparan Sperma dan Begal Payudara di Tasikmalaya

Akhir Perjalanan SN, Pelaku Pelemparan Sperma dan Begal Payudara di Tasikmalaya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X