5 Fakta Relokasi Warga Ahmadiyah di Lombok Timur, Dianggap Tak Mau Berbaur hingga Rindu Kampung Halaman

Kompas.com - 18/06/2019, 17:18 WIB
Suana warga Ahmadiyah di tempat penitipan di Loka Latihan Kerja Selong di Lombok Timur, Selasa (18/6/2019). KOMPAS.com/IDHAM KHALIDSuana warga Ahmadiyah di tempat penitipan di Loka Latihan Kerja Selong di Lombok Timur, Selasa (18/6/2019).

KOMPAS.com - Jamaah Ahmadiyah asal Desa Greneng, Kecamatan Sakra Timur, Lombok Timur, sudah tidak bisa balik ke kampung halamannya.

Mereka hingga kini masih berada di lokasi penitipan Loka Latihan Kerja (LLK) Selong.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) Nusa Tenggara Barat Lalu Syafii menyebutkan, jemaah Ahmadiyah yang tinggal di Desa Greneng, Lombok Timur, tidak bisa diterima kembali oleh warga setempat dikarenakan masih dianggap melakukan peribadatan secara eksklusif.

Berikut ini fakta di balik nasib warga Ahmadiyah di Lombok Timur:

1. Ditolak warga karena masih eksklusif

Lombok Timur, kompas.com warga Ahmadiyah yang masih mengungsi di Lombok timutKompas.com/fitri Lombok Timur, kompas.com warga Ahmadiyah yang masih mengungsi di Lombok timut

Menurut Lalu Syafii, jemaah Ahmadiyah yang tinggal di Desa Greneng, Lombok Timur, tidak bisa diterima kembali oleh warga setempat dikarenakan masih dianggap melakukan peribadatan secara eksklusif.

“Sudah final keputusan dari warga, mereka sudah tidak bisa menerima keberadaan jemaah Ahmadiyah di kampungnya, karena tata cara peribadatan yang dianggap masih eksklusif,” kata Syafii, saat dikonfirmasi, Senin (17/6/2019) malam.

“Jemaah Ahmadiyah itu melakukan peribadatan dengan eksklusif, mereka tidak mau berjemaah bersama warga lainnya, kalau bukan sesama anggota Ahmadiyah sendiri,” sebut Syafii.

Ia menyebutkan, semula warga Desa Greneng masih bisa menerima keberadaan jemaah Ahmadiyah asalkan tidak melakukan peribadatan dengan tertutup lagi. Namun, hal tersebut tidak bisa dipenuhi oleh jemaah Ahmadiyah.

Baca juga: Jemaah Ahmadiyah Lombok Timur Akan Direlokasi ke Tempat Aman

2. Warga Ahmadiyah tak bisa memenuhi permintaan warga

IlustrasiThinkstock/Duncan_Andison Ilustrasi

Berdasar penjelasan Syafii, jemaah Ahmadiyah tidak bisa menerima keinginan warga setempat agar bisa beribadah bersama-sama.

Pasalnya, mereka tidak diizinkan pihak Dewan Pimpinan Pusat Ahamdiyah untuk beribadah bersama warga lainnya.

“Alasan jemaah Ahmadiyah masih belum memenuhi keinginan masyarakat, karena mereka tidak mendapatkan izin dari DPP Ahmadiyah, mereka ini organisasi besar, jadi mereka harus menuruti atau mematuhi apa yang dikatakan DPP,” terang dia.

Sebelumnya, pihak Pemerintah Provinsi NTB telah memberikan bantuan Rp 40 juta per kepala keluarga kepada jemaah Ahmadiyah untuk merehab rumahnya yang rusak.

Namun, karena jemaah Ahmadiyah tetap tidak bisa memenuhi keinginan warga setempat, akhirnya uang tersebut digunakan untuk hal yang lain untuk kebutuhan hidup jemaah Ahmadiyah.

Baca juga: Jemaah Ahmadiyah Lombok Timur Sudah Tak Bisa Kembali ke Kampung Halaman

3. Warga Ahmadiyah akan direlokasi 

IlustrasiKOMPAS/DIDIE SW Ilustrasi

Jemaah Ahmadiyah asal Desa Greneng, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, rencananya akan direlokasi ke tempat aman yakni di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.

Saat ini proses relokasi masih berlangsung sebab jemaah Ahmadiyah tidak satu suara soal relokasi tersebut serta pihak aparat masih melakukan koordinasi dengan warga agar mau menerima jemaah Ahmadiyah tersebut.

Syafii menjelaskan, jemaah Amhadiyah tersebut direlokasi setelah diusir dan dirusak rumahnya oleh warga sekitar.

“Rencananya, kami kami akan merolakasi jemaah Ahmadiah ke Sembalun, namun sampai saat ini warga Sembalun belum bisa menerima keberadaan jemaah Ahmadiyah,” kata Syafii saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (17/6/2019).

Baca juga: Jemaah Ahmadiyah Akan Direlokasi ke Kecamatan Sembalun di Lombok Timur

4. Rindu kampung halaman, warga Ahmadiyah Lebaran di pengungsian

Lombok Timur, Kompas.Com inilah suasana di pengungsian jemaat ahmadiyah di Selong Lombok Timurkompas.com/fitri.r Lombok Timur, Kompas.Com inilah suasana di pengungsian jemaat ahmadiyah di Selong Lombok Timur

Seperti diketahui, pada tanggal 19 Mei 2018 lalu, jemaah Ahmadiyah mendapatkan serangan dan pengusiran oleh warga desa setempat.

Akibatnya, rumah mereka rusak dan terpaksa tinggal di Lokal Latihan kerja (LLK).

Jemaah Ahmadiyah yang tinggal di LLK sebanyak delapan kepala keluarga dengan total 24 orang yang terdiri dari 10 anak-anak, tiga lansia, dan 11 orang dewasa.

Edi Sucipto (37), salah satu jemaah Ahmadiah menceritakan bahwa dirinya sangat merindukan lebaran di kampung halamanya dan kumpul bersama keluarga dekatnya.

“Coba bayangkan perasan mas jika dipisahkan secara dipaksa. Tidak bisa berkumpul sama orang tua saat lebaran, pasti sedih. Begitupun kami. Kami udah dua kali tidak bisa berkumpul sama orang tua dan orang terdekat kami, kata Edi sambil berlinangan air mata saat bercerita kepada Kompas.com, Jumat (7/6/2019).

Baca juga: YLBHI Menduga Ada Oknum Aparat Terlibat dalam Penyerangan Ahmadiyah Lombok Timur

5. Bantuan pemerintah hanya selama tiga bulan

Para anak-anak Jamaah Ahmadiyah saat diminta berfoto bersama oleh kompas.com Jumat (7/6/201)KOMPAS.com/IDHAM KHALID Para anak-anak Jamaah Ahmadiyah saat diminta berfoto bersama oleh kompas.com Jumat (7/6/201)

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama di pengungsian, para jemaah Ahmadiyah harus mencari pekerjaan baru seperti berdagang dan menjadi tukang.

“Kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya sendiri bekerja sebahai tukang bangunan rumah. Ada juga yang berjualan di pasar," jelas Edi.

Ia mengakui pernah mendapat bantuan oleh pemerintah, namun hanya sementara.

"Memang pernah diberikan bantuan sama pemerintah namun itu hanya tiga bulan. Selepas itu tidak ada lagi," ungkapnya.

Sementara itu Marini, salah seorang warga Ahmadiyah menuturkan merasakan suasana puasa dan lebaran di tempat pengungsian yang berbeda.

Saat di kampungnya, ia masih sering membuat kolak dari hasil pertaniannya. Namun sekarang untuk menikmati kolak, dia harus membelinya.

Baca juga: Lebaran di Pengungsian, Jemaah Ahmadiyah Rindu Kampung Halaman

Sumber: KOMPAS.com (Idham Khalid)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita Kakek 72 Tahun Kumpulkan 2.900 Telur Penyu dalam Sebulan, Dijaga sampai Menetas

Cerita Kakek 72 Tahun Kumpulkan 2.900 Telur Penyu dalam Sebulan, Dijaga sampai Menetas

Regional
PSBB Kabupaten Bogor Berakhir, Jumlah Pasien yang Sembuh Meningkat

PSBB Kabupaten Bogor Berakhir, Jumlah Pasien yang Sembuh Meningkat

Regional
Kasus Pengunduran Diri 64 Kepala Sekolah SMP Diadukan ke KPK

Kasus Pengunduran Diri 64 Kepala Sekolah SMP Diadukan ke KPK

Regional
Gubernur Kalbar Copot 2 Kepala SMK, PGRI: Tidak Boleh Sewenang-wenang

Gubernur Kalbar Copot 2 Kepala SMK, PGRI: Tidak Boleh Sewenang-wenang

Regional
Demonstran Penolak RUU HIP Boleh Bertemu Anggota Dewan, asal Ikut Rapid Test

Demonstran Penolak RUU HIP Boleh Bertemu Anggota Dewan, asal Ikut Rapid Test

Regional
Dalam 3 Hari, Pasien Corona di Kalsel Bertambah 403 Orang, Kini Catat 4.621 Kasus

Dalam 3 Hari, Pasien Corona di Kalsel Bertambah 403 Orang, Kini Catat 4.621 Kasus

Regional
14.483 Orang Mengungsi dan 24 Jiwa Meninggal Akibat Banjir Masamba

14.483 Orang Mengungsi dan 24 Jiwa Meninggal Akibat Banjir Masamba

Regional
Pasien Covid-19 di Ogan Ilir Mencapai 107 Orang, Kantor Pemkab Ditutup

Pasien Covid-19 di Ogan Ilir Mencapai 107 Orang, Kantor Pemkab Ditutup

Regional
Karyawan Toko Positif Covid-19, Pusat Belanja BTC Solo Tutup 7 Hari

Karyawan Toko Positif Covid-19, Pusat Belanja BTC Solo Tutup 7 Hari

Regional
Cegah Penumpukan Warga, Pemkot Mataram Matikan WiFi Gratis di Ruang Publik

Cegah Penumpukan Warga, Pemkot Mataram Matikan WiFi Gratis di Ruang Publik

Regional
Anaknya Tidak Lolos PPDB, Puluhan Orangtua Gembok SMA 5 Padang

Anaknya Tidak Lolos PPDB, Puluhan Orangtua Gembok SMA 5 Padang

Regional
Wakil Bupati OKU Selatan Positif Corona, Ajudan hingga Keluarga Diisolasi

Wakil Bupati OKU Selatan Positif Corona, Ajudan hingga Keluarga Diisolasi

Regional
Seorang Tersangka Kasus Pungli PDAM Kudus Dinyatakan Positif Corona

Seorang Tersangka Kasus Pungli PDAM Kudus Dinyatakan Positif Corona

Regional
Pasien Covid-19 dari Klaster Secapa AD Bandung Tersisa 948 Orang

Pasien Covid-19 dari Klaster Secapa AD Bandung Tersisa 948 Orang

Regional
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Minta Tes PCR Diperbanyak

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Minta Tes PCR Diperbanyak

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X