Kisah Koiman, Sadap Getah Pinus untuk Biaya Kuliah Sang Anak

Kompas.com - 13/06/2019, 10:07 WIB
Koiman saat menyadap getah pinus di hutan Desa Tenogo, Kecamatan Paninggaran , Kabupaten Pekalongan, Jateng, Rabu (12/6/2019)KOMPAS.com (ARI WIDODO) Koiman saat menyadap getah pinus di hutan Desa Tenogo, Kecamatan Paninggaran , Kabupaten Pekalongan, Jateng, Rabu (12/6/2019)

PEKALONGAN,KOMPAS.com -Provinsi Jawa Tengah memiliki banyak hutan pinus (Casuarina equisetifolia) yang menghasilkan getah pinus yang banyak dimanfaatkan untuk bahan obat dan kosmetik.

Para penyadap getah pinus menjadi salah satu tulang punggung bagi kelancaran produksi olahan getah pinus ini.

Salah satunya adalah Koiman (44) warga Dukuh Sitatah Jurang, Desa Tenogo Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah.

Mantan sopir truk ini bercerita jika hidupnya lebih tentram setelah beralih profesi menjadi penyadap getah pinus.

"Lebih tenang dan adem hidup saya setelah menjadi kuli penyadap getah. Jam kerja saya yang menentukan sendiri, tidak terburu buru seperti ketika bekerja di jalan sebagai sopir," kata Koiman saat ditemui Kompas.com, Rabu (12/6/2019) pagi.

Baca juga: Wisata Hutan Pinus dan Kisah Warga Lereng Gunung Slamet Keluar dari Jerat Kemiskinan

Dalam sehari, lelaki yang memiliki dua anak anak ini bekerja selama lima jam.

Biasanya dia memulai aktivitas sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Kegiatan yang rutin dilakukan setiap pagi adalah mengikis kulit pohon pinus supaya mengeluarkan getah. Tiap pohon mendapat jatah pengikisan empat hari sekali.

Sebelum dilakukan pengikisan, batok kelapa tempat penampungan getah yang menetes dari pohon ditutup menggunakan seng. Selanjutnya mulailah tangan terampil Koiman berayun menebaskan pecok, sejenis kapak kecil khusus untuk menyadap getah.

Pecok bermata tajam langsung menembus kulit ari pinus dengan dengan mulus. Tidak boleh ada serpihan sebab akan mengganggu kualitas getah yang hasilkan.

"Menghirup uap getah pinus juga bisa meredakan stress, karena getah ini setelah disuling menjadi gondorukem dan terpentin. Terus kan diolah jadi bahan obat dan kosmetik. Pabriknya di Paninggaran ada, " jelasnya.

Jika ditekuni, pekerjaan menyadap getah bisa menjadi mata pencaharian utama, sebab hasil yang didapat setara dengan jerih payah yang dilakukannya.

"Saat ini, saya mendapat jatah di petak 59 B yang masuk Desa Tenogo Kecamatan Paninggaran Pekalongan. Pohon yang saya sadap ada 600 batang. Tiap bulan saya bisa setor ke Tempat Penampungan Getah (TPG) sekitar 4- 5 kuintal dengan harga per kilogramnya Rp 3.700," katanya.

Baca juga: Pohon Pinus 30 Meter Tumbang Timpa Rumah, 4 Penghuni Masuk IGD

Dari hasil sadapannya, tiap bulan Koiman bisa mengantongi uang sekitar Rp 2 juta - Rp 3 juta. Padahal pekerjaan menyadap hanya memakan setengah dari waktu efektif aktivitas hariannya

"Saya sangat menikmati pekerjaan ini. Jam kerja fleksibel, hanya sekitar 5 jam. Selebihnya saya gunakan untuk beternak dan beribadah serta waktu yang sangat cukup untuk keluarga, " ucap Koiman.

Uang hasil sadapan yang dikumpulkan Koiman untuk kepentingan sekolah anaknya. Kini anak pertamanya sudah lulus dari SMK dan berencana melanjutkan kuliah.

"Alhamdulillah, hasil keringat selama ini bisa untuk sekolah anak. Semoga nanti anak anak bisa melanjutkan kuliah. Tapi harus menabung dulu, karena biayanya kan mahal. Yang penting dijalani dan  disyukuri saja,"ujarnya.

Koiman bisa bernafas lega karena dia sudah menyiapkan dana untuk sekolah anak-anaknya dari hasil menyadap getah pinus.




Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Fatwa Haram PUBG, Belum Ada Arahan Soal Razia di Lhokseumawe

Fatwa Haram PUBG, Belum Ada Arahan Soal Razia di Lhokseumawe

Regional
Pasar Tradisional di Bandung, 99 Persen Instalasi Kelistrikannya Bermasalah

Pasar Tradisional di Bandung, 99 Persen Instalasi Kelistrikannya Bermasalah

Regional
Puluhan Smelter Tutup, Wali Kota Pangkal Pinang Khawatir Ada Ribuan Pengangguran

Puluhan Smelter Tutup, Wali Kota Pangkal Pinang Khawatir Ada Ribuan Pengangguran

Regional
Kemarau Datang, Air Bersih di Desa Marmoyo Jombang Mulai Terbatas

Kemarau Datang, Air Bersih di Desa Marmoyo Jombang Mulai Terbatas

Regional
PPDB Online, Banyak Siswa Belum Paham 'Input' Data

PPDB Online, Banyak Siswa Belum Paham "Input' Data

Regional
Beraksi Lagi, 2 Pencuri Motor Ditembak Polisi

Beraksi Lagi, 2 Pencuri Motor Ditembak Polisi

Regional
Gerebek Pesta Sabu di Sebuah Rumah, Polisi Temukan Senjata Api Rakitan

Gerebek Pesta Sabu di Sebuah Rumah, Polisi Temukan Senjata Api Rakitan

Regional
Ahli Waris Korban Kebakaran Pabrik Korek Api Berhak Terima Santunan 48 Kali Gaji

Ahli Waris Korban Kebakaran Pabrik Korek Api Berhak Terima Santunan 48 Kali Gaji

Regional
Diduga Cabuli Bocah, Seorang Kakek 70 Tahun Diamankan Polisi

Diduga Cabuli Bocah, Seorang Kakek 70 Tahun Diamankan Polisi

Regional
Ulat Bulu Menyerang akibat Tambang, Aparat Bakar Belasan Ponton Timah Apung

Ulat Bulu Menyerang akibat Tambang, Aparat Bakar Belasan Ponton Timah Apung

Regional
Aparat Gabungan Ungkap Kasus Penyelundupan 7 Satwa Dilindungi ke Malaysia, 3 Diantaranya Orangutan

Aparat Gabungan Ungkap Kasus Penyelundupan 7 Satwa Dilindungi ke Malaysia, 3 Diantaranya Orangutan

Regional
Puluhan Gubuk Dibakar, Warga Dua Desa di Bima Bentrok dan 4 Orang Terluka

Puluhan Gubuk Dibakar, Warga Dua Desa di Bima Bentrok dan 4 Orang Terluka

Regional
Speedboat Tenggelam di Perairan Tanjung Kasam, 5 Penumpang Selamat

Speedboat Tenggelam di Perairan Tanjung Kasam, 5 Penumpang Selamat

Regional
Kisah Nasib Kehilangan Dhijah Saat Pabrik Korek Api Terbakar...

Kisah Nasib Kehilangan Dhijah Saat Pabrik Korek Api Terbakar...

Regional
Kuasa Hukum Artis VA: Vonis Hakim Belum Penuhi Rasa Keadilan

Kuasa Hukum Artis VA: Vonis Hakim Belum Penuhi Rasa Keadilan

Regional

Close Ads X