Berburu Rupiah di Akhir Malam Penuh Berkah…

Kompas.com - 03/06/2019, 16:42 WIB
Pedagang baju di Pasar Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Senin  (3/6/2019). KOMPAS.com/MASRIADIPedagang baju di Pasar Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Senin (3/6/2019).

LHOKSEUMAE, KOMPAS.com – Puluhan masyarakat menyemut di Pasar Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Senin (3/6/2019). Hari-hari warga memenuhi pasar terbesar di kota untuk berbelanja keperluan hari raya. Jalanan macet dan penuh dengan pedagang dadakan pada bahu jalan.

Bagi masyarakat Aceh, hari itu menjadi istimewa. Masyarakat menyebutnya meugang ubit atau tradisi menyantap daging bersama keluarga. Dua hari sebelum Idul Fitri disebut meugang ubit, besok, Selasa (4/6/2019) disebut meugang rayeuk.

Itu pula yang dirasakan, Nurhayati, salah seorang pedagang bumbu dapur. Sejak pagi tadi tak berhenti tangannya menyiapkan aneka bumbu, mulai bumbu rendang Padang, rendang Aceh, kari dan lain sebagainya.

“Lumayan hari ini, sejak pagi sudah ramai pembeli. Kalau hari-hari biasa, saya paling laku Rp 1,5 juta. Kalau hari ini, Alhamdulillah sudah lebih dari itu, ramai,” sebut Nur Hayati tanpa mau menyebut angka pendapatnya pagi hingga siang itu.

Baca juga: Jelang Hari Raya Idul Fitri, Napi Teroris di Sulsel Tidak Dapat Remisi

Senyumnya melebar. Hari terakhir bulan penuh berkah ini memang menjadi hari persiapan menyambut Idul Fitri. Sehingga, menjadi lokasi berburu rupiah bagi para pedagang di kota itu.

Selain bumbu yang paling dicari masyarakat jelang lebaran keperluan untuk shalat ied. Misalnya, di salah satu toko keperluan kaum hawa di Lhokseumawe terlihat aneka mukena diburu kaum ibu.

“Sekarang tuh lagi trend pastelena Siti Khadijah dan Madina, kalau tahun ini trendnya motif polos. Banyak dipesan untuk shalat ied,” kata seorang pemilik toko, Nur Aina.

Dia mengaku, dua model mukena itu saha sudah dipesan puluhan potong sepanjang pekan ini.

“Kalau baju,gamis masih mayoritas pesanan kaum ibu,” terangnya. Buka sejak pukul 09.00 WIB hingga 24.00 WIB membuat pendapatan Aina melambung.

Baca juga: Rp 5 Miliar untuk Bulan Suci Seni, Ridwan Kamil Sebut Pas-pasan

“Labanya lumayan. Kan saya juga jual harga terjangkau mulai Rp 100.000-Rp 200.000 untuk mukena, kalau gamis Rp 300.000. Mungkin karena itu lebih terjangkau dan ramai dibeli,” katanya.

Selama hari terakhir ramadhan ini penjualannya meningkat drastis. Sehingga opsi membuka toko malam dilakukan. “Untungnya lumayan, pembelinya sedang ramai,” katanya.

Lalu, bagaimana soal harga? Adakah kenaikan menjelang hari raya? Aina tersenyum. Dia menerapkan konsep bisnis ambil laba sewajarnya.

“Bukan karena mentang-mentang besok hari raya, hari ini ada masyarakat beli lalu harganya sesuka saya. Itu tak baik. Saya ambil untuk sedikit saja, agar barang cepat habis dan modelnya segera kita tukar dengan yang baru,” katanya.

Di Kota Lhokseumawe, sepanjang pekan ini, usai shalat tarawih pukul 22.00 WIB, seluruh toko telah dibuka. Mereka berjualan hingga dinihari. Berburu rupiah di akhir bulan penuh berkah.

Baca juga: Kisah Kampung Anyaman Bambu yang Mampu Bertahan hingga Tujuh Turunan

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X