Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Kampung Anyaman Bambu yang Mampu Bertahan hingga Tujuh Turunan

Kompas.com - 03/06/2019, 11:38 WIB
Ari Widodo,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

DEMAK, KOMPAS.com - Di zaman serba benda pabrikan, ternyata masih ada satu kampung yang melestarikan kerajinan anyaman bambu.

Ya , di Desa Rejosari Kecamatan Karangtengah , Kabupaten Demak, Jateng, tiap rumah yang berderet rapat dan rapi pasti dapat ditemukan tuan rumah asyik menganyam berbagai perabotan di beranda rumah masing masing.

Jemari yang lincah membuat pola menimbulkan suara gemrisik halus yang khas. Masing masing penganyam serius menghadapi pekerjaan mereka, jarang sekali ada perbincangan.

Mungkin karena butuh ketelatenan ketika memasukkan bilah bilah bambu tipis sesuai jenis anyaman.

Baca juga: Kisah Penjaga Lintasan KA Tak Berpintu, Usir Orang Gila hingga Hentikan Pengguna Jalan

Tak hanya usia produktif yang melakukan aktivitas tersebut, para manula pun tak segan turun tangan berkreasi membuat perabotan tradisional yang masih saja digemari di Kota Wali.

Mbah Parman (75) dan istrinya yang sudah renta masih gesit melakukan pekerjaan yang sudah digelutinya sejak kecil.

Lelaki tua yang pernah mengenyam pendidikan sampai Sekolah Rakyat (SR) setingkat Sekolah Dasar tersebut sibuk 'ngirat' yakni membelah bambu hingga menjadi helaian helaian tipis.

Meski pandangannya sudah kabur dimakan usia, namun tanganya tetap cekatan memainkan 'bendo' sejenis alat potong terbuat dari besi yang berbentuk pipih serta tajam.

Baca juga: Heboh Sekali Makan Rp 700.000 di Warung Bu Anny, Daftar Harga Menu Akhirnya Dibuat

"Sakderenge diirat, pringe dilining terus diongot ongot utawi nglimis. Njenengan boten ngertos ta? Lha tiyang kutha nggih jarang sing ngertos urip ngaten niki.(Sebelum diolah menjadi tipis, bambu dibelah kecil kecil kemudian seratnya dibuang supaya bersih. Anda ndak tahu kan? Lha, orang kota ya jarang yang tahu hidup begini)," ujarnya sembari terkekeh ceria, saat ditemui Kompas.com, Minggu (2/6/2019).

Pinah (68), istri Mbah Parman tak terganggu dengan pembicaraan kami, ia tetap menunduk memperhatikan anyamannya dengan tekun.

Tapi saat ditanya, bibirnya langsung menyunggingkan senyum dan menarik pipinya yang tambah keriput.

"Kula saged damel bodak, ayakan, irig, tampir kaliyan tolok. Tergantung pesenan. Tapi teng Demak ramene bodak, taksih payu teng dusun dusun. Dadose niki kula sakkeluargi damele bodak. (Saya bisa membuat bakul besar, alat sortir kacang kacangan, alat untuk membersihkan beras dan alat mencuci sayuran. Tapi di Demak yang sering laku bakul besar. Jadi kami sekeluarga memproduksi bakul besar)," ucap Pinah sambil menunjuk anak perempuannya yang sedang membuat 'jejet'(memasang tali pada tepian 'bodak').

Mbah Parman segera menimpali keterangan istrinya, ketika ditanya tahapan pekerjaan yang sedang dilakukan oleh istrinya.

Filosofi mencari nafkah warga Rejosari: Jangan serakah...

Hasil kerajinan anyaman bambu warga  Desa Rejosari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Jateng, siap dipasarkan, Minggu (2/5/2019)KOMPAS.com/ARI WIDODO Hasil kerajinan anyaman bambu warga Desa Rejosari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Jateng, siap dipasarkan, Minggu (2/5/2019)
Untuk membuat sebuah bodak, banyak istilah dan langkah yang harus dilakukan.

Yang pertama 'nglakari' atau membuat pola awal sebagai dasar anyaman bodak, lalu sang penganyam 'mbuconi' yakni membuat empat sudut bodak supaya bisa berdiri stabil, 'nganaki' untuk posisi pegangan ketika bodak diangkat.

Proses selanjutnya yakni 'nyublesi' untuk menyambung dan menambah anyaman supaya sesuai bentuk yang diinginkan.

Lalu anyaman 'ditatah' supaya rapat dan kencang anyamannya. selanjutnya 'dibekuk' menjadi bentuk elips dan 'wengku' memasang bambu tipis sebagai batas permukaan bodak.

Baca juga: Kisah Bripka Andi Kustiawan Rela Berdandan Jadi Jin Aladdin untuk Hibur Pemudik

Untuk membuat pola anyaman, masing masing jenis anyaman memiliki pola dasar yang berbeda, ada yang disebut 'pola durna, ' Pola Dursasana' dan 'Pola Semar'.

Sayangnya filosofi pola pola tersebut tak diturunkan oleh nenek moyang warga Rejosari sehingga informasi tentang makna pola bernama wayang tersebut hanya tinggal nama.

Dari hasil mengayam, keluarga Mbah Parman dan keluarga lain di Desa Rejosari bahkan bisa menyekolahkan anaknya minimal SMA.

"Senajan boten melimpah, nanging berkah, golek pangan niku sing paedah, ampun angah angah. Ngendikane Kanjeng Sunan senajan ora nyugihi sing penting nguripi." (Meskipun tidak berlimpah namun berkah, mencari nafkah itu harus berfaedah jangan serakah. Kanjeng Sunan bersabda walau tidak memperkaya tetapi menghidupi)," tutur Mbah Parman.

Dukungan pemerintah desa

Jumiatun Ketua Tim Penggerak PKK  Desa Rejosari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Jateng, menunjukan hasil kerajinan anyaman bambu, Minggu (2/5/2019)KOMPAS.com/ARI WIDODO Jumiatun Ketua Tim Penggerak PKK Desa Rejosari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Jateng, menunjukan hasil kerajinan anyaman bambu, Minggu (2/5/2019)
Jumiatun (41) Ketua Tim Penggerak PKK Desa Rejosari Kecamatan Karangtengah, Demak, menyatakan bahwa desanya merupakan sentra kerajinan anyaman bambu. 

"Semua rumah diberdayakan. Menganyam menjadi warisan pekerjaan yang turun temurun. Semua warga asli Rejosari bisa menganyam meski kadang ada yang tidak bermatapencaharian sebagai penganyam," kata Jumiatun.

Pihak pemerintah desa mendorong usaha home industry tersebut dengan motivasi, pemberian peralatan cuma cuma, ekspo dan penyuluhan inovasi karya.

Bahan baku didatangkan dari luar daerah Demak, biasanya ada yang menyiapkan stok bambu. Para perajin mengambil bahan baku dan membayar jika hasil anyamannya laku.

Baca juga: 7 Fakta Kisah Wally Jadi WNI, 42 Tahun Tinggal di Papua hingga Dirikan 7 Sekolah

Sebatang bambu dihargai Rp.11.000.

"Sebatang bisa jadi bodak sekitar 3 atau lebih. Harga bodak Rp.15.000," terangnya.

Barang - barang hasil anyaman warga Rejosari mayoritas dikumpulkan pada pengepul di desa tersebut, tetapi ada pula yang menjualnya keliling desa desa di wilayah Demak.

Jika dijual keliling, harganya bisa mencapai Rp 20.000 - Rp.25.000 sebuah.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com