TKI Bawa 7 Ekor Burung dalam Paralon, Diamankan di Bandara Lombok

Kompas.com - 28/05/2019, 14:48 WIB
Tujuh ekor burung dalam paralon yang dibawa TKI dari Malaysia di Bandara Internasional Lombok diamankan petugas Karantina Pertanian Mataram, Selasa (28/5/2019). Dok. Balai Karantina Pertanian MataramTujuh ekor burung dalam paralon yang dibawa TKI dari Malaysia di Bandara Internasional Lombok diamankan petugas Karantina Pertanian Mataram, Selasa (28/5/2019).

MATARAM, KOMPAS.com - Petugas Balai Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian (Barantan) Mataram, mengamankan tujuh ekor burung dalam paralon yang dibawa TKI dari Malaysia di Lombok International Airport (LIA), Minggu (26/5/2019).

"Tiga ekor kacer sudah mati, sisanya (hidup) kita amankan," kata Arinaung, Kepala Karantina Pertanian Mataram seperti dikutip dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Selasa (28/5/2019).

Tujuh ekor burung tersebut ditemukan dalam paralon yang ditumpuk bersama pakaian di dalam koper.

Arinaung menyebutkan, kepada petugas karantina pemilik burung berkilah bahwa satwa yang dibawanya tersebut hanya titipan.

Baca juga: Berhasil Ungkap Kasus Penyelundupan 41 Komodo, KLHK Apresiasi Polri

Tujuh ekor burung tersebut terdiri dari empat ekor burung perkutut dan tiga ekor burung kacer yang ditemukan sudah mati.

Selain burung yang dimasukkan ke dalam paralon, petugas juga mengamankan benih kacang panjang sebanyak 400 kg dan benih labu 50 gram dari Malaysia.

Sesuai Undang-Undang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbunan No. 19 tahun 1992, yang saat ini tegah direvisi oleh DPR RI, setiap komoditas yang dilalulintaskan baik antar area dalam wilayah NKRI maupun dari dan ke luar negeri wajib dilaporkan kepada petugas karantina serta harus memenuhi persyaratan kesehatan karantina.

Hal tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi masuk dan tersebaranya hama dan penyakit baik antar pulau di Indonesia maupun dari luar negeri.

Baca juga: Selundupkan Ribuan Benih Lobster, Pemilik Melarikan Diri dengan Lompat ke Air

Menurut Arinaung, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahayanya membawa komoditas pertanian baik hewan maupun tumbuhan tanpa dilengkapi jaminan kesehatan yang dibawa dari negara luar masuk ke Indonesia.

"Satu atau dua ekor, atau beberapa butir benih saja itu resikonya sama. Kalau penyakitnya sudah masuk, nanti susah lagi penanganannya. Butuh anggaran besar, belum kerugian ekonomi petani lokal, bahaya!" tegasnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tujuh Orang dari Klaster Demo di Semarang Sembuh dari Covid-19

Tujuh Orang dari Klaster Demo di Semarang Sembuh dari Covid-19

Regional
Debat Pilkada Makassar Digelar 3 Kali, Penerapan Protokol Kesehatan Jadi Perhatian Utama

Debat Pilkada Makassar Digelar 3 Kali, Penerapan Protokol Kesehatan Jadi Perhatian Utama

Regional
HKTI Siap Bantu Petani di Tegal untuk Pasarkan Hasil Pertanian

HKTI Siap Bantu Petani di Tegal untuk Pasarkan Hasil Pertanian

Regional
Video Viral Lima Perempuan ABG Rebutan Cowok di Ponorogo

Video Viral Lima Perempuan ABG Rebutan Cowok di Ponorogo

Regional
Kasus Covid-19 Melonjak, Gubernur Sulteng Minta Bupati dan Walkot Ajukan PSBB

Kasus Covid-19 Melonjak, Gubernur Sulteng Minta Bupati dan Walkot Ajukan PSBB

Regional
Staf TU IPDN Lombok Tengah Positif Covid-19

Staf TU IPDN Lombok Tengah Positif Covid-19

Regional
Separuh Wilayah Jatim Masuk Zona Kuning Covid-19, Khofifah: Ini Kerja Keras Semua Elemen...

Separuh Wilayah Jatim Masuk Zona Kuning Covid-19, Khofifah: Ini Kerja Keras Semua Elemen...

Regional
Dua Pejabatnya Meninggal karena Covid-19, Rektor UNS: Kami 'Lockdown' Kampus

Dua Pejabatnya Meninggal karena Covid-19, Rektor UNS: Kami "Lockdown" Kampus

Regional
Kasus Aktif Covid-19 Tersisa 41 Orang, Wali Kota Malang Minta Masyarakat Tak Terlena

Kasus Aktif Covid-19 Tersisa 41 Orang, Wali Kota Malang Minta Masyarakat Tak Terlena

Regional
LBH Ansor Pati Ikut Polisikan Gus Nur yang Dianggap Menghina NU

LBH Ansor Pati Ikut Polisikan Gus Nur yang Dianggap Menghina NU

Regional
Satgas Covid-19 Papua: 3.359 Pasien Positif Covid-19 Masih Dirawat

Satgas Covid-19 Papua: 3.359 Pasien Positif Covid-19 Masih Dirawat

Regional
PDI-P Pecat Kadernya yang Maju Pilkada Demak Lewat Partai Lain

PDI-P Pecat Kadernya yang Maju Pilkada Demak Lewat Partai Lain

Regional
16.000 Petugas KPPS di Kota Makassar Bakal Jalani 'Rapid Test'

16.000 Petugas KPPS di Kota Makassar Bakal Jalani "Rapid Test"

Regional
Siswa Kelas Virtual di Jateng Masih Bisa 'Nyambi' Kerja

Siswa Kelas Virtual di Jateng Masih Bisa "Nyambi" Kerja

Regional
Nakes dan Petugas Lapangan Jadi Prioritas Pemberian Vaksin Covid-19 di Jateng

Nakes dan Petugas Lapangan Jadi Prioritas Pemberian Vaksin Covid-19 di Jateng

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X