Hari Ini, Peringatan 13 Tahun Peristiwa Gempa Yogyakarta

Kompas.com - 27/05/2019, 10:17 WIB
Poster pemain sepak bola yang langsung dipasang di pohon, serta karung bekas yang kembali dikumpulkan untuk alas tidur. Di Dusun Bondalem, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul, ini hampir semua rumah telah rata tanah akibat gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006. KOMPAS.com/AMIR SODIKINPoster pemain sepak bola yang langsung dipasang di pohon, serta karung bekas yang kembali dikumpulkan untuk alas tidur. Di Dusun Bondalem, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul, ini hampir semua rumah telah rata tanah akibat gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Tanggal 27 Mei 2006 menjadi salah satu hari yang tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Yogyakarta.

Sekitar pukul 05.59 WIB, 13 tahun silam gempa berkekuatan 5,9 Skala Richer meluluhlantakan DIY dan sebagian Jawa Tengah.

Gempa yang mengguncang sekitar 57 detik itu, menghancurkan ratusan ribu rumah dan menyebabkan ribuan orang meninggal.

Dari data BPBD Bantul jumlah korban meninggal di wilayah Bantul ada 4.143 korban tewas, dengan jumlah rumah rusak total 71.763, rusak berat 71.372, rusak ringan 66.359 rumah.

Baca juga: Mengingat Kembali Gempa Yogyakarta 11 Tahun Lalu

Total korban gempa DIY dan Jawa Tengah bagian selatan seperti di Klaten tercatat 5.782 lebih orang meninggal dunia, 26.299 lebih luka berat dan ringan, 390.077 lebih rumah roboh akibat gempa waktu itu.

Kompas.com, Senin (27/5/2019) berkesempatan mengunjungi tetenger atau tugu peringatan gempa bumi yang berada di sekitar pusat gempa di Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong. Ada satu buah tugu prasasti di tengah dengan bentuk persegi panjang.

Pusat gempa 5,2 SR pada Minggu (16/3/2014) malam pukul 21.53 WIB.TWITTER INFOBMKG Pusat gempa 5,2 SR pada Minggu (16/3/2014) malam pukul 21.53 WIB.
Adapun isi dari prasasti intinya menunjukkan lokasi merupakan pusat episentrum gempa bumi tahun 2006, dan sebagai pengingat kepada masyarakat, dengan ditandatangani oleh kepala BNPB tahun 2016 Willem Rampangilei.

Suara gemericik air dari sungai opak terdengar dari sekitar lokasi. Sebab, lokasi terletak 300 meter dari tempuran sungai Opak dan Oya.

Di sekelilingnya ada tiga batu prasasti yang pertama ditanda tangani oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hemengku Buwono X, Rektor UPN, dan Bupati Bantul Suharsono. Di sekeliling lokasi, banyak tumbuh ilalang. Pagi ini tidak ada aktivitas peringatan di lokasi, warga sekitar pun beraktivitas seperti biasa.

Namun demikian, gempa masih membekas kuat diingatan warga sekitar. Salah satunya Wagiyem (70) Warga Potrodayan. Dia masih ingat saat itu dirinya sedang menjual ayam miliknya di sekitar Pundong.

Baca juga: Menurut BNPB, Gempa Aceh Hampir Sama dengan Gempa Yogyakarta 2006

"Saya masih ingat waktu itu hari pasaran Wage, menjual ayam. Tiba-tiba terdengar seperti angin dari arah selatan 'hurug-hurug' begitu," ucapnya ditemui di sekitar Prasasti Gempa Senn (27/5/2019)

Sesaat kemudian rumah luluh lantak karena diguncang gempa. Rumah miliknya pun hancur, beruntung tidak ada korban jiwa dikeluarganya. Dirinya harus mengungsi ke sebuah gudang bersama warga lainnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X