Mantan Kacab Bank Jateng Diduga Korupsi Uang Rp 4,43 Miliar Sejak 2016

Kompas.com - 24/05/2019, 12:05 WIB
Mantan Kepala Bank Jateng Cabang Ambarawa, Kabupaten Semarang, Agus Yulianto, berkonsultasi dengan penasihat hukumnya dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (22/5/2019). ANTARA/Foto: I.C.SenjayaMantan Kepala Bank Jateng Cabang Ambarawa, Kabupaten Semarang, Agus Yulianto, berkonsultasi dengan penasihat hukumnya dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (22/5/2019).

KOMPAS.com - Mantan Kepala Cabang (Kacab) Bank Jateng Cabang Ambarawa  Agus Yulianto, diduga melakukan korupsi uang hingga Rp 4,43 miliar.

Jaksa Penuntut Umum Fikri Fachrurrozi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (22/5/2019), mengatakan, kerugian negara yang dialami bank pembangunan daerah Jawa Tengah tersebut berasal dari kredit fiktif.

Jaksa menjelaskan tindak pidana tersebut terjadi pada kurun waktu 2016 hingga 2017.

Kredit fiktif tersebut, lanjut dia, diajukan melalui kredit usaha produktif dan kredit Mitra 25 milik Bank Jateng.


Baca juga: Penjelasan BRI Terkait Dugaan Pegawainya Korupsi Uang Rp 1 Miliar untuk Judi Online

Melalui kredit usaha produktif, kata dia, terdapat sejumlah debitur yang mengajukan pinjaman dengan besaran bervariasi.

Namun, menurut dia, kredit dengan total Rp 3,125 miliar tersebut diajukan oleh perantara pihak ketiga.

Sementara pada kredit Mitra 25, terdapat pengajuan kredit dari 48 nasabah yang juga diajukan melalui perantara.

Total kredit yang dikucurkan pada program Mitra 25 tersebut total mencapai Rp 1,2 miliar.

Menurut jaksa, dalam penilaian yang dilakukan petugas Bank Jateng, para debitur tersebut sesungguhnya tidak layak untuk memperoleh pembiayaan.

"Terdakwa Agus Yulianto memerintahkan agar pengajuan kredit para debitur tersebut tetap dicairkan," katanya dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua Sulistyono.

Baca juga: Ini Modus Oknum Pegawai BRI Korupsi Uang Rp 1 Miliar untuk Judi Online

Terdakwa sendiri, dalam dakwaan jaksa, telah memanfaatkan fasilitas ktedit bagi para nasabah tersebut untuk kepentingannya sendiri dengan total mencapai Rp 459 juta.

Atas perbuatannya, terdakwa dijerat dengan Pasal 2 atau pasal 3 Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 yang telah diubah dan ditambahkan dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Atas dakwaan jaksa tersebut, terdakwa menyatakan tidak akan mengajukan tanggapan dan meminta sidang langsung dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X