Satu Tahun Status Waspada Gunung Merapi, Begini Kondisinya Sekarang...

Kompas.com - 22/05/2019, 11:45 WIB
Aktivitas Gunung Merapi terlihat dari kawasan Deles Indah, Sidorejo, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Senin (11/3/2019). Berdasarkan data pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada (11/3/2019) pukul 06.00 - 18.00 WIB terjadi guguran lava ke arah Kali Gendol sebanyak dua kali dengan jarak luncur 500 meter. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/wsj.Aloysius Jarot Nugroho Aktivitas Gunung Merapi terlihat dari kawasan Deles Indah, Sidorejo, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Senin (11/3/2019). Berdasarkan data pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada (11/3/2019) pukul 06.00 - 18.00 WIB terjadi guguran lava ke arah Kali Gendol sebanyak dua kali dengan jarak luncur 500 meter. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/wsj.


YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Pada Selasa (21/5/2019), tepat satu tahun Gunung Merapi berstatus waspada (level II).

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mulai menaikkan status Gunung Merapi dari aktif normal menjadi waspada (Level II)  pada Senin 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB.

Baca juga: Gunung Merapi Keluarkan Awan Panas Guguran Sejauh 1,1 Km ke Hulu Kali Gendol


Di dalam diskusi bertema "Merawat Ketangguhan Warga Merapi", Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida menjelaskan lamanya status waspada.

"Kenapa lama? Karena lajunya magma menuju kepermukaan sangat pelan. Ekslusi juga lambat, kecepatannya juga sangat pelan," ujar Hanik Humaida dalam diskusi bertema "Merawat Ketangguhan Warga Merapi" Selasa (21/5/2019).

Baca juga: Merapi Keluarkan Awan Panas Guguran dengan Jarak Luncur 1.200 Meter

Hanik menyampaikan, waktu pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi sangat kecil. Dari data BPPTKG Yogyakarta, pertumbuhan kubah lava tercatat hanya 3.000 meter kubik per hari.

Umumnya, pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi sekitar 20.000 meter kubik. Bahkan, pada erupsi tahun 2006 dan tahun 2010 lalu bisa mencapai jutaan meter kubik.

"Kecepatan suplai magmanya yang membuat berbeda. 2006 itu lebih besar suplainya, petumbuhan kubah lava juga cepat, kalau yang sekarang lebih kalem," tegasnya.

Ke depan, lanjutnya, kegempaan di Gunung Merapi masih ada. Hal ini mengindikasikan masih adanya suplai magma meskipun masih kecil. Karenanya, ke depan belum akan ada perubahan yang signifikan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Selain itu, Hanik menuturkan, volume kubah lava di Gunung Merapi saat ini tercatat hanya 457.000 meter kubik.

Skenario terburuk, kalaupun akan terlontarkan semuanya, maka jarak luncurnya hanya mencapai 3,2 kilometer.

Namun demikian kemungkinan kecil semua kubah lava terlontar. Sebab melihat sejarahnya, tidak pernah kubah lava Gunung Merapi akan gugur semuanya menjadi awan panas.

"Ke depan, tidak perlu ada yang dikhawatirkan, kalau datanya begini-begini saja artinya bahwa Merapi masih akan terjadi erupsi dengan sifat lelehan lava pijarnya itu tadi," urainya. 

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X