Pedagang Korban Kebakaran Pasar Kosambi Bingung Modal untuk Jualan

Kompas.com - 21/05/2019, 18:24 WIB
Sejumlah pedagang tengah mengisi data kerugian yang diderita dalam kebakaran Pasar Kosambi, Selasa (21/5/2019). KOMPAS.com/RENI SUSANTI Sejumlah pedagang tengah mengisi data kerugian yang diderita dalam kebakaran Pasar Kosambi, Selasa (21/5/2019).

BANDUNG, KOMPAS.com – Rosimah (48) menyunggingkan senyum. Ia menyapa beberapa orang pedagang di pelataran Pasar Kosambi Bandung yang terbakar pada Sabtu (18/5/2019).

Rosimah kemudian mengobrol dengan pedagang yang tengah memungut sisa-sisa  barang kiosnya yang masih bisa diselamatkan, seperti mesin penggiling bumbu.

“Saya jualan nasi di tengah sana. Ga ada yang sisa,” ujar Rosimah sambil menunjuk ke arah kiosnya berdiri, Selasa (21/5/2019).

Baca juga: Fakta di Balik Kebakaran Pasar Kosambi Bandung, 10 Jam Terbakar hingga 178 Lapak Hangus

Rosimah menjelaskan, kiosnya berada di atas tempat sumber api. Akibatnya, piring, gelas, maupun etalase pecah tak bersisa.

Saat kebakaran, Rosimah berada di rumah kontrakannya yang berada di belakang pasar. Karena itu, ia bisa mendengar dengan jelas saat orang-orang berteriak, kebakaran... kebakaran.

Ketika mendengar teriak kebakaran, Rosimah lari ke pasar dan melihat api dan asap yang mengepul. Ia langsung lunglai dan air matanya menetes.

Saat itu ia tidak tahu apakah kiosnya ikut terbakar atau tidak, karena tidak ada yang boleh masuk kecuali petugas pemadam kebakaran.

Keesokan harinya, ia pergi ke pasar dan mendapatkan informasi kalau kiosnya ikut terbakar. Ia langsun bingun dan perasaannya tidak tenang.

“Kalau diam di rumah, ga bisa aja. Bawaannya ga tenang. Makanya saya lebih sering di depan pasar,” ucapnya.

Baca juga: Asap Tebal dan Ruangan Panas Sulitkan Petugas Jangkau Titik Api di Basement Pasar Kosambi

Ibu dari empat anak ini mengaku modal usahanya tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp 25 juta. Namun, uang itu merupakan hasil pinjaman yang harus segera ia kembalikan.

“Buat orang seperti saya, modal Rp 5 juta atau Rp 25 juta itu besar sekali. Kalau ga jualan dua hari saja, saya bisa sulit untuk makan,” ucapnya.

Walaupun ia sudah menemukan pasar sementara, ia akan kebingungan mencari modal dan berharap pemerintah bisa membantu mencarikan solusi.

“Saya puyeng, ini (masalah) kaya double gitu. Sebentar lagi mau lebaran, anak juga masuk SMP dan SMK. Di saat bersamaan, tempat saya mencari nafkah (Pasar Kosambi) kebakaran,” tuturnya.

Pedagang lainnya, Iah mengatakan hal serupa. Ia kebingungan karena makanan khas Bandung, peuyeum yang ia jual hangus terbakar.

“Bingung teh, saya ga tahu gimana besok dan besoknya lagi. Mana anak saya masuk SMP tahun ini. Sebentar lagi lebaran, anak bisa nanya baju lebaran,” ucapnya.

Baca juga: Pemkot Bandung Bakal Cari Lokasi untuk Relokasi Pedagang Pasar Kosambi

Ia hanya berharap bisa segera berjualan kembali, walaupun di pasar penampungan sementara. Jika tidak berjualan, maka dia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun ia mengaku bingung mencari modal untuk berjualan kembali.

Dari pantauan Kompas.com, para pedagang memungut barang miliknya yang selamat dari kebakaran. Sisa-sisa barang dagangan tersebut dipindahkan ke mobil pick up untuk dipindahkan ke lokasi lebih aman.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X