Terbukti Langgar Pidana Pemilu, Ketua DPW PKS Sultra Ditahan

Kompas.com - 20/05/2019, 19:44 WIB
Dua caleg PKS terpilih baju putih didampingi 2 petugas kejaksaan negeri Kendari diserahkan ke Lapas Klas IIA Kendari, selanjutnya akan menjalani masa hukuman 2 bulan penjara.KOMPAS.com/KIKI ANDI PATI Dua caleg PKS terpilih baju putih didampingi 2 petugas kejaksaan negeri Kendari diserahkan ke Lapas Klas IIA Kendari, selanjutnya akan menjalani masa hukuman 2 bulan penjara.

KENDARI, KOMPAS. com - Dua Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari Partai Keadilan Sejahtera ( PKS) Sulkhani dan Riski Fajar akhirnya dieksekusi oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendari di Lembaga Pemasyarakatan ( Lapas) Kelas II A Kendari, Senin (20/5/2019).

Sulkhani merupakan ketua DPW PKS Sulawesi Tenggara (Sultra), dan Riski Fajar merupakan Sekretaris DPD II Kota Kendari.

Mereka Dieksekusi setelah putusan dari Pengadilan Tinggi (PT) Sultra yang mengabulkan banding Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap kedua caleg PKS itu. Keduanya divonis 2 bulan penjara dan denda Rp 5 juta.


Baca juga: Ketua Panwascam yang Disuap Caleg PKS Mengundurkan Diri

Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Sultra yang dipimpin oleh Purwadi SH membatalkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Kendari pada 30 April 2019 nomor 176/Pid.Sus/2019/PN.Kdi yang menyatakan dua caleg PKS terpilih itu bebas.

Hakim PT Sultra kemudian mengadili Sulkhani dan Riki dan divonis dua bulan penjara dan denda Rp 5 Juta.

Kepala Seksi (Kasi) Pidana Umum (Pidum) Kejari Kendari, Nanang Ibrahim menjelaskan, keduanya didampingi pengacaranya langsung datang setelah dilayangkan surat panggilan pertama yang diserahkan, Jumat (17/5/2019) lalu.

"Saat datang mereka menunggu sambil administrasinya selesai. Kemudian keduanya langsung membayar denda masing-masing Rp. 5 juta, sehingga tidak perlu menjalani subsider yang satu bulannya. Maka Sulkhani dan Riki Fajar hanya menjalani dua bulan penjara di Lapas," ungkap Nanang Ibrahim di Kejari Kendari, Senin petang.

Baca juga: Kasus Dugaan Suap Caleg PKS di Sungai Raya Ditangani Polresta Pontianak

Lanjut Nanang, terdakwa 1 Sulkhani dan Terdakwa 2 Riki Fajar terbukti bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama karena mengikutsertakan Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagaimana dakwaan JPU pasal 493 juncto pasal 280 ayat 2 huruf f undang-undang nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu juncto pasal 55 ayat 1 KUHP.

Lalu, dua politisi PKS itu diputuskan menjalani pidana penjara selama dua bulan dan denda masing-masing Rp 5 juta subsider kurungan penjara selama satu bulan.

Barang bukti yang ditetapkan sebagai bagian dari putusan adalah 9 lembar stiker milik Riki Fajar dan 37 lembar stiker Sulkhani.

Humas Pengadilan Tinggi Sultra, I Gede Suarsana mengatakan, putusan banding itu dikeluarkan Rabu (15/5/2019). Majelis Hakim yang dipimpin Purwadi SH membatalkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Kendari 30 April 2019 nomor 176/Pid.Sus/2019/PN.Kdi.

"Pertimbangan majelis pastinya bahwa terpenuhinya unsur-unsur pelanggaran pidana pemilu seperti yang diatur dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 2017. Tapi secara rinci pertimbangan majelis belum bisa saya jelaskan,” tegasnya.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Sultan Bubohu Bongo Gorontalo Yosep Tahir Maruf Mangkat

Sultan Bubohu Bongo Gorontalo Yosep Tahir Maruf Mangkat

Regional
Fakta di Balik Ni Luh Djelantik Laporkan Lisa Marlina, Sebut Pelecehan Seks di Bali Biasa hingga Minta Maaf

Fakta di Balik Ni Luh Djelantik Laporkan Lisa Marlina, Sebut Pelecehan Seks di Bali Biasa hingga Minta Maaf

Regional
Rabu Pagi, Gunung Merapi Keluarkan Awan Panas Guguran

Rabu Pagi, Gunung Merapi Keluarkan Awan Panas Guguran

Regional
25 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot, Mak Aroh Dapat Hibah Lahan dari Babinsa

25 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot, Mak Aroh Dapat Hibah Lahan dari Babinsa

Regional
Tipu 30 Orang, Dua Anggota BIN Gadungan Ditangkap

Tipu 30 Orang, Dua Anggota BIN Gadungan Ditangkap

Regional
Pekerja Migran asal Karimun Dibunuh di Malaysia, Bupati Koordinasi dengan KBRI

Pekerja Migran asal Karimun Dibunuh di Malaysia, Bupati Koordinasi dengan KBRI

Regional
Kontak Senjata, TNI Sebut Ada Kelompok Separatis Terluka di Nduga

Kontak Senjata, TNI Sebut Ada Kelompok Separatis Terluka di Nduga

Regional
Fakta KPK Geledah Rumah Gubernur Kepri Nonaktif, Bongkar Paksa Pintu hingga Diduga Terima Gratifikasi Senilai Rp 6,1 Miliar

Fakta KPK Geledah Rumah Gubernur Kepri Nonaktif, Bongkar Paksa Pintu hingga Diduga Terima Gratifikasi Senilai Rp 6,1 Miliar

Regional
Pekerjakan WN Filipina, 8 Kapal Ikan Indonesia Ditangkap KKP

Pekerjakan WN Filipina, 8 Kapal Ikan Indonesia Ditangkap KKP

Regional
Penyebab Kebakaran Rumah yang Tewaskan 4 Bocah Masih Simpang Siur

Penyebab Kebakaran Rumah yang Tewaskan 4 Bocah Masih Simpang Siur

Regional
6 Fakta Proyek 'Underpass' Kentungan Yogyakarta Ambles, WNA Australia Jadi Korban hingga Proyek Dihentikan Sementara

6 Fakta Proyek "Underpass" Kentungan Yogyakarta Ambles, WNA Australia Jadi Korban hingga Proyek Dihentikan Sementara

Regional
Duduk Perkara Dokter Gigi Romi Gagal Jadi PNS karena Penyandang Disabilitas

Duduk Perkara Dokter Gigi Romi Gagal Jadi PNS karena Penyandang Disabilitas

Regional
Duduk Perkara Cerita Viral Perempuan Pendaki Gunung Rinjani Disetubuhi Saat Hipotermia...

Duduk Perkara Cerita Viral Perempuan Pendaki Gunung Rinjani Disetubuhi Saat Hipotermia...

Regional
Geger Bayi Meninggal karena Ditolak Rumah Sakit, Ini Penjelasannya

Geger Bayi Meninggal karena Ditolak Rumah Sakit, Ini Penjelasannya

Regional
[POPULER NUSANTARA] 'Underpass' Kentungan Yogyakarta Ambles | PAN Bantah Amien Rais Pernah Nazar Jalan Kaki Yogya-Jakarta

[POPULER NUSANTARA] "Underpass" Kentungan Yogyakarta Ambles | PAN Bantah Amien Rais Pernah Nazar Jalan Kaki Yogya-Jakarta

Regional
Close Ads X