KILAS DAERAH

Gubernur Banten: Tak Ada Tepuk Tangan untuk Lawan Korupsi...

Kompas.com - 17/05/2019, 15:11 WIB
Gubernur Banten Wahidin Halim saat berbincang dengan Kompas.com di rumah dinas gubernur, Kamis (15/5/2019). KOMPAS.COM/M LATIEFGubernur Banten Wahidin Halim saat berbincang dengan Kompas.com di rumah dinas gubernur, Kamis (15/5/2019).
Penulis Latief
|

Tak heran, pada 2017 atau di tahun pertamanya menjabat, Wahidin sudah memecat 17 orang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Itu dia lakukan berdasarkan rekomendasi KPK.

"Kami potong rantai peluang untuk korupsi. Saya lebih utamakan program yang langsung menyasar ke masyarakat. Pameran-pameran saya kurangi di sini, itu cuma ngabisin duit. Lha, pameran kok isinya pedagang kaki lima. Itu sudah saya sudah audit. Ada Rp 120 miliar uang habis untuk sewa hotel rapat ini dan itu. Itu semua terlihat dari dinas-dinas sebelum saya masuk Banten. Lucu dong, MTQ saja kok dilaksanakan di hotel," kata Wahidin.

Lucunya, di awal menegakkan prioritas untuk membenahi birokrasi itu, Wahidin seperti orang yang bekerja sendiri. Dia mengaku tak mendapat tepuk tangan ketika berbicara lawan korupsi.

"Tiap kali bicara ayo lawan korupsi, semua orang diam, tidak ada yang tepuk tangan. Tapi saya terus lakukan itu, saya tak peduli. Saya tahu, saya kerja sendiri dalam hal ini, dan itu saya jadi komitmen untuk tidak menyerah," ujarnya.

Posisi ketiga

Tahun ini, dua tahun Wahidin menjadi Gubernur Banten, ada perubahan yang terlihat dari upayanya melakukan reformasi birokrasi. Banyak orang yang mulai "tertekan" dengan kerasnya gaya Wahidin memimpin.

"Pajak daerah naik. Banyak yang mulai terganggu dengan kerasnya upaya kami melakukan perubahan. Mereka gerah dan saya yakin politik manipulatif yang kuat di Banten ini mulai terganggu," ucap Wahidin.

Sejak menerapkan layanan terintegrasi satu pintu secara daring, lanjut Wahidin, Banten menuai untung dari investasi.

Layanan yang merupakan perwujudan dari Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi secara Elektronik ini membuat investor dapat dengan mudah mengurus hampir semua proses perizinan secara online single submission (OSS) di seluruh Indonesia, termasuk di Provinsi Banten.

Dengan dukungan kuat pemerintahannya, nilai investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal dalam Negeri (PMDN) di Banten meningkat signifikan selama 3 tahun terakhir.

Pada awal 2018 lalu Banten langsung melesat di posisi ketiga sebagai tujuan investasi asing, setelah Jakarta dan Jawa Barat, dengan nilai Rp21,97 triliun untuk 1.518 proyek. Sedangkan buat investasi dalam negeri, Banten menempati posisi ketujuh dengan nilai investasi sebesar Rp8 triliun untuk 537 proyek.

Bicara ekonomi, lanjut Wahidin, dia merasa ada perubahan bisa dilihat dari Banten. Pada triwulan IV 2018 lalu ekonomi provinsi ini tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional dan kawasan Jawa.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Main TikTok di Suramadu, Didenda Rp 500.000...

Main TikTok di Suramadu, Didenda Rp 500.000...

Regional
Viral, Video Penganiayaan Ojol di Pekanbaru, Ini Respons Polisi

Viral, Video Penganiayaan Ojol di Pekanbaru, Ini Respons Polisi

Regional
Tradisi Pacaran Orang Rimba, 2.000 Hari Mengabdi di Calon Mertua, Pegang Tangan Pacar Kena Denda

Tradisi Pacaran Orang Rimba, 2.000 Hari Mengabdi di Calon Mertua, Pegang Tangan Pacar Kena Denda

Regional
Viral, Video Pria di Lombok Nikahi Kekasihnya dengan Maskawin Sandal Jepit dan Segelas Air

Viral, Video Pria di Lombok Nikahi Kekasihnya dengan Maskawin Sandal Jepit dan Segelas Air

Regional
Perjalanan Pengusaha Warteg Kalahkan Covid-19, Naik Travel dari Depok, Sembuh Diiringi Tabuhan Rebana

Perjalanan Pengusaha Warteg Kalahkan Covid-19, Naik Travel dari Depok, Sembuh Diiringi Tabuhan Rebana

Regional
Cerita Syarif, Tersesat di Hutan Papua, Makan Buah Biji Anggrek untuk Bertahan

Cerita Syarif, Tersesat di Hutan Papua, Makan Buah Biji Anggrek untuk Bertahan

Regional
Belajar Toleransi dari Suku Wajor, Pantang Bertengkar Hanya karena Berbeda

Belajar Toleransi dari Suku Wajor, Pantang Bertengkar Hanya karena Berbeda

Regional
Tak Ingin Bebankan Suami, Model Ini Minta Mas Kawin Sandal Jepit dan Segelas Air

Tak Ingin Bebankan Suami, Model Ini Minta Mas Kawin Sandal Jepit dan Segelas Air

Regional
Seorang Kakek Ditangkap karena Jual Ganja, Polisi: Berdiri Saja Tersangka Ini Sudah Tidak Kuat

Seorang Kakek Ditangkap karena Jual Ganja, Polisi: Berdiri Saja Tersangka Ini Sudah Tidak Kuat

Regional
'Ada Ibu-ibu Bikin TikTok di Suramadu, Akhirnya Kami Spontan Langsung Meniru'

"Ada Ibu-ibu Bikin TikTok di Suramadu, Akhirnya Kami Spontan Langsung Meniru"

Regional
Melacak Sederet Nama di Dinding Rumah Tersangka Pencabulan 19 Bocah di Sukabumi...

Melacak Sederet Nama di Dinding Rumah Tersangka Pencabulan 19 Bocah di Sukabumi...

Regional
Sudah Janjian, 2 Pasien Covid-19 Kabur Hampir Bersamaan dari Lokasi yang Berbeda

Sudah Janjian, 2 Pasien Covid-19 Kabur Hampir Bersamaan dari Lokasi yang Berbeda

Regional
[POPULER NUSANTARA] Sengketa TNI dan Pemkot Magelang | Ada Apa dengan Suroto?

[POPULER NUSANTARA] Sengketa TNI dan Pemkot Magelang | Ada Apa dengan Suroto?

Regional
Sebelum Tiduran 10 Tahun hingga Rambutnya Gimbal dan Jadi Bantal, Begini Sosok Suroto...

Sebelum Tiduran 10 Tahun hingga Rambutnya Gimbal dan Jadi Bantal, Begini Sosok Suroto...

Regional
'Sebelumnya Ada Video TikTok di Suramadu, Kok Kelihatan Bagus, Akhirnya Kami Ikut-ikutan'

"Sebelumnya Ada Video TikTok di Suramadu, Kok Kelihatan Bagus, Akhirnya Kami Ikut-ikutan"

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X