Bacakan Pleidoi, Bupati Non-aktif Bekasi Minta Keringanan Hukuman

Kompas.com - 15/05/2019, 16:04 WIB
Bupati Non-aktif Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan anak buahnya di Pemda Bekasi tengah duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Tinggi Tipikor Bandung. KOMPAS.com/AGIEPERMADIBupati Non-aktif Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan anak buahnya di Pemda Bekasi tengah duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Tinggi Tipikor Bandung.

BANDUNG, KOMPAS.com - Terdakwa Bupati Bekasi non-aktif Neneng Hasanah Yasin membacakan pembelaannya atau pleidoi pada sidang Suap Perizinan Pembangunan Meikarta di Pengadilan Tinggi Tipikor Bandung, Kota Bandung, Rabu (15/5/2019).

Dalam pleidoi yang dibacakan itu, Neneng meminta maaf dan mengaku bersalah dengan perbuatannya karena telah menerima uang suap terkait perizinan pembangunan Meikarta.

"Saya juga mengakui perbuatan yang seharusnya tidak saya lakukan sebagai kepala daerah yang telah ikut menerima uang terkait perizinan pembangunan Meikarta," kata Neneng saat membacakan pembelaanya.

Baca juga: Kasus Suap Meikarta, Bupati Non-aktif Bekasi Dituntut 7,6 Tahun Penjara

Neneng mengaku telah membuka sejujurnya keterangan pada saat proses penyidikan maupun penuntutan atas segala yang dia terima.

Hal itu, katanya, dia lakukan karena Neneng percaya pada tim penyidik maupun tim penuntut umum untuk bekerjasama mengungkap kasus ini agar berjalan lancar dan tidak sulit diselesaikan

"Saya mengakui perbuatan tersebut serta membuka perkara sejujur-jujurnya untuk membantu mempermudah jalanya proses pemeriksaan pada tingkat penyidikan maupun persidangan," tuturnya.

"Semuanya saya lakukan agar punya kesempatan mendapatkan hukuman seringan-ringanya atas perbuatan yang telah saya lakukan," harapnya.

Baca juga: 15 Anggota DPRD Bekasi Jadi Saksi Sidang Kasus Suap Meikarta

Untuk itu, Neneng meminta Hakim mempertimbangkan apa yang telah dilakukannya selama proses penyidikan hingga persidangan, dengan meringankan hukumannya.

"Saya memohon kepada majelis hakim yang saya muliakan, berkenan memberikan hukuman yang seringan-ringannya dan kepada tim penuntut umum agar tidak memberikan tuntutan yang lebih jauh lagi pada saya agar saya segera kembali berkumpul bersama keluarga dan mengurus anak-anak saya yang masih kecil," ucapnya.

Menurutnya, hukuman ini dirasa cukup berat baginya maupun keluarganya yang kini jauh terpisah. Apalagi, lanjut Neneng, ketiga anaknya ini sedang berada di masa golden age mereka.

"Tentu ini membuat jera bagi saya untuk tidak mengulangi serta memperbaiki perbuatan yang telah saya lakukan," ucap Neneng.

Baca juga: Sidang Kasus Suap Meikarta, Ada Permintaan Rp 1 M dari DPRD Bekasi untuk Bahas Raperda RDTR

Pihaknya juga meminta maaf kepada keluarganya, pemerintah daerah Kabupaten Bekasi dan masyarakat Indonesia atas perbuatannya.

Seperti diketahui, Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Bupati non-aktif Bekasi Neneng Hassanah Yasin dengan Pidana Penjara 7 tahun 6 bulan dan denda Rp 250 juta subsider 4 bulan kurungan.

Neneng dinilai Jaksa bersalah dalam perkara suap proyek perizinan pembangunan Meikarta.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

15 Jam Mengapung di Lautan Pakai Jeriken, 2 ABK Diselamatkan Tim SAR, Ini Ceritanya

15 Jam Mengapung di Lautan Pakai Jeriken, 2 ABK Diselamatkan Tim SAR, Ini Ceritanya

Regional
Pemuda di Yogyakarta Sulap Saluran Irigasi Jadi Tempat Budi Daya Ikan

Pemuda di Yogyakarta Sulap Saluran Irigasi Jadi Tempat Budi Daya Ikan

Regional
Kisah Perawat Terpapar Covid-19, Isolasi 4 Bulan dan Fitnes Saat Bosan, Sembuh Setelah 11 Kali Test Swab

Kisah Perawat Terpapar Covid-19, Isolasi 4 Bulan dan Fitnes Saat Bosan, Sembuh Setelah 11 Kali Test Swab

Regional
Ayah Cabuli Anak Tiri, Diduga Paksa Korban Menikah Tutupi Aib dan Ancam Ceraikan Istri

Ayah Cabuli Anak Tiri, Diduga Paksa Korban Menikah Tutupi Aib dan Ancam Ceraikan Istri

Regional
Cerita MTs Lubuk Kilangan, Sekolah Gratis yang Luluskan 100 Persen Siswa di SMA Negeri

Cerita MTs Lubuk Kilangan, Sekolah Gratis yang Luluskan 100 Persen Siswa di SMA Negeri

Regional
Puluhan Pengungsi Rohingya Dipindahkan ke BLK Lhokseumawe

Puluhan Pengungsi Rohingya Dipindahkan ke BLK Lhokseumawe

Regional
Fakta 37 Pasangan ABG Terjaring Razia di Hotel, Berawal dari Laporan Masyarakat, Diduga Hendak Pesta Seks

Fakta 37 Pasangan ABG Terjaring Razia di Hotel, Berawal dari Laporan Masyarakat, Diduga Hendak Pesta Seks

Regional
Jenazah Positif Corona Dimakamkan Tanpa Protokol Covid-19, 209 Orang Tes Swab Massal

Jenazah Positif Corona Dimakamkan Tanpa Protokol Covid-19, 209 Orang Tes Swab Massal

Regional
Terombang-ambing 15 Jam, 2 ABK KM Ismail Jaya Ditemukan Selamat

Terombang-ambing 15 Jam, 2 ABK KM Ismail Jaya Ditemukan Selamat

Regional
Cabuli Anak Tiri Selama 2 Tahun, Ayah di Pinrang Nikahkan Korban dengan Penyandang Disabilitas, Ini Motifnya

Cabuli Anak Tiri Selama 2 Tahun, Ayah di Pinrang Nikahkan Korban dengan Penyandang Disabilitas, Ini Motifnya

Regional
Terbawa Arus Sungai Usai Mendaki Gunung Tambusisi, Anggota Mapala Untad Meninggal

Terbawa Arus Sungai Usai Mendaki Gunung Tambusisi, Anggota Mapala Untad Meninggal

Regional
Gadis di Bawah Umur Dicabuli Ayah Tiri 2 Tahun, Lalu Dinikahkan, Diduga untuk Tutupi Aib

Gadis di Bawah Umur Dicabuli Ayah Tiri 2 Tahun, Lalu Dinikahkan, Diduga untuk Tutupi Aib

Regional
Pelaku Pembunuhan Perempuan Muda di Palembang Sempat Cabuli Mayat Korban

Pelaku Pembunuhan Perempuan Muda di Palembang Sempat Cabuli Mayat Korban

Regional
Dinilai Rugikan Pemprov Babel, Erzaldi Rosman Minta UU Minerba Dikaji Lagi

Dinilai Rugikan Pemprov Babel, Erzaldi Rosman Minta UU Minerba Dikaji Lagi

Regional
Kisah Dr Andani, Pahlawan Sumbar Melawan Covid-19: Jihad Melawan Wabah, Swab dan Tracing Cepat Jadi Kuncinya (2)

Kisah Dr Andani, Pahlawan Sumbar Melawan Covid-19: Jihad Melawan Wabah, Swab dan Tracing Cepat Jadi Kuncinya (2)

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X