Jokowi Kalah 1,5 Juta Suara, TKD: Banten Bukan Basis NU

Kompas.com - 13/05/2019, 19:41 WIB
Warga memegang kertas suara yang telah dicoblos saat pemungutan suara ulang (PSU) Pemilu 2019 di TPS 024, Ciloang, Serang, Banten, Minggu (21/4/2019). Menurut keterangan Komisioner KPU Banten, Eka Satyalaksmana pihaknya melangsungkan PSU di 10 TPS di Banten akibat terjadi penyimpangan antara lain adanya pemilih yang mencoblos dari luar daerah tanpa membawa formulir A5 dan melakukan pemungutan suara sebelum waktu yang ditentukan. ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki/af/hp.ANTARA FOTO/WELI AYU REJEKI Warga memegang kertas suara yang telah dicoblos saat pemungutan suara ulang (PSU) Pemilu 2019 di TPS 024, Ciloang, Serang, Banten, Minggu (21/4/2019). Menurut keterangan Komisioner KPU Banten, Eka Satyalaksmana pihaknya melangsungkan PSU di 10 TPS di Banten akibat terjadi penyimpangan antara lain adanya pemilih yang mencoblos dari luar daerah tanpa membawa formulir A5 dan melakukan pemungutan suara sebelum waktu yang ditentukan. ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki/af/hp.

SERANG, KOMPAS.com - Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin kalah dari pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno dengan selisih lebih dari 1,5 juta suara di Provinsi Banten.

Hasil tersebut berdasarkan rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara pemilu serentak 2019 tingkat Provinsi Banten yang sudah selesai, Senin (13/5/2019).

Berdasarkan data yang diperoleh saat rapat pleno di Gedung KPU Provinsi Banten, Kota Serang, pasangan Prabowo-Sandi memperoleh 4.059.514 suara atau 61,54%. Sementara, Jokowi-Ma’ruf mendapat 2.537.524 suara atau 38,46% dari total 6.597.038 suara sah.

Baca juga: KPU Banten Rampungkan Rekapitulasi 5 Daerah, Tangerang Selatan Belakangan


Menanggapi hal ini, Ketua Tim Kemenangan Daerah (TKD) Banten, Asep Rakhmatullah mengatakan angka ini jauh dari target yang ditetapkan di Banten yakni sekitar 60-70 persen.

"Partai pengusung Koalisi Indonesia Kerja dan relawan sudah berkerja maksimal delapan bulan. Persoalan tidak capai target itu merupakan bagian dari proses demokrasi," kata Asep saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Senin (13/5/2019).

Ketua DPD PDIP Banten ini mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan kekalahan Jokowi - Ma'ruf salah satunya adalah besarnya berita hoaks yang masih diterima dengan mudah oleh masyarakat.

"Pengaruh dari berita hoaks, hate speech dan lain-lain itu mungkin masih tertanam di kalangan masyarakat," kata Asep.

Baca juga: Exciting Banten, Warga Baduy “Turun Gunung” Kirim Hasil Bumi untuk Bupati

Menurutnya, wilayah Banten Selatan, yang meliputi Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Kota Serang masih punya kedekatan kultur dengan wilayah Jawa Barat.

Maka tidak heran jika wilayah tersebut menjadi penyumbang terbesar kekalahan suara Jokowi-Ma'ruf.

Selain itu, menurut Asep, sosok Ma'ruf Amin yang menjadi pendamping Jokowi belum berhasil mendongkrak raihan suara.

"Karena Banten bukan basis NU," kata dia.

Baca juga: BPN Banten Mengaku Gelar Real Count di Tiga Tempat Ini

Kendati tidak mencapai target, tapi menurut Asep, hasil pilpres 2019 di Banten tidak mengecewakan, di tengah gempuran isu hoaks dan hate speech yang ditujukan pada Jokowi - Ma'ruf.

"Ini hasil kerja maksimal. Kita sudah sampaikan program kerja seperti apa. Setidaknya kita tidak hancur lebur walaupun tidak mencapai target," kata dia.

Dari delapan kabupaten/kota di Provinsi Banten, Jokowi - Ma'ruf hanya menang di Kota Tangerang saja dan selebihnya dikuasai oleh pasangan Prabowo - Sandiaga.


Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Jadi Korban Kekerasan Kelompok SMB, Kades Minta Polisi Tangkap Pelaku

Jadi Korban Kekerasan Kelompok SMB, Kades Minta Polisi Tangkap Pelaku

Regional
Risma Alokasikan APBD Sebanyak 32 Persen untuk Pendidikan, Ini Alasannya

Risma Alokasikan APBD Sebanyak 32 Persen untuk Pendidikan, Ini Alasannya

Regional
Walhi Sebut Kalsel Tak layak Jadi Ibu Kota Baru, Ini Alasannya

Walhi Sebut Kalsel Tak layak Jadi Ibu Kota Baru, Ini Alasannya

Regional
Tertangkap Curi Sapi, Seorang Pria Babak Belur Dihajar Warga

Tertangkap Curi Sapi, Seorang Pria Babak Belur Dihajar Warga

Regional
Istri Korban Mutilasi Gelisah Pelaku Lain Belum Ditangkap

Istri Korban Mutilasi Gelisah Pelaku Lain Belum Ditangkap

Regional
Ini Alasan Ayah Aniaya Anaknya yang Derita Gizi Buruk hingga Patah Tulang

Ini Alasan Ayah Aniaya Anaknya yang Derita Gizi Buruk hingga Patah Tulang

Regional
DKPP Jatuhkan Sanksi kepada Ketua dan Anggota KPU Cianjur

DKPP Jatuhkan Sanksi kepada Ketua dan Anggota KPU Cianjur

Regional
Jerat Kawat Sling Masih Melekat di Kaki Depan, Harimau Palas Akan Dioperasi

Jerat Kawat Sling Masih Melekat di Kaki Depan, Harimau Palas Akan Dioperasi

Regional
Aturan Tes Narkoba Sebelum Menikah, Ini Kata Para Calon Pengantin hingga Alasan Kemenag Jatim

Aturan Tes Narkoba Sebelum Menikah, Ini Kata Para Calon Pengantin hingga Alasan Kemenag Jatim

Regional
Pesawat Garuda Bermasalah, Ribuan Calon Jemaah Haji di Asrama Sudiang Makassar Terlantar

Pesawat Garuda Bermasalah, Ribuan Calon Jemaah Haji di Asrama Sudiang Makassar Terlantar

Regional
4 Kota Ini Segera Punya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

4 Kota Ini Segera Punya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Regional
Berikut 7 Poin Fatwa MPU Aceh tentang Hukum Permainan PUBG

Berikut 7 Poin Fatwa MPU Aceh tentang Hukum Permainan PUBG

Regional
Risma Belum Tentukan Bentuk Pengelolaan Aset YKP Bernilai Rp 10 Triliun

Risma Belum Tentukan Bentuk Pengelolaan Aset YKP Bernilai Rp 10 Triliun

Regional
Puluhan Polisi Gendut Digembleng Program Diet di SPN Mojokerto

Puluhan Polisi Gendut Digembleng Program Diet di SPN Mojokerto

Regional
Viral Bangunan Sekolah Miris di Minahasa Selatan, Ini Penjelasan Wabup

Viral Bangunan Sekolah Miris di Minahasa Selatan, Ini Penjelasan Wabup

Regional
Close Ads X