Tak Ditahan KPK, Alasan Wali Kota Tasikmalaya Tak Mundur dari Jabatannya

Kompas.com - 12/05/2019, 20:19 WIB
Pengacara Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman, tersangka KPK, Bambang Lesmana, saat diwawancara wartawan, Minggu (12/5/2019). KOMPAS.com/IRWAN NUGRAHAPengacara Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman, tersangka KPK, Bambang Lesmana, saat diwawancara wartawan, Minggu (12/5/2019).


TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman tak akan mundur dari jabatannya dengan alasan tak ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meski telah ditetapkan tersangka.

Budi akan bekerja seperti biasanya sebagai kepala daerah sampai nantinya akan mundur apabila dirinya ditahan oleh KPK.

"Pak Budi masih aktif sebagai wali kota, karena tak ditahan oleh KPK meski sudah tersangka. Saya yang menyarankan supaya pak wali tetap bekerja. Nanti, kalau sudah ditahan, baru nanti Pak Budi akan mundur dari jabatannya," kata Ketua Tim Kuasa Hukum Budi Budiman, Bambang Lesmana, kepada wartawan, Minggu (12/5/2019).

Baca juga: Setelah Diperiksa KPK sebagai Tersangka, Wali Kota Tasikmalaya Tidak Ditahan

Bambang mengatakan, kliennya tak ditahan saat pemeriksaan pertama oleh KPK setelah berstatus tersangka, Kamis (9/5/2019) kemarin.

Budi bersama dirinya mengajukan penangguhan penahanan karena alasan ingin menjalani ibadah puasa dulu bareng keluarganya.

Saat jeda waktu tak ditahan inilah, lanjut Bambang, Budi tetap aktif sebagai wali kota Tasikmalaya, dan melayani masyarakat.

Alasan lain, Budi sampai sekarang masih mendapatkan gaji dan fasilitas Negara sebagai kepala daerah.

"Justru kalau diam saja dan tak bekerja sebagai wali kota, nanti Pak Budi akan terjerat aturan otonomi daerah karena tak menjalankan tugasnya," tambah dia.

Namun, Bambang mengaku akan tetap kooperatif jika nantinya akan ada pemanggilan kembali kliennya sebagai tersangka oleh KPK. Pihaknya mengaku siap kapanpun akan diperiksa.

Diberitakan sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperbolehkan pulang Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, meski sudah ditetapkan sebagai tersangka suap.

Sebelumnya, Budi diperiksa kali pertama pasca-ditetapkan KPK hampir selama enam jam di gedung Merah Putih, Jakarta, Kamis (9/5/2019).

Baca juga: Diperiksa sebagai Tersangka, Wali Kota Tasikmalaya Dicecar 20 Pertanyaan di KPK

Budi disangka terlibat dalam kasus suap terkait dana alokasi khusus (DAK) Kota Tasikmalaya Tahun Anggaran 2018.

Budi disangka memberikan uang Rp 400 juta kepada Yaya Purnomo selaku pegawai di Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan.

Budi disangka melanggar Pasal 5 Ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 Ayat 1 KUHP.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sandiaga Uno Ingin Batam Jadi Gerbang Pariwisata dengan Protokol Kesehatan yang Ketat

Sandiaga Uno Ingin Batam Jadi Gerbang Pariwisata dengan Protokol Kesehatan yang Ketat

Regional
Gara-gara Ucapan “Tumben kok Ganteng Kali”, Nyawa Susiato Melayang

Gara-gara Ucapan “Tumben kok Ganteng Kali”, Nyawa Susiato Melayang

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 23 Januari 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 23 Januari 2021

Regional
Bocah 14 Tahun Dianiaya Ayah gara-gara Pinjam Motor untuk Jemput Ibu, Ini Ceritanya

Bocah 14 Tahun Dianiaya Ayah gara-gara Pinjam Motor untuk Jemput Ibu, Ini Ceritanya

Regional
Wakil Bupati Manggarai Timur Positif Covid-19

Wakil Bupati Manggarai Timur Positif Covid-19

Regional
'Niatnya Keras Menjadi TNI, Itu Cita-citanya sejak Kecil, Dia Selalu Gigih Latihan'

"Niatnya Keras Menjadi TNI, Itu Cita-citanya sejak Kecil, Dia Selalu Gigih Latihan"

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 23 Januari 2021

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 23 Januari 2021

Regional
Terima Kabar Putranya Gugur di Papua, Ayah Pratu Dedi Hamdani: Perasaan Saya Tidak Keruan...

Terima Kabar Putranya Gugur di Papua, Ayah Pratu Dedi Hamdani: Perasaan Saya Tidak Keruan...

Regional
Aturan Siswi Non-Muslim di SMKN Padang Wajib Berhijab Tuai Protes, Ini Duduk Perkaranya

Aturan Siswi Non-Muslim di SMKN Padang Wajib Berhijab Tuai Protes, Ini Duduk Perkaranya

Regional
Kontroversi Aturan Jilbab untuk Siswi Non-Muslim SMKN 2 Padang, Berujung Laporan ke Mendikbud hingga Menuai Kritik DPR

Kontroversi Aturan Jilbab untuk Siswi Non-Muslim SMKN 2 Padang, Berujung Laporan ke Mendikbud hingga Menuai Kritik DPR

Regional
Anggota DPR: Aturan Wajib Jilbab di Sekolah Negeri Harus Dicabut

Anggota DPR: Aturan Wajib Jilbab di Sekolah Negeri Harus Dicabut

Regional
Derita Korban Banjir Manado, Hanya Punya Baju di Badan, Patungan Beli Sarapan

Derita Korban Banjir Manado, Hanya Punya Baju di Badan, Patungan Beli Sarapan

Regional
Angka Kematian Kasus Covid-19 di Jatim Tembus 7.266, Ini Tanggapan Wagub Emil Dardak

Angka Kematian Kasus Covid-19 di Jatim Tembus 7.266, Ini Tanggapan Wagub Emil Dardak

Regional
Tinggal di Kontrakan, 2 WNA Asal China Diamankan Petugas Imigrasi, Mengaku Bisnis Kayu di Jambi

Tinggal di Kontrakan, 2 WNA Asal China Diamankan Petugas Imigrasi, Mengaku Bisnis Kayu di Jambi

Regional
Sekda Ungkap Penyebab Kegaduhan ASN Pemkab Jember, Berawal dari Pesan WhatsApp Bupati

Sekda Ungkap Penyebab Kegaduhan ASN Pemkab Jember, Berawal dari Pesan WhatsApp Bupati

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X