Ngabuburit di Lorong Blothong, Menyusuri Sisa Kejayaan Pabrik Gula

Kompas.com - 09/05/2019, 05:00 WIB
Pengunjung menyusuri Lorong Blothong di Desa/Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (8/5/2019) Kompas.com/Fadlan MukhtarPengunjung menyusuri Lorong Blothong di Desa/Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (8/5/2019)


BANYUMAS, KOMPAS. com - Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk menunggu waktu berbuka puasa. Salah satu alternatif yang kerap dilakukan adalah ngabuburit di obyek wisata.

Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tepatnya di Desa/Kecamatan Kalibagor, terdapat obyek wisata alternatif yang bisa dijadikan pilihan.

Lorong Blothong, demikian warga setempat menyebut tempat wisata yang baru dibuka Senin (6/5/2019) lalu ini.


Baca juga: Ngabuburit Sambil Balapan Liar di Tol Cisumdawu Dibubarkan, Puluhan Pemuda Tunggang Langgang

Tempat wisata tersebut berupa terowongan yang terdapat aliran air setinggi mata kaki dengan panjang 80 meter, tinggi 1,5 meter, dan lebar 2 meter.

Terowongan tersebut menjadi saksi sisa kejayaan Pabrik Gula Kalibagor pada zaman dahulu.

Ketika memasuki lorong, pengunjung masih dapat merasakan aroma menyengat perpaduan belerang dan kapur. Bahan tersebut digunakan untuk memutihkan gula tebu produksi pabrik.

Ketua Paguyuban Wisata Jengkonang Sumadi mengatakan, dahulu terowongan yang berada di area belakang pabrik gula tersebut digunakan sebagai saluran pembuangan limbah pabrik atau biasa disebut blothong.

Sumadi mengatakan, terowongan dibuat bersamaan dengan pembangunan pabrik tahun 1839 dan berhenti beroperasi sekitar tahun 1990-an.

Pada saat masa penjajahan Jepang, terowongan digunakan sebagai tempat persembunyian.

"Ini berawal dari inisiatif warga untuk memanfaatkan tempat yang masuk cagar budaya ini sebagai tempat wisata untuk menghasilkan nilai ekonomis. Sejak dibuka awal puasa ini banyak warga yang ke sini buat ngabuburit," kata Sumadi, Rabu (8/5/2019).

Baca juga: Cerita Emil Dardak Mendadak Berhenti untuk Ngabuburit di Alun-alun

Sumadi mengatakan pembukaan tempat wisata itu dilakukan warga secara bergotong royong.

Sebelumnya, terowongan yang berada di atas lahan dan permukiman warga tersebut tertutup pepohonan, bahkan sebagian di antaranya tertimbun sampah.

Salah satu penggagas wisata Lorong Blothong Bambang Kuswanto mengatakan, pembersihan terowongan yang telah tertutup membutuhkan waktu sekitar satu bulan.

"Sebelumnya tertutup, ada pekarangan, sampah, ada banyak hewan linsangnya juga, kondisinya kumuh. Setelah bersih supaya lebih menarik dicat, dikasih lampu penerangan dan lampu hias warna-warni," ujar Bambang.

Pengunjung yang akan memasuki terowongan cukup membayar retribusi Rp 3.000.

Selepas menyusuri terowongan pengunjung disuguhi berbagai macam makanan tradisional sebagai hidangan berbuka puasa yang dijajakan di kompleks wisata.

Hanumpi Ananda, salah satu wisatawan lokal mengaku sangat terkesan dengan terowongan tersebut. Ia mendapat informasi tempat wisata tersebut dari media sosial.

"Awalnya kan gelap, kaya serem gitu, tapi setelah dilewati seru banget. Ada suara gemercik air, batu-batuan bangunannya juga unik, lampunya bagus warna-warni. Sambil nunggu buka puasa, kita sekeluarga jalan-jalan ke sini," kata Hanum.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X