Soal Tanah Bergerak di Sukabumi, BPBD Tunggu Kajian dan Rekomendasi Badan Geologi

Kompas.com - 07/05/2019, 18:12 WIB
Retakan tanah yang terus membesar dan membelah persawahan akibat bencana tanah bergerak di Kamoung Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (4/5/2019). KOMPAS.com/BUDIYANTORetakan tanah yang terus membesar dan membelah persawahan akibat bencana tanah bergerak di Kamoung Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (4/5/2019).


SUKABUMI, KOMPAS.com - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG)-Badan Geologi Bandung hingga saat ini masih mengkaji hasil pemantauan ke lokasi bencana tanah bergerak di Kampung Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat.

Sebelumnya, satu tim PVMBG sudah diterjunkan ke lokasi bencana yang mengakibatkan kerusakan pada puluhan rumah, 200 meter jalan provinsi dan hektaran sawah pada Minggu (28/4/2019) lalu.

Hasil peninjauan lapangan, tim PVMBG membawa sejumlah sampel tanah dan bebatuan.

"Sedang disiapkan. Mudah-mudahan segera selesai," kata Kepala PVMBG-Badan Geologi Bandung Kasbani saat dikonfirmasi Kompas.com lewat pesan WhatsApp, Selasa (7/5/2019).

Baca juga: Badan Geologi Bawa Sampel Tanah dan Batuan dari Lokasi Tanah Bergerak di Nyalindung

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi Aaep Suherman mengatakan, untuk penanganan bencana di Nyalindung pihaknya masih menunggu hasil kajian dan rekomendasi PVMBG-Badan Geologi Bandung.

"Saya belum berani resmi menyatakan karena belum ditandatangani oleh kepala pusat. Tetapi kalau lihat draft-nya bahwa pergerakan tanah di Desa Kertaangsana ini sudah sangat mengkhawatirkan," kata Asep kepada Kompas.com selesai penyerahan penanganan dari BPBD ke Panitia Lokal di Kantor Desa Kertaangsana, Minggu (5/5/2019).

Bahkan, dia mengatakan, lokasi yang terkena bencana pergerakan tanah tersebut mungkin sudah tidak layak kembali menjadi permukiman. Sehingga, boleh disebut sebagai zona merah.

Namun, dia melanjutkan, luasan untuk kategori yang disebut sebagai zona merah atau zona kuning atau zona hijau masih menunggu hasil kajian.

Tetapi, yang di lokasi sekarang, hampir setiap hari pergerakan tanahnya berubah sangat cepat.

"Sehingga kemungkinan besar relokasi harus dilakukan, namun akan kami pikirkan setelah masa transisi pemulihan selesai selama 45 hari," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X