Serunya Perdebatan Bahar bin Smith dengan Saksi Ahli di Persidangan...

Kompas.com - 02/05/2019, 23:38 WIB
Tiga saksi ahli dihadirkan dalam sidang Bahar bin Smith, Kamis (2/5/2019). KOMPAS.com/AGIEPERMADITiga saksi ahli dihadirkan dalam sidang Bahar bin Smith, Kamis (2/5/2019).

BANDUNG, KOMPAS.com - Sidang kasus lanjutan dugaan penganiayaan terhadap dua remaja dengan terdakwa Bahar bin Smith kembali digelar di gedung Perpustakaan dan Arsip Kota Bandung, Kamis (2/5/2019)

Sidang kali ini dihadiri saksi ahli pidana dari Universitas Islam Bandung (Unisba) Prof Nandang Sambas.

Dalam sidang tersebut Bahar bin Smith diberikan kesempatan oleh Hakim untuk bertanya kepada saksi ahli terkait hukum Islam yang dianutnya.

Berikut pertanyaan Bahar bin Smith dan jawaban saksi ahli, yang berujung pada perdebatan.

Baca juga: 5 Fakta Sidang Bahar Bin Smith, Disuruh Berduel hingga Mengaku Fans dari Terdakwa

Awalnya Bahar bertanya kepada saksi ahli Nandang perihal pernikahan suami istri yang menjadi perumpamaan di awal pertanyaanyaan.

Bahar: Suami istri menikah secara KUA sah, tetapi cerainya menurut agama. Setelah bercerai, si perempuan itu selesai masa iddah kemudian menikah dengan laki-laki lain tetapi secara siri bukan secara KUA. Berarti dalam status negara suaminya yang dulu itu kan masih suaminya, dia melaporkan bahwa istrinya ini melakukan perzinahan, itu termasuk hukum pidana tidak? kata Bahar.

Nandang: Zinah itu berzinah. Pidana (hukumnya).

Bahar: Sedangkan di dalam Islam, ini bukan perzinahan. Sebab mereka telah resmi menikah menurut agama. Ini yang saya tanyakan, perumpamaan.pertanyaan saya seorang anak di dalam Islam tidak bisa disebut anak. Tapi dalam hukum negara disebut anak. Bagaimana menurut Anda?

Nandang: Ya betul saya punya menulis buku satu tentang model peradilan anak. Di sana ada kualifikasi batasan usia. Di indonesia sendiri belum ada batas standar dewasa. Adat agama dan hukum saja berbeda-beda. Apalagi sebelum adanya undang-undang 35 (perlindungan anak). Beda-beda. Bahkan ada yang menyebut (batas) 15 tahun untuk korban perempuan. Karena kita hukum positif yang jadi rujukan, mau nggak mau kita ke hukum positif.

Baca juga: Usai Disiksa, 2 Korban Dipaksa Saling Berkelahi oleh Bahar Bin Smith

Dalam tanya jawab ini hakim Edison Muhammad menyela, bahwa pertanyaan yang diajukan Bahar sudah dijawab Nandang.

Edison: Ini kan sudah dijawab, hukum positif itu maksudnya hukum berlaku. Jika dipertentangkan maka hukum positif yang dipakai.  

Nandang: Ya karena kita menganut legalistik.

Edison: Ya gitu. Hukum positifnya yang saudara pakai yang mana? Yang tercatat di KUA kah atau yang tidak?

Bahar: Berarti kalau begitu hukum yang di sini lebih tinggi dari hukum Islam?

Nandang sempat akan menjawab pertanyaan Bahar, bahwa hal tersebut masih pertentangan.  Namun Hakim Edison Muhammad memotongnya.

Baca juga: Sidang Pemeriksaan Saksi Korban Kasus Dugaan Penganiyaan Bahar bin Smith Berlangsung Tertutup

Edison: Gini saksi jangan panjang, jawab saja karena ini di luar keahlian saudara. Saya tahu, dari awal saudara juga bilang kalau bukan keahlian sodara jangan dijawab. Ini pertentangan antara hukum Islam dan nasional. Ngerti enggak? Saudara ahli?.

Nandang: Bukan ahli.

Edison: Ya sudah. Enggak usah dijelaskan nanti menjerumsukan. Itu jawaban saudara tadi yang bisa saya tangkap ya saya jelaskan. Jika ada pertentangan ini saksi bilang maka hukum positif yang digunakan. Nanti kalau dipertentangkan, ajukan lagi saksi ahli. Ahli perbandingan hukum dan lain sebagainya. Saya tahu sodara (ahli) bisa menjawabnya, tapi bukan keahlian saudara.

Bahar: Saudara prof mohon maaf apabila seorang ayah anaknya umur 10 tahun tidak shalat dipukul oleh ayahnya apakah masuk tindak pidana?

Nandang: Tidak karena itu pendidikan dalam batas-batas tertentu. Jangan kan ada hubungan darah biologis, saya sebagai dosen membentak mahasiswa atau memukul mahasiswa dalam kewenangan kapasitas saya dalam batas-batas kewajaran.

Bahar kemudian kembali bertanya, namun kali ini bahara membacakan sebuah hadis Imam Malik dalam kitab Az Zohiroh.

Baca juga: 5 Fakta Sidang Bahar bin Smith, Eksepsi Ditolak hingga Polisi Usut Pernyataan Tentang Jokowi

Bahar: Artinya, kalau ada orang yang mengaku sebagai cucu nabi, barang siapa yang mengaku-ngaku sebagai habib ibarat kata, maka menurut Imam Malik berarti kata beliau harus dipukul, bukan pukulan biasa tapi pukulan keras, itu menurut Imam Malik. Bukan hanya dipukul, diumumkan bahwasannya dia ini habib palsu agar menjadi pelajaran bagi orang-orang supaya ke depan tidak mengaku-ngaku. Lalu dipenjara lama sehingga dia bertaubat ke Allah. 

Bahar lantas menanyakan perihal hadis itu kepada saksi ahli bagaimana tanggapannya jika dilihat dari sisi hukum positif yang berlaku di Indonesia.

Bahar: Apabila ada seseorang melakukan sebagaimana dikatakan Imam Malik dalam islam, apakah itu termasuk pidana atau tidak?

Pertanyaan itu kemudian dijawab saksi ahli Nandang bahwa hal tersebut (mengaku habib) merupakan pelanggaran lantaran memalsukan identitas.

Baca juga: Korban Kasus Bahar Bin Smith Dihadirkan di Sidang, Jaksa Koordinasi Pengamanan dengan Polisi

Nandang: Dalam KUHP kita, itu pemalsuan identitas, diancam pidana. Tapi tindakan reaksi orang yang merasa dirugikan itu yang mungkin masih perlu diperdebatkan.

Nandang sempat ingin menjelaskan relevansi pengaruh hukum pidana Islam, namun belum juga menjelaskan hakim langsung memotong.

Edison: Saudara saksi, jawaban saudara saksi sudah jelas tadi. Bahwa itu sesuai hukum pidana. Sesuai hukum positif kita bahwa pemalsuan atau memalsu identitas. Jawaban saudara tegas sudah diatur dalam hukum positif.

Nandang pun kemudian mengakui bahwa kapasitas untuk menjelaskan perihal hukum pidana Islam terbatas.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X