Mengapa Pekerja Milenial Cepat "Resign" dari Perusahaan?

Kompas.com - 02/05/2019, 20:12 WIB
Founder and Managing Director Headhunter Indonesia, Haryo Utomo Suryosumarto saat memberikan pemaparan soal alasan banyaknya milenial cepat resign dari perusahaan di Hotel Sheraton, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/5/2019).KOMPAS.com/GHINAN SALMAN Founder and Managing Director Headhunter Indonesia, Haryo Utomo Suryosumarto saat memberikan pemaparan soal alasan banyaknya milenial cepat resign dari perusahaan di Hotel Sheraton, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/5/2019).

SURABAYA, KOMPAS.com - Dunia pekerjaan sedang mengalami masa transisi di mana lebih dari 50-70 persen karyawan penggerak perusahaan adalah Generasi Milenial, atau mereka yang lahir pada rentang 1981-1996.

Perbedaan usia, perspektif dan cara pandang antara Gen X sebagai angkatan kerja pendahulu dan Generasi Milenial menjadi tantangan yang membuat perusahaan seringkali kesulitan merekrut dan mempertahankan karyawan Milenial.

Salah satu kesulitan yang dihadapi kebanyakan perusahaan adalah menjamin loyalitas karyawan milenial terhadap perusahaan.

Berdasarkan Deloitte Millennial Survey 2018, 43 persen Milenial berencana untuk berhenti dari tempat kerja mereka dalam kurun waktu dua tahun, dan hanya 28 persen yang berencana menetap dengan perusahaannya saat ini sampai lebih dari lima tahun.

Baca juga: Tak Suka Umbar Janji, Caleg Milenial Ini Memilih Tularkan Ilmu Kewirausahaan di Warkop-warkop

Founder and Managing Director Headhunter Indonesia, Haryo Utomo Suryosumarto menilai, perusahaan saat ini harus bisa memahami karakter generasi milenial demi masa depan perusahaan.

Hasil survei Headhunter Indonesia terhadap 217 Generasi Milenial di Pulau Jawa, menyebutkan sejumlah faktor utama yang menyebabkan Milenial tidak bertahan lama dan akhirnya membuat angka pergantian karyawan perusahaan menjadi tinggi.

"Milenial merasa kurang mendapat pelatihan dan pengembangan diri. Mereka berasumsi cara untuk mengembangkan potensi diri adalah dengan berpindah tempat kerja yang dirasa lebih baik," ucap Haryo saat jumpa pers di Hotel Sheraton, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/5/2019).

Di samping itu, generasi milenial juga merasa kurang mendapat kepercayaan dari para manajer senior dan tidak merasakan nilai dan visi misi perusahaan saat menjalani pekerjaannya.

Baca juga: Gunakan Kampanye Bentuk Hologram, TKN Anggap Bisa Menarik Perhatian Milenial

"Satu hal lagi yang penting adalah Milenial merasa sulit berkomunikasi dengan atasannya yang berasal dari Gen X," ujarnya.

Oleh karenanya, Haryo menekankan untuk membangun komunikasi terbuka dengan semua pihak yang ada dalam suatu perusahaan tersebut. Dengan demikian, generasi milenial akan merasa betah bekerja ke perusahaan.

"Ini sebenarnya merupakan modal yang belum banyak diketahui oleh perusahaan bahwa komunikasi bagi milenial itu sebenarnya memegang peranan penting untuk membuat milenial itu bertahan di suatu perusahaan."

Tidak hanya itu, generasi milenial juga harus ikut merasakan bahwa mereka berperan penting dalam kesuksesan perusahaan di mana dia bekerja.

Baca juga: Kampanye ala Caleg Milenial, dari Bikin Pelatihan hingga Buat Program Magang

Karyawan Milenial, lanjut Haryo, perlu merasa terlibat sebagai bagian penting dari perusahaan, dan ingin melihat hasil kerja mereka berdampak riil bagi kemajuan perusahaan.

Karena itu, manajemen perusahaan harus mengomunikasikan dengan baik bagaimana perusahaan terbantu oleh pekerjaan yang dikerjakan oleh para Milenial setiap harinya.

"Kuncinya adalah bagaimana membangun komunikasi, sehingga kedua pihak betul-betul saling memahami. Bukan berdasar asumsi, tapi pengertian antar pribadi," imbuhnya.



Terkini Lainnya


Close Ads X