7 Fakta Bencana Alam di Bengkulu, 4 Penyebab Banjir hingga Perusahaan Tambang Bantah Jadi Biang Keladi Bencana

Kompas.com - 02/05/2019, 14:55 WIB
Sejumlah rumah roboh tersapu banjir di Kabupaten Bengkulu Tengah (foto: BPBD Bengkulu) KOMPAS.com/FIRMANSYAHSejumlah rumah roboh tersapu banjir di Kabupaten Bengkulu Tengah (foto: BPBD Bengkulu)

"Secara perizinan iya kami pemilik legal. Namun kawasan pertambangan kami ditambang oleh orang lain tanpa seizin kami. Kasusnya sekarang sedang ditangani Polda Bengkulu," jelas Eka.

Ia memastikan jika pihak lain yang melakukan eksploitasi di kawasan pertambangan PT BMQ statusnya ilegal.

Baca Juga: Disebut Biang Keladi Banjir dan Longsor Bengkulu, ini Tanggapan Perusahaan Tambang

2. PT BMQ tuding aktivitas pertambangan ilegal merusak kawasan hulu

Eka mengatakan, aktifitas pertambangan yang dilakukan oleh oknum penambang ilegal, merusak dan tidak sesuai dengan pertambangan yang taat aturan.

"Mereka menambang rakus. Merusak bentangan alam. Lokasi yang tidak boleh ditambang mereka bongkar-bongkar. Itu tidak seizin manajemen kami dan sudah dilaporkan ke Mabes Polri juga Polda Bengkulu," beber dia.

Seperti diketahui, 30 orang meninggal dunia dan 13 orang lainnya dikabarkan hilang akibat bencana banjir dan longsor di Bengkulu.

Selain itu 12.000 warga mengungsi karena kediaman mereka tak bisa lagi dihuni setelah diterjang banjir.

Baca Juga: 11 Gedung Sekolah Rusak Parah Pasca Banjir dan Longsor di Bengkulu

3. Penyebab banjir dan longsor menurut Gubernur Bengkulu

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah menggelar jumpa pers soal penanganan bencana banjir dan longsor di wilayahnya, Minggu (28/4/2019). KOMPAS.com/FIRMANSYAH Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah menggelar jumpa pers soal penanganan bencana banjir dan longsor di wilayahnya, Minggu (28/4/2019).

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengungkapkan 4 hal penyebab banjir dan longsor yang menerjang wilayahnya dan menyebabkan 29 korban meninggal dunia.

"Pertama, persoalan di daerah hulu sungai. Kedua, daerah aliran sungai (DAS). Ketiga, daerah hilir sungai. Keempat, daerah resapan air (DRA)," kata Rohidin, pada acara pembukaan Rakor Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Provinsi Bengkulu 2019, di Hotel Santika Bengkulu, Selasa (30/4/2019).

Rohidin mengatakan, persoalan di hulu sungai karena adanya aktivitas pertambangan, penggundulan hutan, dan ada hak guna usaha (HGU). Intinya menyebabkan kerusakan hutan.

Selain di hulu, masalah juga terjadi di sisi DAS-nya. Menurut Rohidin, DAS-nya sudah pengalami penyempitan hampir semua badan sungai. Terutama di kawasan Kota Bengkulu.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X