Kata Mahasiswa Unhas soal Quick Count dan Real Count: Jangan Rusuh hingga Tunggu KPU

Kompas.com - 29/04/2019, 08:06 WIB
Ilustrasi ThinkstockIlustrasi

"Polemik quick count dan real count biasa terjadi dalam demokrasi sebab setiap paslon mengklaim ke menenangkan jadi menurut saya biasa saja dan tunggu saja hasil dari KPU secara keseluruhan," ungkapnya.

 

2. Real count KPU harus transparan

Mahasiswi Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Unhas, Andini Riaswaty, memiliki pendapat berbeda dengan hasil quick count. Menurut dia, quick count masih belum bisa dipercaya sepenuhnya.

Untuk itu, agar masyarakat percaya dengan hasil penrhitungan, KPU harus melakukan transparansi.

"Makanya harusnya setiap petinggi dan KPU harus bersih dan tidak timpang sebelah dan penting untuk bersifat transparansi agar masyarakat tidak merasa tertipu yang ujungnya akan menciptakan pro dan kontra," katanya.

Baca juga: Kata Mahasiswa Unsoed soal Polemik Quick Count Vs Real Count pada Pemilu 2019

 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, Azwar Munafri, mahasiswa angkatan 2017 Jurusan Teknik Sipil Unhas, mengatakan hasil quick count memang memiliki peran yang cukup besar untuk memicu perdebatan di kalangan masyarakat Indonesia.

"Quick count memiliki peran yang cukup besar untuk membuat banyak perdebatan yang ada di Indonesia," ucapnya.

 

3.KPU yang menentukan

Di balik rasa pesimistis melihat hasil quick count yang dilakukan beberapa lembaga, beberapa mahasiswa Unhas yang diwawancara Kompas.com menegaskan bahwa hasil penghitungan yang dilakukan oleh KPU.

Muhammad Hasan, mahasiswa Fakultas Peternakan angkatan 2015 di Universitas Hasanuddin, mengatakan, hasil quick count tidak perlu ditanggapi serius dan heboh.

"Quick count ada bagusnya, ada juga tidaknya, karena membantu juga, tetapi bikin rusuh karena banyak yang tidak terima dengan hasilnya. Harusnya ditanggapi biasa saja. Kita tunggu hasil dari KPU," ungkapnya.

Baca juga: Kata Mahasiswa Universitas Brawijaya Soal Quick Count dan Saling Klaim Kemenangan

 

Hal yang sama juga diungkapkan Resvita, mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Unhas. Dia menilai bahwa hasil penghitungan quick count masih terdapat banyak kekeliruan.

Seperti yang disaksikannya di beberapa media, jumlah suara dalam setiap TPS seringkali bertambah dengan sendirinya sehingga harus dilakukan kembali penghitungan suara ulang.

Dia menilai, paslon capres dan cawapres seharusnya tenang dan menunggu hasil rekapitulasi resmi KPU.

"Kalau memang mau valid, ya tunggu real count," ucapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bupati Jekek Optimis Pembangunan 14.142 unit RTLH Wonogiri Selesai Pada 2024

Bupati Jekek Optimis Pembangunan 14.142 unit RTLH Wonogiri Selesai Pada 2024

Regional
 Dorong Perputaran Ekonomi, Kang Emil Targetkan Seluruh Desa Miliki BUMDes pada 2023

Dorong Perputaran Ekonomi, Kang Emil Targetkan Seluruh Desa Miliki BUMDes pada 2023

Regional
Luncurkan Kredit Tanpa Agunan untuk Ibu-ibu Pedagang, Ganjar: Bunga Hanya 2 Persen Per Tahun

Luncurkan Kredit Tanpa Agunan untuk Ibu-ibu Pedagang, Ganjar: Bunga Hanya 2 Persen Per Tahun

Regional
Dikunjungi Gus Halim, Ketua Adat Tidung Minta Salimbatu Dijadikan Desa Religi

Dikunjungi Gus Halim, Ketua Adat Tidung Minta Salimbatu Dijadikan Desa Religi

Regional
Cegah Jual Beli Jabatan, Bupati Wonogiri Optimalkan Penerapan Sistem Meritokrasi

Cegah Jual Beli Jabatan, Bupati Wonogiri Optimalkan Penerapan Sistem Meritokrasi

Regional
Walkot Bobby Ajak HMI Sumut Berkolaborasi Dukung Program Pembangunan

Walkot Bobby Ajak HMI Sumut Berkolaborasi Dukung Program Pembangunan

Regional
Panen Raya, Pimpinan DPRD Kota Bogor Turun ke Sawah Bersama Petani

Panen Raya, Pimpinan DPRD Kota Bogor Turun ke Sawah Bersama Petani

Regional
Wonogiri Juara Satu IDSD, Bupati Jekek: Berkat Semangat Reformasi Pemangku Kepentingan

Wonogiri Juara Satu IDSD, Bupati Jekek: Berkat Semangat Reformasi Pemangku Kepentingan

Regional
Tunjukkan Kinerja Baik Bangun Kota Semarang, Walkot Hendi Dapat Penghargaan Pembangunan Daerah 2021

Tunjukkan Kinerja Baik Bangun Kota Semarang, Walkot Hendi Dapat Penghargaan Pembangunan Daerah 2021

Regional
Jabar Kerja Sama dengan Provinsi Chungcheongnam, Korsel, Kang Emil: Semoga Dongkrak Potensi Ekonomi

Jabar Kerja Sama dengan Provinsi Chungcheongnam, Korsel, Kang Emil: Semoga Dongkrak Potensi Ekonomi

Regional
Bupati Banjar Akui PAD Berkurang akibat UU Minerba

Bupati Banjar Akui PAD Berkurang akibat UU Minerba

Regional
Bobby Buka Balai Kota Medan untuk Warga, Dosen UINSU Berikan Apresiasi

Bobby Buka Balai Kota Medan untuk Warga, Dosen UINSU Berikan Apresiasi

Regional
Memahami Gaya Komunikasi 'Parkir Mobil' ala Gibran

Memahami Gaya Komunikasi "Parkir Mobil" ala Gibran

Regional
Tunjukkan Prestasi dalam Penanganan Pandemi, Kang Emil Raih 2 Penghargaan People of the Year 2021

Tunjukkan Prestasi dalam Penanganan Pandemi, Kang Emil Raih 2 Penghargaan People of the Year 2021

Regional
Berkat Ganjar, Gaji Guru Honorer yang Dahulu Rp 200.000 Kini Rp 2,3 Juta

Berkat Ganjar, Gaji Guru Honorer yang Dahulu Rp 200.000 Kini Rp 2,3 Juta

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.