Ibu Bunuh Diri Bersama Bayinya Pasca-melahirkan, Apa Pelajaran untuk Kita?

Kompas.com - 28/04/2019, 10:47 WIB
Sepasang kaki bayi di dalam selimut (ilustrasi)BBC Sepasang kaki bayi di dalam selimut (ilustrasi)

PURWOKERTO, KOMPAS.com - SP (32), ibu yang melompat bersama anaknya, YP, yang baru berusia empat bulan, dari jembatan Sungai Serayu, perbatasan Kecamatan Maos dan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (27/4/2019), diduga mengalami depresi post-partum atau pasca-persalinan.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Dr Ugung Dwi Ario Wibowo MSi menjelaskan, depresi bisa terjadi karena kerentanan mental, situasi tertekan dalam jangka waktu lama atau bisa juga karena faktor hormonal.

Baca juga: Ibu Gendong Anak yang Lompat dari Jembatan Sungai Serayu Ditemukan Tewas

"Depresi post-partum levelnya di atas baby blues. Baby blues bisa terselesaikan dalam waktu satu atau dua minggu. Setelah dua minggu, kalau tidak terselesaikan, bisa jadi depresi post-partum," katanya saat dihubungi, Minggu (28/4/2019).

Salah satu indikasi depresi post-partum, lanjut Ugung, penderitanya akan menutup diri, murung, berhalusinasi, muncul perasaan ingin menyakiti dirinya sendiri atau anaknya hingga muncul keinginan untuk bunuh diri.

"Kalau itu tidak segera diperiksakan akan menjadi psikosis post-partum, itu sudah positif gangguan jiwa berat," ujar Ugung.

Menurut dia, untuk kasus SP, korban diduga mengalami depresi post-partum. Pada fase tersebut, penderita semestinya mendapat pendampingan dari psikolog atau psikiater dan mengkonsumsi obat antidepresan.

"Tapi biasanya terlambat atau karena ketidakmampuan finansial, itu tidak dilakukan," kata Ugung.

Baca juga: Untuk Masa Depan Bangsa, Saya Ikhlaskan Janin Bayi Saya...

Lantas bagaimana menolong seorang ibu bisa depresi pascamelahirkan?

Menurut Ugung, ibu pasca-melahirkan membutuhkan pendampingan dari orang-orang di sekitarnya. Apabila seseorang mengalami baby blues, lanjut dia, sebenarnya dapat diselesaikan bersama dengan orang-orang di sekitarnya.

Ugung menganalogikan fenomena baby blues dengan seseorang yang mengalami putus cinta.

"Misal (korban) bullying, akan menutup diri tapi kemudian bisa move on, putus cinta mengurung diri, tapi ketika fase move on akan kembali. Baby blues juga demikian. Tapi masalahnya, kalau tidak bisa keluar, akan jadi masalah (misal) ingin menyakiti diri sendiri atau orang lain," ujar Ugung.

Kontak bantuan

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Berikut daftar layanan konseling yang bisa Anda kontak maupun untuk mendapatkan informasi seputar pencegahan bunuh diri:

Gerakan "Into The Light"

Facebook: IntoTheLightID
Twitter: @IntoTheLightID
Email: intothelight.email@gmail.com
Web: intothelightid.wordpress.com

Save yourself

Facebook: Save Yourselves
Instagram: @saveyourselves.id
Line: @vol7047h
Web: saveyourselves.org

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X