Kisah Suhendro, Dokter yang Koleksi Surat Suara mulai Pemilu Tahun 1957 (1)

Kompas.com - 24/04/2019, 11:56 WIB
Suhendro Sastrowiwoho (72) menunjukkan salah satu koleksi surat suara pemilu‎ saat ditemui di kediamannya di jalan Tanjung, Desa Kramat, Kota Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/4/2019) sore. KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTOSuhendro Sastrowiwoho (72) menunjukkan salah satu koleksi surat suara pemilu‎ saat ditemui di kediamannya di jalan Tanjung, Desa Kramat, Kota Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/4/2019) sore.



KUDUS, KOMPAS.com - Pemilihan umum di Indonesia merupakan tonggak demokratisasi pascareformasi. Sejarah mencatat, pemilu yang digelar pertama kali di Indonesia yaitu pada 1955 di masa pemerintahan Presiden RI Soekarno.

Pemilu perdana ini direalisasikan untuk memilih anggota DPR dan Konstituante. Sebanyak 260 kursi diperebutkan untuk DPR dan 520 untuk Konstituante. Selain itu, ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat oleh pemerintah.

Tradisi politik yang dihelat untuk memilih wakil rakyat itu terus berlangsung dari masa ke masa hingga akhirnya pada 2004, untuk pertama kalinya masyarakat Indonesia dapat memilih langsung presiden dan wakil presiden.

Baca juga: Kisah Caleg Difabel dari Makassar, Habiskan Rp 10 Juta hingga Tak Miliki Saksi di TPS

 

Sebelum 2004, pemilu di Indonesia hanya untuk memilih calon anggota legislatif di DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.

Sejarah pemilu di Indonesia itu terdokumentasikan dengan cukup baik oleh seorang dokter di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah bernama Suhendro Sastrowiwoho. 

Dokter jebolan Universitas Diponegoro, Semarang, kelahiran 26 Oktober 1946 itu memiliki hobi yang terbilang nyentrik di tengah kesibukannya.

Suhendro yang kini berusia 72 tahun itu mengoleksi surat suara pemilu yang ia buru sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Meski nampak sepele, namun di lain sisi, setidaknya surat suara menjadi begitu berharga sebagai bukti otentik eksistensi pemilu di Indonesia.

Baca juga: Kisah Tim Sukses Caleg Gagal yang Depresi Ditagih Perolehan Suara

Bapak satu anak itu menyampaikan, sejak kecil ia memang sudah menyukai hobi mengumpulkan benda unik. Sebut saja perangko, uang kuno dan surat-surat lampau.

Naluri itu, kata dia, menurun dari mendiang ibunya yang lebih dulu gemar mengoleksi benda antik.

"Ibaratnya saya itu meneruskan hobi ibu saya," tutur Suhendro saat ditemui Kompas.com di kediamannya sekaligus tempat ia membuka praktik medis di jalan Tanjung, Desa Kramat, Kota Kudus, Jateng, Selasa (23/4/2019) sore.

Suhendro Sastrowiwoho (72) menunjukkan salah satu koleksi surat suara pemilu‎ saat ditemui di kediamannya di jalan Tanjung, Desa Kramat, Kota Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/4/2019) sore.KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO Suhendro Sastrowiwoho (72) menunjukkan salah satu koleksi surat suara pemilu‎ saat ditemui di kediamannya di jalan Tanjung, Desa Kramat, Kota Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/4/2019) sore.

Surat suara DPRD Swatantra tingkat I Provinsi Jabar

Dari ratusan koleksi benda bersejarah yang ia simpan rapi itu, hanya surat suara pemilu lah yang menurutnya paling istimewa. 

Sebab, tidak seperti koleksinya yang lain, cukup sulit mengumpulkan surat suara pemilu serta membutuhkan jeda waktu yang panjang untuk mendapatkannya.

Dalam mengumpulkan surat suara pemilu, Suhendro harus ekstra bersabar menunggu pergelaran pesta demokrasi itu secara giliran digelar.


Baca juga: Sebagian Surat Suara Terbakar, KPU Sumbar Putuskan Tidak Ada PSU di Pesisir Selatan

Dari keterangan Suhendro, pertama kali ia mulai mengumpulkan surat suara pemilu yakni saat berusia 12 tahun. Saat itu, Suhendro yang tengah memilah-milah buku di kios buku bekas di salah satu pasar di Tegal, Jateng justru terpikat setelah melihat surat suara berukuran besar yang dijadikan bungkus buku.

Surat suara pemilu terlama milik Suhendro itu tercatat dimunculkan pada 1957. Di kertas lawas itu tertulis ejaan lama yang menyatakan keterangan surat suara untuk pemilihan anggota DPRD Swatantra tingkat satu Provinsi Jawa Barat. "SURAT SUARA PEMILIHAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKJAT DAERAH SWATANTRA TINGKAT I PROPINSI DJAWA BARAT TAHUN 1957".

Di kertas yang masih nampak terawat keaslianya itu tertera gambar disertai tulisan 64 partai politik yang bertarung memperebutkan suara.

"Saya tanya ke penjualnya, bapak punya surat suara seperti ini lagi nggak ? Ia jawab punya dan saya minta selembar. Saat itu saya masih kecil, tertarik karena bentuknya yang unik, ada gambar-gambar seperti simbol. Nah sejak saat itu, saya selalu menunggu pemilu dan mulai berburu," terang Suhendro.

Surat suara braille dan 3 partai

Surat suara pemilu yang dikoleksi Suhendro ada yang unik lagi, yakni surat suara pemilu yang khusus diperuntukkan bagi pemilih disabilitas.

Di kertas tebal berwarna kuning itu tertuliskan surat suara pemilu tahun 1992 untuk pemilih penyandang tunanetra yang disertai huruf braille.

Dalam surat suara pemilu itu terpampang hanya tiga partai politik yang ikut bertarung suara yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). 

Baca juga: Sebarkan Hoaks Temuan Surat Suara di Tong Sampah, 4 Warga Batam Diperiksa Polda Kepri

Ada lagi surat suara pemilu DPRD tingkat I Jateng tahun 1982 dengan hanya diramaikan tiga partai politik yang sudah tak asing lagi bagi telinga masyarakat Indonesia hingga saat ini yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

"Biasanya dapat dari pemulung atau teman. Sudah susah mencarinya, harus lama menanti juga. Bayangkan sejak saya umur 12 tahun, hingga saat ini baru terkumpul delapan surat suara. Surat suara saya bungkus plastik dan amplop lalu saya masukan di dalam tas dan tersimpan di lemari," kata Suhendro.

Selain surat suara pemilu, Suhendro juga mengumpulkan benda lain yang juga berhubungan dengan pemilu, seperti stiker caleg dan sebagainya. Pernak-pernik pemilu yang terakhir dikumpulkan Suhendro yakni pada pemilu 2014 lalu.

Meski demikian, tak menutup kemungkinan, ia juga akan mengoleksi pernak-pernik pemilu 2019 dan seterusnya.

"Di tengah perjalanan saya mengumpulkan surat suara pemilu, di situ saya yakin jika upaya ini tidak sia-sia. Paling tidak saya bisa membuktikan bahwa melalui pemilu, demokrasi di indonesia terus berjalan dengan baik sejak lama," kata pria penggila band Koes Plus ini.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Regional
Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Regional
Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Regional
Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Regional
Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Regional
Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X