5 Fakta Tragedi Petugas KPPS di Pemilu 2019, Korban Meninggal 91 Orang hingga Demo Tagih Honor

Kompas.com - 23/04/2019, 13:06 WIB
Irsan, anggota KPPS di Kabupaten Magetan yang meninggal diduga mengalami kelelahan dalam melaksanakan kegiatan Pemilu 2019, dimakamkan hari ini. KOMPAS.com/DOK RIZALIrsan, anggota KPPS di Kabupaten Magetan yang meninggal diduga mengalami kelelahan dalam melaksanakan kegiatan Pemilu 2019, dimakamkan hari ini.

KOMPAS.com — Komisi Pemilihan Umum ( KPU) mencatat jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara ( KPPS) yang meninggal dunia 91 orang.

Data tersebut terangkum hingga Senin (22/4/2019) dari sejumlah daerah di 15 provinsi.

Sementara itu, ratusan petugas KPPS di Sleman menagih honor yang hingga saat ini belum dibayarkan.


Pihak kantor KPU Sleman pun berjanji akan membayarkan honor petugas KPPS selambat-lambatnya 23 April 2019 pukul 24.00 WIB.

Berikut ini fakta lengkapnya:

1. Ratusan petugas KPPS tagih honor

Forum Peduli KPPS Sleman, saat mengelar aksi di Kantor KPU Sleman, Senin (22/4/2019).KOMPAS.com / WIJAYA KUSUMA Forum Peduli KPPS Sleman, saat mengelar aksi di Kantor KPU Sleman, Senin (22/4/2019).

Ratusan petugas KPPS yang tergabung dalam Forum Peduli KPPS Sleman mendatangi kantor KPU Sleman pada Senin (22/4/2019).

Kedatangan ratusan petugas KPPS ini guna menagih hak mereka berupa honor yang belum diberikan oleh KPU Sleman.

"Petugas KPPS Sleman sampai sekarang belum diberi honor," kata Ketua Forum Peduli KPPS Sleman R Muh Yadidi saat ditemui di kantor KPU Sleman, Senin (22/04/2019).

Yadidi menuturkan, daerah lain di DIY sudah mendapatkan honor. Bahkan ada yang diberikan honor dua hari sebelum pelaksanaan pencoblosan.

Sementara itu, dari hasil mediasi, KPU Sleman akan memberikan honor KPPS selambat-lambatnya pada 23 April 2019 jam 24.00 WIB. Hasil mediasi ini dituangkan dalam surat pernyataan.

Baca juga: Ratusan Petugas KPPS Datangi Kantor KPU Sleman, Ini Penyebabnya

2. Jumlah petugas KPPS yang meninggal 91 orang

Jenazah anggota KPPS 13 Perum Hegarmanah, Cianjur, Jawa Barat, Entis Tisna Sasmita (62) saat akan dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Entis meninggal diduga kelelahan usai menjalankan tugas di TPS. KOMPAS.com/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN Jenazah anggota KPPS 13 Perum Hegarmanah, Cianjur, Jawa Barat, Entis Tisna Sasmita (62) saat akan dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Entis meninggal diduga kelelahan usai menjalankan tugas di TPS.

Berdasarkan keterangan dari KPU, 91 anggota KPPS meninggal dunia seusai bertugas. Jumlah ini berasal dari sejumlah daerah di 15 provinsi di Indonesia.

"Jadi 91 (petugas KPPS yang meninggal dunia)," kata komisioner KPU, Viryan Azis, di Kantor KPU, Menteng, Senin (22/4/2019) malam.

Anggota KPPS yang meninggal dunia paling banyak di Jawa Barat, yaitu 28 orang.

Terbanyak kedua setelah Jawa Barat adalah Jawa Tengah yaitu sebanyak 17 orang meninggal dunia dan di Jawa Timur sebanyak 14 orang.

Selain itu, 374 anggota KPPS dilaporkan sakit. Jumlah ini tersebar di sejumlah daerah di 15 provinsi.

Baca Juga: Data KPU: 91 Orang Petugas KPPS Meninggal Dunia

3. Dedi Mulyadi: Pemerintah harus segera gelar evaluasi

Ketua Tim Kampanye Daerah Pasangan Joko Widodo-Maruf Amin, Dedi Mulyadi saat ditemui di Bandung, Kamis (18/4/2019).KOMPAS.com/DENDI RAMDHANI Ketua Tim Kampanye Daerah Pasangan Joko Widodo-Maruf Amin, Dedi Mulyadi saat ditemui di Bandung, Kamis (18/4/2019).

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi mendesak pemerintah segera mengevaluasi penyelenggaraan pilpres dan pileg serentak.

Dedi mengatakan, usulan evaluasi tersebut berangkat dari sejumlah persoalan yang muncul di lapangan saat Pemilu 2019 digelar.

Persoalan paling mencolok, menurut dia, adalah banyaknya petugas KPPS yang meninggal pada 17 April.

“Banyaknya petugas KPPS yang meninggal membutuhkan penyikapan yang serius dari pemerintah. Setelah proses pemilu selesai, ini harus dievaluasi segera oleh pemerintah,” kata Dedi melalui sambungan telepon, Jumat (19/4/2019).

Baca Juga: Banyak KPPS Meninggal Kelelahan, Golkar Desak Pemilu Serentak Dievaluasi

4. KPU akan santuni keluarga petugas KPPS yang meninggal dunia

KERABAT Hadiat (65), petugas KPPS yang meninggal dunia saat menjaga TPS memerlihatkan foto dan kartu tanda petugas KPPS almarhum di rumah duka di warga Kp. Panumbangan RT 002 RW 001, Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (22/04/2019) KOMPAS.com/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN KERABAT Hadiat (65), petugas KPPS yang meninggal dunia saat menjaga TPS memerlihatkan foto dan kartu tanda petugas KPPS almarhum di rumah duka di warga Kp. Panumbangan RT 002 RW 001, Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (22/04/2019)

KPU berencana memberikan santunan kepada petugas KPPS yang meninggal dunia dan sakit karena kelelahan melakukan penghitungan suara di TPS.

"Ya bisa nanti orang sakit, meninggal, kami santunilah," kata komisioner KPU, Ilham Saputra, di kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (19/4/2019).

Ilham mengatakan, petugas KPPS yang sakit ataupun meninggal dunia tidak hanya disebabkan faktor kelelahan, tetapi ada pula yang terkena serangan jantung.

Ia mengakui, pekerjaan sebagai penyelenggara pemilu sangat berat dan menguras tenaga.

Baca Juga: KPU Akan Santuni Petugas KPPS yang Sakit hingga Meninggal Dunia

5. Aksi solidaritas untuk para petugas KPPS

Para relawan Jokowi, sedang menyalakan lilin di depan Kantor KPU NTT, Minggu (21/4/2019) malamKOMPAS.com/SIGIRANUS MARUTHO BERE Para relawan Jokowi, sedang menyalakan lilin di depan Kantor KPU NTT, Minggu (21/4/2019) malam

Puluhan relawan Jokowi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar aksi menyalakan 1.000 lilin dan doa bersama di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi NTT, Minggu (21/4/2019).

Sebelum menggelar aksi doa bersama dan menyalakan lilin, para relawan ini menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya".

Para relawan Jokowi ini terdiri dari BaraJP NTT, Pospera NTT, Seknas Jokowi NTT, Bravo5 NTT, Jenggala Center, RJI (Relawan Jokowi Indonesia), SOJO (Solidaritas Jokowi, Teman Jokowi, ULTRAS untuk Jokowi dan RELIJI.

Koordinator aksi, Hildebertus Selly kepada Kompas.com di sela-sela aksi mengatakan, pihaknya mendoakan arwah petugas KPPS dan anggota Polri yang meninggal dunia dalam menjalankan tugas selama pemungutan dan penghitungan suara pada pemilu serentak kemarin.

"Mereka adalah pahlawan demokrasi Indonesia yang mesti mendapatkan penghormatan dan penghargaan atas baktinya bagi Indonesia," ujar Selly.

Baca Juga: 1.000 Lilin untuk Petugas KPPS dan Polisi yang Gugur saat Bertugas

Sumber: KOMPAS.com (Sigiranus Marutho Bere, Putra Prima Perdana, Fitria Chusna Farisa, Wijaya Kusuma)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

7 Fakta Remaja 17 Tahun Jadi Tulang Punggung karena Ayah dan Ibu Tewas Digigit Ular, Kerja Serabutan Agar Adik Tetap Sekolah

7 Fakta Remaja 17 Tahun Jadi Tulang Punggung karena Ayah dan Ibu Tewas Digigit Ular, Kerja Serabutan Agar Adik Tetap Sekolah

Regional
Perusahaan China Siap Investasi Rp 2 Triliun di Aerocity Kertajati

Perusahaan China Siap Investasi Rp 2 Triliun di Aerocity Kertajati

Regional
Kesal Ditagih Utang Minuman Arak, Pemuda Bunuh Kakek dan Lari ke Depok

Kesal Ditagih Utang Minuman Arak, Pemuda Bunuh Kakek dan Lari ke Depok

Regional
Atasi Anak Kecanduan Gawai, Indonesia Harus Belajar ke Jepang

Atasi Anak Kecanduan Gawai, Indonesia Harus Belajar ke Jepang

Regional
Ratusan Personel TNI-Polri Siaga di Mimika Jelang Pelantikan Presiden

Ratusan Personel TNI-Polri Siaga di Mimika Jelang Pelantikan Presiden

Regional
Pasutri Tewas Digigit Ular, Ini Cerita Warga

Pasutri Tewas Digigit Ular, Ini Cerita Warga

Regional
19 Tahun Hidup di 'Dunia Malam' Lokalisasi Sunan Kuning: Saya Sudah Betah di Sini...

19 Tahun Hidup di "Dunia Malam" Lokalisasi Sunan Kuning: Saya Sudah Betah di Sini...

Regional
Kabupaten Lingga Kembali Diselimuti Kabut Asap Kiriman dari Jambi

Kabupaten Lingga Kembali Diselimuti Kabut Asap Kiriman dari Jambi

Regional
Mengenal Sunan Kuning Penyebar Agama Islam di Semarang, Makamnya Ada di Komplek Lokalisasi

Mengenal Sunan Kuning Penyebar Agama Islam di Semarang, Makamnya Ada di Komplek Lokalisasi

Regional
[POPULER NUSANTARA] Gara-gara Pilkades, Warga Boikot Hajatan | Kasus Motivator Tempeleng 10 Siswa

[POPULER NUSANTARA] Gara-gara Pilkades, Warga Boikot Hajatan | Kasus Motivator Tempeleng 10 Siswa

Regional
Tengok Rumah Pasutri yang Tewas Digigit Ular, Bupati Cianjur Jamin Masa Depan Anak-anak Korban

Tengok Rumah Pasutri yang Tewas Digigit Ular, Bupati Cianjur Jamin Masa Depan Anak-anak Korban

Regional
Sejarah Lokalisasi Sunan Kuning yang Ditutup Pemkot Semarang, Diresmikan Tahun 1966 oleh Wali Kota

Sejarah Lokalisasi Sunan Kuning yang Ditutup Pemkot Semarang, Diresmikan Tahun 1966 oleh Wali Kota

Regional
Fakta di Balik Tini Diboikot Warga gara-gara Beda Pilihan Pilkades di Sragen

Fakta di Balik Tini Diboikot Warga gara-gara Beda Pilihan Pilkades di Sragen

Regional
Fakta Lengkap Motivator Tempeleng Siswa, Korban Jadi 10 hingga Pelaku Minta Maaf

Fakta Lengkap Motivator Tempeleng Siswa, Korban Jadi 10 hingga Pelaku Minta Maaf

Regional
Cerita di Balik Penutupan Lokalisasi Sunan Kuning, Berdiri Sejak 53 Tahun dengan Omzet 1 Miliar Per Malam

Cerita di Balik Penutupan Lokalisasi Sunan Kuning, Berdiri Sejak 53 Tahun dengan Omzet 1 Miliar Per Malam

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X