Nelayan Lere Korban Tsunami Palu Menolak Direlokasi, Ini Alasannya

Kompas.com - 11/04/2019, 08:00 WIB
Para nelayan Lere, saling baku bantu, benahi perahu yang bocor, Rabu (10/4/2019). KOMPAS.com/ERNA DWI Para nelayan Lere, saling baku bantu, benahi perahu yang bocor, Rabu (10/4/2019).

PALU, KOMPAS.com – Sejumlah nelayan teluk Palu, siang itu terlihat tengah memperbaiki perahunya yang bocor. Mereka merupakan warga Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, Sulawesi Tengah.

Saat gelombang tsunami menghantam wilayah pesisir teluk Palu 28 September 2018 lalu, tak hanya rumah yang porak poranda, perahu mereka sebagai alat untuk mencari ikan hancur tak berbentuk lagi.

Beruntung, pemerintah kota Palu, memberikan bantuan sejumlah perahu untuk nelayan. Namun sayang, baru sebulan dibagi ke masyarakat nelayan, perahu tersebut sudah pada bocor. Itulah kemudian kenapa para nelayan tersebut akhirnya menambalnya.

Baca juga: 2 Bulan Setelah Gempa dan Tsunami, Nelayan Palu Mulai Berbenah

Permasalahan yang dihadapi masyarakat nelayan ini, tak hanya soal perahu, melainkan juga rencana pemerintah kota Palu merelokasi warga Lere ke dataran tinggi. Tepatnya di Kelurahan Tondo.

Rencana pemerintah tentu saja menjadi perlawanan warga. Mereka menolak direlokasi.

“Saya ini sudah melaut sejak masih kelas 5 SD sampai sekarang. Sudah 30 tahun saya ini jadi nelayan. Bagaimana mungkin saya mau tinggal jauh dari laut,” kata Mohan (47), kepada Kompas.com, Rabu (10/4/2019).

Tak hanya Mohan, Zakir (60) juga mengaku hal yang sama. Ia pun mengaku sejak lahir sudah orang tua dan keluarga lainnya tinggal di Kelurahan Lere. Berprofesi sebagai nelayan, buat Zakir dan Mohon sudah mendarahdaging.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Lahan 320 Hektar untuk Relokasi Warga Sulteng

Kini sudah lebih dari setengah tahun, mereka tinggal di shelter pengungsian di Jalan Pangeran Diponegoro. Tentu tak mudah bagi para nelayan ini beralih profesi.

Dengan kondisi yang tidak menentu, para nelayan teluk Palu ini terus bangkit. Mereka harus kembali melaut untuk menghidupi anak dan istri. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani mengatakan bahwa pemerintah sudah menyiapkan lahan seluas 320 hektar untuk menjadi tempat relokasi para korban terdampak bencana di Sulawesi Tengah.

Relokasi tersebut ditujukan kepada masyarakat yang tinggal di daerah sesar gempa, rawan likuefaksi, dan berpotensi bencana lainnya.

Baca juga: Sejumlah Permukiman Warga Terdampak Gempa di Sulteng Akan Direlokasi

"Pemerintah sudah akan menyiapkan tanah kurang lebih 320 hektar di satu tempat," ujar Puan di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Kamis (4/10/2018).

Kawasan relokasi kemungkinan berjarak sekitar 20 kilometer dari lokasi yang ditempati warga saat ini.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Positif Covid-19, Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man Jalani Karantina Mandiri

Positif Covid-19, Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man Jalani Karantina Mandiri

Regional
Ada Gugatan di MK, Pemenang Pilkada Rembang dan Purworejo Belum Ditetapkan

Ada Gugatan di MK, Pemenang Pilkada Rembang dan Purworejo Belum Ditetapkan

Regional
Cekoki Miras ke Bayi 4 Bulan, Seorang Pria di Gorontalo Ditangkap

Cekoki Miras ke Bayi 4 Bulan, Seorang Pria di Gorontalo Ditangkap

Regional
Polisi Ungkap Kasus Jual Beli Ribuan Benih Lobster Ilegal, 2 Pelaku Ditangkap

Polisi Ungkap Kasus Jual Beli Ribuan Benih Lobster Ilegal, 2 Pelaku Ditangkap

Regional
Tangan Sudah Diborgol, Bandar Narkoba Ini Nekat Lompat ke Danau

Tangan Sudah Diborgol, Bandar Narkoba Ini Nekat Lompat ke Danau

Regional
Truk Pembawa Minuman Kemasan Terguling di Tawangmangu, Muatannya Dijarah Warga

Truk Pembawa Minuman Kemasan Terguling di Tawangmangu, Muatannya Dijarah Warga

Regional
Kisah Tragis Bocah 14 Tahun Dipukul Ayahnya dengan Sapu hingga Gagangnya Patah, Berawal dari Pinjam Motor

Kisah Tragis Bocah 14 Tahun Dipukul Ayahnya dengan Sapu hingga Gagangnya Patah, Berawal dari Pinjam Motor

Regional
Siswi Non-Muslim di Padang Wajib Pakai Jilbab, Kadisdik: Itu Kebijakan Lama, Akan Dievaluasi

Siswi Non-Muslim di Padang Wajib Pakai Jilbab, Kadisdik: Itu Kebijakan Lama, Akan Dievaluasi

Regional
Jadi Penyintas Covid-19, Bupati Lumajang Thoriqul Haq Sumbangkan Plasma Darah

Jadi Penyintas Covid-19, Bupati Lumajang Thoriqul Haq Sumbangkan Plasma Darah

Regional
Petani di Jambi Resah, Terancam Gagal Panen gara-gara Pupuk Oplosan

Petani di Jambi Resah, Terancam Gagal Panen gara-gara Pupuk Oplosan

Regional
Seberangi Sungai Cimanuk dengan Jeriken, Warga Sumedang Hilang Terseret Arus

Seberangi Sungai Cimanuk dengan Jeriken, Warga Sumedang Hilang Terseret Arus

Regional
Balas Dendam Pernah Dianiaya, Pria Asal Cianjur Tebas Tangan Korban hingga Putus

Balas Dendam Pernah Dianiaya, Pria Asal Cianjur Tebas Tangan Korban hingga Putus

Regional
Kapolda Babel Akhirnya Disuntik Vaksin Covid-19, Sempat Batal gara-gara Gula Darah Naik

Kapolda Babel Akhirnya Disuntik Vaksin Covid-19, Sempat Batal gara-gara Gula Darah Naik

Regional
Cerita Nakes Disuntik Vaksin Covid-19, Awalnya Sempat Ragu karena Punya Sakit Jantung

Cerita Nakes Disuntik Vaksin Covid-19, Awalnya Sempat Ragu karena Punya Sakit Jantung

Regional
Untuk Topang Perekonomian, Produksi Migas di Sekitar Jabar Ditingkatkan

Untuk Topang Perekonomian, Produksi Migas di Sekitar Jabar Ditingkatkan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X